Rontok! Saham CPO Diobral, Kesempatan Ambil Untung Gede

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
12 October 2021 11:15
Pekerja mengangkut kelapa sawit kedalam jip di Perkebunan sawit di kawasan Candali Bogor, Jawa Barat, Senin (13/9/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten produsen minyak sawit (crude palm oil/CPO) ambles ke zona merah pada perdagangan pagi ini, Selasa (12/10/2021), setelah cenderung naik pada pekan lalu.

Berikut pergerakan saham sawit, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.44 WIB.

  1. Triputra Agro Persada (TAPG), saham -5,81%, ke Rp 730/saham


  2. Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), -2,40%, ke Rp 122/saham

  3. Eagle High Plantations (BWPT), -2,04%, ke Rp 96/saham

  4. Cisadane Sawit Raya (CSRA), -1,38%, ke Rp 430/saham

  5. Sampoerna Agro (SGRO), -0,78%, ke Rp 1.920/saham

  6. Astra Agro Lestari (AALI), -0,49%, ke Rp 10.200/saham

  7. Salim Ivomas Pratama (SIMP), -0,40%, ke Rp 492/saham

  8. PP London Sumatra Indonesia (LSIP), -0,35%, ke Rp 1.415/saham

Menurut data di atas, saham emiten milik pengusaha TP Rachmat TAPG menjadi yang paling ambles, yakni 5,81% ke Rp 730/saham. Dengan ini, saham TAPG sudah melemah selama 4 hari beruntun, setelah sempat melesat selama 4 hari berturut-turut.

Dalam sepekan saham TAPG anjlok 7,01%, tetapi dalam sebulan melejit 20,49%.

Kedua, saham Grup Bakrie UNSP turun 2,40% ke Rp 122/saham, setelah naik selama 2 hari terakhir. Kendati demikian, dalam sepekan saham ini masih minus 0,82%. Sementara, dalam sebulan naik 3,42%.

Ketiga, saham emiten milik BUMN Malaysia Felda dan Grup Rajawali BWPT terkoreksi 2,04% ke Rp 96/saham. Dalam sepekan saham ini turun 2,04%, sedangkan dalam sebulan melonjak 29,73%.

Di bawah BWPT, ada saham CSRA yang tergerus 1,38%, melanjutkan koreksi 3,11% pada perdagangan Senin.

Harga komoditas sawit sendiri kembali melemah pada perdagangan hari ini. Pada Selasa (12/10) pukul 10:55 WIB, harga CPO di Bursa Malaysia tercatat MYR 4.892/ton, turun 1,27% dibandingkan posisi penutupan Senin kemarin.

Sepertinya investor sedang mencairkan keuntungan yang didapat dari kontrak CPO. Maklum, dalam sepekan terakhir harga masih membukukan kenaikan 3,25% secara point-to-point.

Dalam sebulan ke belakang, harga CPO melesat 14,35%. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga meroket 31,36%.

Namun, sepertinya prospek harga CPO masih cerah. Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga CPO bisa melesat ke atas MYR 5.000/ton karena titik resistance MYR 4.910/ton sudah tertembus.

"Setelah menebus titik resistance MYR 4.910/ton, harga bisa naik ke kisaran MYR 5.196-5.276/ton," sebut Wang dalam risetnya.

Bahkan, lanjut Wang, ada proyeksi yang lebih optimistis. Saat titik resistance MYR 4.910/ton sudah tertembus, bukan tidak mungkin harga naik sampai ke MYR 5.341/ton.

Wang menilai saat ini harga CPO sedang mengarungi gelombang 5. Dalam kekuatan penuh, gelombang ini bisa membawa harga naik sampai ke rentang MYR 5.506-6.128/ton. Apabila harga benar-benar menyentuh 6.128/ton, maka ada lonjakan 24,12% dari posisi saat ini.

Kini, lanjut Wang, titik MYR 4.910/ton sudah menjadi titik support baru. Jika harga turun hingga menembus titik ini, maka ada peluang koreksi tipis ke MYR 4.824/ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading