Kena 'Prank' Omicron, Saham Farmasi & Rumah Sakit Rontok

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
30 November 2021 10:07
Sejumlah warga berbincang dengan latar belakang Gedung Wisma Atlet, Kemayoran yang gelap, Selasa (23/11/2021). Jumlah pasien di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, terus berkurang dalam beberapa waktu terakhir.
Dari pantauan CNBC Indonesia dilokasi hanya beberapa keluarga yang datang hilir mudik untuk menjemput keluarga pasien Covid-19 yang memang sudah terindikasi negatif dan diizinkan untuk pulang. 
Menurut penjaga pintu darurat yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten sektor kesehatan, yakni farmasi dan pengelola rumah sakit (RS), melorot ke zona merah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (30/11), setelah banyak diborong oleh investor pada Senin kemarin (29/11) seiring kabar kemunculan varian anyar Covid-19 bernama Omicron.

Indeks sektor kesehatan (IDXHEALTH) menempati peringkat kedua indeks sektoral yang paling ambles pagi ini, yakni minus 0,41%.

Berikut pelemahan saham farmasi berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.36 WIB.


  1. Kimia Farma (KAEF), saham -1,95%, ke Rp 2.520/saham

  2. Pyridam Farma (PYFA), -1,90%, ke Rp 1.030/saham

  3. Indofarma (INAF), -1,60%, ke Rp 2.460/saham

  4. Itama Ranoraya (IRRA), -0,80%, ke Rp 1.860/saham

  5. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO), -0,55%, ke Rp 910/saham

  6. Darya-Varia Laboratoria (DVLA), -0,36%, ke Rp 2.800/saham

  7. Kalbe Farma (KLBF), -0,31%, ke Rp 1.600/saham

Menurut data di atas, saham emiten pelat merah KAEF memimpin koreksi sebesar 1,95%, setelah melonjak 6,64% kemarin. Dalam sepekan, saham KAEF masih naik 3,31%, sedangkan dalam sebulan terapresiasi 2,88%.

Kedua, saham PYFA tercatat turun 1,90% ke Rp 1.030/saham, usai naik 2,94% pada perdagangan awal pekan alias Senin kemarin.

Saham emiten pelat merah lainnya, INAF, juga terkena aksi ambil untung (profit taking) dengan minus 1,60%. Kemarin, saham INAF ditutup melesat 5,38%.

Kemudian, berikut saham-saham pengelola RS yang melemah pagi ini.

  1. Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ), saham -3,26%, ke Rp 416/saham

  2. Siloam International Hospitals (SILO), -3,12%, ke Rp 10.075/saham

  3. Bundamedik (BMHS), -2,29%, ke Rp 855/saham

  4. Sarana Meditama Metropolitan (SAME), -1,90%, ke Rp 414/saham

  5. Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA), -0,85%, ke Rp 2.340/saham

  6. Medikaloka Hermina (HEAL), -0,51%, ke Rp 975/saham

Saham emiten pengelola RS Mayapada SRAJ ambles 3,26%, setelah naik dalam 3 hari beruntun. Dalam seminggu, saham SRAJ masih naik 1,97% dan dalam sebulan melesat 11,89%.

Kemudian, saham Grup Lippo pengelola RS Siloam SILO melorot 3,12% ke Rp 10.075/saham, melanjutkan pelemahan 4,15% pada Senin kemarin. Sebelumnya, saham SILO diborong investor selama 2 hari beruntun, yakni pada Kamis (25/11) dan Jumat (26/11) pekan lalu, masing-masing sebesar 5,98% dan 11,28%.

Setali tiga uang, saham BMHS dan SAME juga masing-masing terbenam di zona merah hingga minus 2,29% dan 1,90% setelah setidaknya pada kemarin naik ke zona hijau.

Kekhawatiran akan varian baru Covid-19 Omicron yang menghantui pasar tampaknya mulai mereda. Hal ini terlihat dari mulai menguatnya bursa saham utama di Amerika Serikat (AS).

Pada penutupan perdagangan Senin waktu AS, indeks Dow Jones Industrial naik 236,6 poin menjadi 35.135,94. Kemudian indeks S&P 500 menguat 1,3% menjadi 4.655,27, dan Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi juga terapresiasi 1,9% menjadi 15.782,83.

Biden mengatakan pada Senin (29/11) bahwa pemerintah AS tidak memberlakukan kebijakan lockdown terkait Omicron untuk saat ini dan dia mendesak orang Amerika untuk tidak panik tentang varian tersebut.

"Jika orang divaksinasi dan memakai masker mereka, tidak perlu lockdown," kata Biden pada konferensi pers Senin (29/11/2021) dilansir dari CNBC International.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun menguat 0,26%, melanjutkan kenaikan 0,71% pada Senin kemarin. Pada Jumat (26/11) bursa global, termasuk Tanah Air, mengalami aksi jual besar-besaran (sell-off) seiring adanya kabar soal galur baru Covid-19 Omicron.

Sementara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi peringatan terbaru soal varian virus corona (Covid-19) Omicron. Varian itu kemungkinan akan menyebar lebih jauh, menimbulkan risiko global yang sangat tinggi dan memiliki "konsekuensi parah" untuk beberapa wilayah.

"Mengingat mutasi ini memiliki potensi kekebalan dan kemungkinan penularan massif, ada kemungkinan potensi penyebaran Omicron lebih lanjut di tingkat global tinggi," kata WHO dalam penilaian risikonya dalam penjelasan teknis kepada 194 negara anggotanya, mengutip AFP, Senin (29/11/2021).

WHO mengatakan butuh waktu berminggu-minggu untuk memahami bagaimana varian tersebut dapat memengaruhi diagnostik, terapi dan vaksin. Namun bukti awal menunjukkan varian ini bisa menginfeksi ulang.

Omicron diyakini muncul pertama kali di Botswana. Namun, kemudian berkembang di komunitas di Afrika Selatan (Afsel) hingga akhirnya dilaporkan oleh ilmuwan pertama kali pada pekan lalu.

Di luar Afrika, kasus Covid-19 Omicron ditemukan di sejumlah negara misal Inggris, Prancis, Israel, Belgia, Belanda, Jerman, Italia , Australia, Kanada, dan Hong Kong. Sejumlah negara melakukan pembatasan lalu lintas internasional karena ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Beda Nasib, PPKM Level 3 Batal Saham Farmasi & RS 'Dibuang'


(adf/adf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading