Bursa Asia Hijau, IHSG Cetak Rekor Tertinggi Besok?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 October 2021 17:00
Passersby are reflected on a stock quotation board outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa saham Asia menghijau pada perdagangan Rabu (20/10), bahkan ada yang melesat lebih dari 1%. Sementara itu, pasar saham dalam negeri libur Hari Raya Maulid Nabi hari ini. Seandainya tidak libur, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tentunya juga berpeluang menguat.

Kemarin IHSG tercatat melemah tipis 0,04% ke 6.655,999, tetapi dengan investor asing yang masih memborong saham, bisa menjadi indikasi pelemahan terjadi akibat aksi profit taking. Tercatat investor asing melakukan aksi beli bersih sebesar Rp 654,14 miliar kemarin.

Pelemahan tipis kemarin merupakan yang pertama kali setelah reli selama 5 hari beruntun. Reli tersebut membuat IHSG kini hanya berjarak 0,56% dengan rekor tertinggi sepanjang masa 6.693,466 yang dicapai pada 20 Februari 2018. Artinya, peluang untuk memecahkan rekor tertinggi terbuka lebar seandainya IHSG tidak libur, dan peluang tersebut masih terjaga Kamis (21/10) besok.


Balik lagi ke bursa Asia, indeks Hang Seng Hong Kong hari ini memimpin penguatan sebesar 1,35%, kemudian Nikkei Jepang naik 0,14%. Indeks Shanghai Composite China dan Kospi Korea Selatan masing-masing melemah 0,17% dan 0,53%.

Bursa saham tetangga, FTSE Malaysia dan Straits Times Singapura hari ini stagnan. Kemudian indeks SET Thailand menguat 0,43% begitu juga dengan bursa Filipina yang naik 0,42%.

Perhatian hari ini kembali tertuju ke China. Bank sentral China (PBoC) hari ini mempertahankan suku bunga pinjaman (loan prime rate/LPR) tenor 1 tahun sebesar 3,85% dan tenor 5 tahun 4,65%. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi analis dan pelaku pasar yang disurvei oleh Reuters.

Tidak ada pelonggaran moneter di China meski perekonomiannya sedang mengalami pelambatan.

Biro Statistik Nasional China awal pekan lalu melaporkan pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari produk domestik bruto (PDB) tumbuh 4,9% melambat signifikan dari kuartal II-2021 sebesar 7,9%, dan di bawah prediksi analis yang disurvei Reuters sebesar 5,2%.

"Memasuki kuartal III-2021, risiko dan tantangan dari dalam serta luar negeri telah meningkat," kata Fu Linghui, juru bicara Biro Statistik Nasional, sebagaimana dilansir CNBC International.

Fu Linghui mengatakan krisis listrik yang terjadi di China beberapa pekan terakhir berperan terhadap tingkat produksi, tetapi masih terkontrol. Banyak pabrik terpaksa menghentikan produksinya di bulan September akibat krisis listrik.

Selain krisis energi, sektor properti China sedang menjadi sorotan setelah munculnya kasus Evergrande Group.

Sementara itu dari dalam negeri, kabar baik terus berdatangan yang bisa menopang penguatan IHSG. Sudah 5 hari beruntun penambahan kasus penyakit akibat virus corona di bawah 1.000 orang. Pemerintah juga kembali memberikan pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) dalam pengumuman kebijakan moneter kemarin memperkirakan transaksi berjalan di kuartal III-2021 akan mengalami surplus. Sehingga bisa memperkuat fundamental Indonesia.

Untuk sepanjang 2021, transaksi berjalan diperkirakan masih akan defisit tetapi lebih baik dari proyeksi sebelumnya.

"Ke depan, defisit transaksi berjalan akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya menjadi kisaran 0-0,8% dari PDB pada 2021. Defisit transaksi berjalan tetap akan rendah pada 2022 sehingga mendukung ketahanan eksternal Indonesia," terang Gubernur BI, Perry Warjiyo, Selasa (19/10).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading