Internasional

Gawat! Eropa, China hingga India Dilanda Krisis Listrik Parah

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
13 October 2021 11:42
A general view of Tokyo is seen from a shuttle bus ahead of the 2020 Summer Olympics, Sunday, July 11, 2021, in Tokyo. (AP Photo/Jae C. Hong)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi sedang melanda sejumlah negara, baik di Eropa seperti Inggris hingga Asia seperti China dan India. Sejumlah negara tersebut mayoritas mengalami krisis listrik, akibat dari melonjaknya harga gas alam dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Dilansir Reuters, di Eropa, harga gas alam kembali melonjak membuat lebih banyak utilitas untuk beralih ke batu bara dengan kandungan karbon tinggi untuk menghasilkan listrik, tepat ketika Eropa sedang giat-giatnya untuk mencoba menghentikan penggunaan bahan bakar yang berpolusi.

Meskipun harga batu bara dan karbon Eropa juga melonjak dalam beberapa bulan terakhir, namun keduanya telah memperlambat lonjakan harga gas yang menyebabkan biaya marjinal jangka pendek beralih ke penggunaan batu bara untuk menghasilkan listrik.


Harga karbon acuan yang diizinkan oleh European Union's Emissions Trading System (ETS) naik hampir dua kali lipat sejak awal tahun ini, sementara batu bara berjangka Eropa juga menguat lebih dari dua kali lipat.

Di lain sisi, pembangkit listrik berbahan bakar gas lebih murah untuk dioperasikan daripada pembangkit listrik berbahan batu bara karena biaya tambahan emisi karbon, tetapi itu berubah sekitar Juli tahun ini.

Harga gas yang tinggi juga telah mendorong peralihan ke minyak di Inggris, di mana batu bara menyumbang hanya 2% dari campuran listrik, dengan negara itu menghadapi pasokan listrik yang ketat pada musim dingin tahun ini.

Sementara itu di India, pemerintah setempat telah meminta kepada produsen listrik untuk mengimpor hingga 10% dari kebutuhan batu bara mereka.

Hal ini dilakukan di tengah kekurangan bahan bakar di India dan telah memperingatkan negara bagian bahwa perusahaan akan membatasi pasokan listrik mereka jika mereka kedapatan menjual listrik di bursa listrik untuk menguangkan kembali di saat harganya melonjak.

India merupakan produsen batu bara terbesar kedua di dunia, dengan cadangan terbesar keempat di dunia. Tetapi, melonjaknya permintaan listrik yang telah melampaui tingkat pra-pandemi membuat pasokan batu bara India yang dikelola negara tidak lagi cukup untuk memenuhi permintaan tersebut.

Pada Selasa (12/10/2021) kemarin, Kementerian Tenaga Listrik India, dilaporkan Reuters, meminta perusahaan atau industri yang bergantung pada batu bara lokal, untuk mengimpor hingga 10% dari kebutuhan batu bara untuk dicampur dengan kadar domestik untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik.

Lebih dari setengah dari 135 pembangkit listrik tenaga batu bara India memasok sekitar 70% listrik di India, saat ini memiliki stok bahan bakar yang akan bertahan kurang lebih tiga hari.

Adapun di Jepang, harga listrik telah naik ke level tertingginya dalam sembilan bulan terakhir pada pekan ini karena terpengaruh dari naiknya harga global minyak, gas alam cair, dan batu bara.

Pada Selasa kemarin, harga untuk pengiriman listrik jam sibuk di pasar spot mencapai 50 yen per kilowatt hour (kWh) atau US$ 0,44/kWh. Namun pada Senin (11/10/2021) lalu, harga listrik tersebut sempat menyentuh 50,01 yen/kWh, yang merupakan level tertinggi sejak Januari lalu.

Kenaikan harga listrik Jepang juga menghidupkan kembali sejarah musim dingin lalu, ketika harganya mencapai rekor tertinggi dan jaringan listrik Jepang hampir gagal dalam krisis energi terburuk bagi negara itu sejak bencana Fukushima.

Seperti pada musim dingin tahun lalu, kenaikan biaya untuk LNG dan batu bara mendorong kenaikan harga listrik di Jepang. Dengan suhu yang lebih dingin hanya beberapa pekan lagi, perusahaan besar Jepang telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah krisis serupa.

"Persediaan LNG telah ditambah dan kini di atas 2,4 juta ton, sekitar 600.000 ton lebih tinggi dari rata-rata empat tahun untuk tahun ini," kata Kementerian Industri Jepang, dikutip dari Reuters, Rabu ini (13/10).

Sementara itu di China, krisis energi di Negeri Panda diprediksi bakal makin parah. Pasalnya bencana banjir menghantam pusat produksi batu bara utama di China, Provinsi Shanxi.

Mengutip Biro Manajemen Darurat provinsi, hujan lebat memaksa penutupan 60 tambang batu bara di provinsi tersebut, di mana seperempat dari produksi 'emas hitam' dihasilkan. Sekitar 1.900 bangunan hancur dan 1,75 juta warga terkena dampak.

Hal ini membuat harga batu bara terma berjangka, terutama untuk menghasilkan listrik, melonjak ke level tertinggi sepanjang masa Senin (11/10/2021) lalu di pasar komoditas setempat Zhengzhou Commodity Excahnge. Harganya naik dua kali lipat sepanjang tahun ini, sebanyak 12% menjadi 1.408 yuan (US$ 219) per metrik ton.

Padahal batu bara adalah sumber energi utama di China, baik untuk pemanas, pembangkit listrik maupun pembuat baja. Tahun lalu, batu bara mendominasi total penggunaan energi China, hingga 60%.

Ini diyakini membuat listrik warga makin sulit di tengah musim dingin yang mulai melanda. Setidaknya krisis energi di China sudah melebar ke 20 provinsi dalam beberapa pekan terakhir dan menyebabkan penjatahan listrik oleh pemerintah baik ke konsumen rumah tangga ataupun industri.

Krisis energi, terutama listrik di sejumlah negara memang membuat pelaku pasar kembali khawatir, karena naiknya harga gas alam yang menjadi pemicu utamanya dapat menggerakkan harga energi lainnya seperti batu bara dan minyak.

Hal ini juga menjadi kekhawatiran yang berlanjut, di mana jika permintaan terus melonjak dan membuat harga juga terus melonjak, maka inflasi akan semakin tinggi dan tentunya akan berlangsung lama.

Jika inflasi global meninggi, maka sikap pelaku pasar global yang sebelumnya sempat optimis kini kembali pesimis.

Inflasi yang akan semakin meninggi pada tahun ini akan menjadi ketakutan pasar, karena pendapatan masyarakat saat ini belum sepenuhnya pulih akibat terdampak dari pandemi virus corona (Covid-19).


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading