AS, Eropa, China Dihantam Krisis Energi, Nasib RI Bagaimana?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
16 October 2021 14:00
17 provinsi dan wilayah telah terjadi beberapa bentuk pemadaman listrik. (REUTERS/TINGSHU WANG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi sedang melanda sejumlah negara, baik di Eropa, China, maupun India. Negara-negara yang kini dilanda krisis energi mayoritas mengalami krisis listrik, akibat dari melonjaknya harga gas alam dunia dan faktor lainnya dalam beberapa waktu terakhir.

Di China, Krisis pasokan listrik yang sedang terjadi memicu pemadaman listrik untuk rumah tangga dan memaksa pabrik untuk memangkas produksi.

Kondisi tersebut mengancam akan memperlambat kegiatan ekonomi raksasa negeri Tirai Bambu serta memberi tekanan terhadap rantai pasokan global.


Dilaporkan oleh Global Times, media yang dikendalikan pemerintah China, perusahaan-perusahaan di kota industri telah diberitahu untuk membatasi konsumsi energi demi mengurangi permintaan listrik.

Surat kabar yang dikelola pemerintah tersebut mengabarkan bahwa penjatahan listrik di provinsi Heilongjiang, Jilin dan Liaoning telah mengakibatkan gangguan besar pada kehidupan sehari-hari orang dan operasi bisnis dengan pemadaman listrik mendadak dan belum pernah terjadi sebelumnya melanda tiga provinsi timur laut pada akhir September lalu.

Selain itu kekurangan listrik juga melanda provinsi selatan Guangdong, pusat industri dan pengiriman utama sehingga banyak perusahaan berusaha mengurangi permintaan dengan bekerja dua atau tiga hari per minggu.

Krisis energi menambah daftar panjang gangguan rantai pasokan global yang telah terjadi secara besar-besaran tahun ini, mulai dari kekurangan peti kemas hingga banjir dan infeksi Covid-19 yang memicu penutupan pelabuhan.

Konsultan riset ekonomi yang berbasis di London, Capital Economics mencatat bahwa jumlah kapal yang antre di luar pelabuhan China telah melonjak lagi dalam beberapa pekan terakhir.

Lembaga ini menyebut kondisi tersebut "mengkhawatirkan."

Menurut perusahaan riset tersebut, rata-rata jumlah kapal yang antre dalam 7 hari pada 30 September mencapai 206, dibandingkan 82 kapal pada 2019, sebelum pandemi.

Julian Evans-Pritchard, ekonom senior China di perusahaan riset tersebut, mengatakan bahwa penjatahan listrik di sepanjang rantai pasokan dapat mengganggu dan memperparah kemampuan pelabuhan untuk mengirimkan pesanan.

Pemasok internasional utama bersiap untuk menghadapi dampak terhadap bisnis akibat penundaan yang disebabkan oleh kekurangan dan penundaan pengiriman global.

Negara-negara yang komoditas impornya bergantung pada China tentu akan terdampak akibat krisis yang sedang terjadi di negara tersebut.

Selain China yang mengalami krisis energi dan memaksa terjadinya pemadaman listrik di banyak pabrik, Eropa juga sedang bergulat dengan kekurangan gas besar-besaran.

Apa yang terjadi di kedua wilayah tersebut merupakan ancaman besar yang dapat secara luas mengganggu rantai pasokan secara global, menurut pengamat dan analis industri.

Beberapa pabrik di China dan Eropa untuk sementara ditutup atau setidaknya mengurangi produksi karena krisis energi.

Lebih dari 60 perusahaan di China telah mengalami gangguan terkait listrik sejauh ini, dan daftarnya kemungkinan akan bertambah, kata Jena Santoro dari Everstream Analytics, dilansir CNBC International, dikutip Kamis ini (14/10).

"Dampak terbesar akhirnya akan dirasakan oleh konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi karena harga energi yang meningkat akan mengalir ke dalam peningkatan biaya produksi," kata Dawn Tiura, Presiden Grup Industri Sourcing.

Sementara di India, pemerintah setempat telah meminta kepada produsen listrik untuk mengimpor hingga 10% dari kebutuhan batu bara mereka.

Hal ini dilakukan di tengah kekurangan bahan bakar di India dan telah memperingatkan negara bagian bahwa perusahaan akan membatasi pasokan listrik mereka jika mereka kedapatan menjual listrik di bursa listrik untuk menguangkan kembali disaat harganya melonjak.

India merupakan produsen batu bara terbesar kedua di dunia, dengan cadangan terbesar keempat di dunia. Tetapi, melonjaknya permintaan listrik yang telah melampaui tingkat pra-pandemi membuat pasokan batu bara India yang dikelola negara tidak lagi cukup untuk memenuhi permintaan tersebut.

Pada Selasa (12/10/2021) kemarin, Kementerian Tenaga Listrik India meminta perusahaan atau industri yang bergantung pada batu bara lokal, untuk mengimpor hingga 10% dari kebutuhan batu bara untuk dicampur dengan kadar domestik untuk memenuhi peningkatan permintaan listrik.

Lebih dari setengah dari 135 pembangkit listrik tenaga batu bara India memasok sekitar 70% listrik di India, saat ini memiliki stok bahan bakar yang akan bertahan kurang lebih tiga hari.

Halaman Selanjutnya >>> Bagaimana Nasib Indonesia?

Bagaimana Nasib Indonesia?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading