Waspada! Restrukturisasi Kerek Risiko Kredit Bank Kelas Kakap

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
11 November 2021 12:10
kolase foto/ BCA, BRI, Mandiri, BNI / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan restrukturisasi kredit bagi industri perbankan harus diwaspadai dengan meningkatnya loan at risk (LAR), terutama bank-bank besar tanah air.

Kebijakan ini berimbas pada meningkatnya LAR seperti di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di mana dari total portolio kredit, sekitar 30% merupakan kredit yang direstrukturisasi.

Direktur Manajemen Risiko, Agus Sudiarto mengungkapkan, pandemi penyebabkan meningkatnya risiko kredit.


Hal ini menyebabkan banyaknya debitur BRI yang kreditnya harus direstrukturisasi karena kegiatan usaha tak berjalan seperti biasanya. Terlebih lagi, sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) paling terdampak pagebluk.

"Risiko kredit di masa pandemi pasti semua bank alami, debitur yang kita restrukturisasi jadi sangat banyak. Kami ada portofolio di UMKM yang paling terdampak. Per September, 30% dari portofolio yang direstrukturisasi," ujar Agus, dalam webinar yang diselenggarakan Pefindo Biro Kredit.

Meski risiko kredit meningkat, Agus menilai, tidak semuanya berpotensi menjadi rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Dia menuturkan LAR BRI saat ini sudah turun ke angka 25%. Dari jumlah itu, yang menjadi NPL mencapai 3,2%.

"Yang menjadi NPL baru 3,2%, ini musti kita jaga, jangan sampai sisanya 20% sisa jadi NPL, kita terus monitor ketat, kualitas kredit dan portofolio terus terjaga," kata Agus menambahkan.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), Alexandra Askandar juga mengungkapkan, pada September tahun lalu, perseroan mengalami kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) di angka 4,43%.

Namun, perseroan sudah mengantisipasinya hal dengan penambahan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) agar tidak terjadi pemburukan kualitas aset.

Seperti diketahui, per September 2021 secara year to date, perseroan telah membukukan biaya CKPN secara konsolidasi sebesar Rp 16,4 triliun.

"Di September 2021, NPL menunjukkan penurunan 3,82%, peningkatan LAR kami antispais dnegan penambahan CKPN secara bertahap," kata Alexandra.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

OJK Pamer Restrukturisasi Kredit 2021 Menurun


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading