RI Bersiap! 80% Investor Yakin Fed Naikkan Bunga di Juni 2022

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 November 2021 12:07
Federal Reserve Chair Jerome Powell removes his glasses as he listens to a question during a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed) merilis notula rapat kebijakan moneter edisi November pada Kamis (25/11) dini hari tadi. Pasca rilis notula dan data inflasi AS, sebanyak 80% pelaku pasar kini yakin The Fed akan menaikkan suku bunga di bulan Juni 2022, lebih cepat dari prediksi sebelumnya di semester II-2022.

Hal tersebut terlihat dari perangkat FedWatch milik CME Group, dimana ada probabilitas sebesar 19,5% saja The Fed mempertahankan suku bunga di 0% - 0,25%. Sementara probabilitas menaikkan suku bunga lebih dari 80%, yang dibagi menjadi beberapa basis poin kenaikan.

Untuk kenaikan 25 basis poin (0,25%) menjadi 0,25% - 0,5% probabilitasnya paling tinggi, yakni sebesar 43,4%. Kemudian kenaikan 50 basis poin peluangnya sebesar 30%.


fedwatchFoto: CME Group


Meski demikian, patut dicatat jika probabilitas tersebut sangat volatil alias cepat berubah, dan sangat tergantung dari sinyal-sinyal yang diberikan The Fed.

Tingginya probabilitas kenaikan suku bunga tersebut tidak lepas dari tingginya inflasi di Amerika Serikat. Data terbaru yang dirilis kemarin menunjukkan inflasi yang dilihat dari personal consumption expenditure (PCE) melesat 5% year-on-year (YoY) di bulan Oktober. Rilis tersebut menjadi yang tertinggi sejak November 1990.

Sementara inflasi inti PCE yang tidak memasukkan item energi dan makanan dalam perhitungan tumbuh 4,1% YoY, lebih tinggi dari bulan September 3,6% YoY, dan sesuai dengan prediksi Reuters. Inflasi yang menjadi acuan The Fed dalam menetapkan kebijakan moneter ini berada di level tertinggi sejak Januari 1991.

Selain itu, sejak pekan lalu beberapa pejabat elit The Fed juga menyuarakan agar tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) yang mulai dilakukan bulan ini untuk agar dipercepat saja, sehingga bisa menaikkan suku bunga di kuartal II-2022.

Rilis notula The Fed dini hari tadi juga mengkonfirmasi hal tersebut, dimana ada catatan yang menunjukkan para anggota dewan siap menaikkan suku bunga lebih awal jika inflasi terus meningkat.

"Banyak anggota melihat komite pembuat kebijakan moneter harus menyiapkan penyesuaian laju pembelian aset dan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang perkirakan saat ini jika inflasi terus lebih tinggi di atas target bank sentral," tulis notula tersebut, sebagaimana dilansir CNBC International, Rabu (24/11).

Dalam pengumuman kebijakan moneter awal bulan ini, The Fed mengumumkan mulai melakukan tapering sebesar US$ 15 miliar setiap bulannya.

"Beberapa anggota mengusulkan pengurangan nilai pembelian aset sebesar US$ 15 miliar setiap bulannya akan tepat, sehingga anggota komite akan berada pada posisi yang lebih baik untuk menyesuaikan suku bunga," tulis notula The Fed.

Pernyataan tersebut menyiratkan The Fed baru akan menaikkan suku bunga di semester II-2022. Sebab tapering dimulai bulan ini, dengan nilai QE saat ini sebesar US$ 120 miliar, maka perlu waktu 8 bulan hingga menjadi nol, atau QE berakhir pada bulan Juni tahun depan.

Tidak seperti tahun 2013, tapering kali ini tidak menimbulkan gejolak di pasar finansial global termasuk Indonesia, yang dikenal dengan istilah taper tantrum. Tetapi patut waspada kemungkinan terjadinya taper tantrum jika The Fed mempercepat laju tapering, yang bisa menjadi sinyal suku bunga akan dinaikkan pada kuartal II-2022.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading