Mulai Pulih, Restrukturisasi Kredit Bank Mandiri Sisa Rp 90 T

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
28 October 2021 19:00
Paparan publik kinerja Bank Mandiri 28 Oktober 2021, dok BMRI

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat nilai kredit yang direstrukturisasi hingga akhir September 2021 terus turun dengan outstanding kredit saat ini tinggal Rp 90,1 triliun, dari akhir tahun 2020 lalu yakni sebesar Rp 93,3 triliun.

Manajemen memperkirakan di akhir tahun ini, nilai kredit yang sudah direstrukturisasi ini akan berada di posisi Rp 80 triliun-Rp 85 triliun.

Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan penurunan nilai restrukturisasi ini terjadi karena didukung dengan semakin membaiknya kondisi Covid-19 sehingga para debitur juga telah mengalami recovery bisnis atau melunasi pinjamannya.


"Tren restrukturisasi sampai September 2021 portofolio restrukturisasi telah turun sebesar Rp 6,4 triliun menjadi Rp 90,1 triliun dibanding Juni 2021. Penurunan ini disebabkan karena sudah melunasi pembayaran atau mencicil pembayarannya karena sudah recover," kata Ahmad dalam konferensi pers kinerja Bank Mandiri kuartal III-2021, Kamis (28/10/2021).

Adapun restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 juga terus menunjukkan tren yang melandai seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi.

Berdasarkan sektor, sektor yang memiliki nilai restrukturisasi paling besar adalah jasa konstruksi dan infrastruktur dengan nilai Rp 2,1 triliun.

Lalu sektor hotel, restoran dan akomodasi menyumbang sebesar Rp 7 triliun. Sektor jasa transportasi dan energi & air sama berkontribusi Rp 6 triliun pada program restrukturisasi ini.

Sektor perdagangan eceran makanan, minuman dan rokok menyumbang sebesar Rp 4,8 triliun.

Hingga September 2021 lalu, nilai restrukturisasi kredit ini mayoritas masih didominasi oleh segmen non-UMKM dengan nilai Rp 69,3 triliun, sedangkan segmen UMKM menyumbang 20,8 triliun.

Per September 2021, Mandiri berhasil mencatatkan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan melalui eksekusi strategi bisnis yang konsisten dengan mengusung peran teknologi di depan.

Hasilnya, perseroan mampu mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp 19,23 triliun, tumbuh 37,1% secara year on year (YoY) dari sebelumnya Rp 14,03 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Efek Covid-19, Bisnis Perbankan Baru Terganggu Pasca Lebaran


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading