Erick Sebut Ada Korupsi Laten, Terus Rencana IPO PTPN Gimana?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
30 September 2021 12:05
Menteri BUMN Erick Thohir (Dok: BUMN)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sempat menyebut bahwa kondisi yang saat ini dialami oleh perusahaan perkebunan yang tergabung dalam Holding BUMN Perkebunan, PT Perkebunan Nusantara (PTPN), karena adanya korupsi yang terselubung yang berlangsung sejak lama.

Korupsi ini menyebabkan perusahaan hingga kita menanggung beban utang yang tinggi. Sedangkan kinerjanya juga belum memuaskan dan sempat merugi. Beberapa PTPN bahkan masih mencatatkan tekanan kinerja.

Dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Erick menyebut aksi korupsi tersebut harus diungkap dan orang yang bertanggungjawab terhadap hal itu harus dituntut.


"Contoh di PTPN ada step-nya di mana step yang harus dilakukan ketika PTPN punya utang Rp 43 triliun dan ini merupakan penyakit lama dan kita sudah tahu dan ini suatu yang saya rasa korupsi terselubung, harus dibuka dan dituntut yang melakukan ini," kata Erick, Rabu (22/9/2021).

Selain itu, dia juga menyinggung mengenai operasional perusahaan ini. Pasalnya perusahaan ini mengelola lahan perkebunan yang luas, namun bisa mengalami tekanan dengan sempat merugi dan utang yang sangat besar, sedangkan perusahaan perkebunan swasta bisa dikatakan mencatatkan keuntungan.

Di tengah kondisi perusahaan perkebunan swasta untung, PTPN malah sibuk untuk mengurusi utangnya yang nilainya mencapai Rp 47 triliun.

"Nah yang luar biasa juga di PTPN, ini utangnya Rp 47 triliun. Padahal yang namanya industri kebun kelapa sawit, swasta tuh untung, ini malah utang ini kita perbaiki juga," kata Erick dalam webinar virtual, Selasa (28/9/2021).

Terlebih utang yang menggunung ini tidak hanya berasal dari kredit bank-bank Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara) dan bank swasta dalam negeri, namun juga berasal dari bank-bank asing.

Rencana IPO

Dalam kondisi perusahaan yang terjadi saat ini, induk holding tersebut, yakni PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN justru berencana untuk mengantar anak usahanya, PTPN V, ke lantai Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menurut Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara III Muhammad Abdul Ghani, rencananya perusahaan tersebut disiapkan untuk melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2023 mendatang. Langkah ini diambil untuk memenuhi pembiayaan perusahaan untuk memperluas area tanam.

"Mungkin 2023 kami coba untuk PTPN V, itu semua kami lakukan untuk memperluas area tanam dan industri hilir," kata dia, mengutip laman resmi perusahaan, Kamis (30/9/2021).

Rencana ini sebenarnya sudah ada sejak 1998 silam, namun ditunda karena kondisi pasar saat itu, hingga akhirnya direncanakan lagi 11 tahun kemudian atau pada 2019. Namun pada periode itu kondisi pasar juga kurang baik, tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah.

"Jadi ketika mau IPO, IHSG selalu bergerak jatuh, pada 1998, lalu 2008, lalu 2019. Jadi kami tunda terus," ungkapnya.

Upaya IPO ini dilakukan sejalan dengan fokus perusahaan untuk komoditas kelapa sawit dan tebu ke depannya. Dia menyebut, perusahaan akan mengonversi lahan karet untuk menjadi lahan untuk sawit dan tebu.

"Kami fokus pada dua komoditas, tebu dan sawit. Lahan karet kami kurangi, lahan teh kami perbaiki karena teh agak berat di Jawa Barat," tandasnya.

Abdul Ghani menyatakan saat ini perseroan sudah berhasil menorehkan kinerja positif pada semester I tahun ini. Tercatat laba bersih perusahaan melesat 227% atau mencapai Rp 1,45 triliun dari sebelumnya rugi dalam 2 tahun terakhir.

Hanya saja, kendati mulai pulih dan mencatat laba, manajemen PTPN III menyampaikan dengan torehan ini ternyata masih banyak anak usaha yang PTPN yang masih mengalami beban secara finansial.

"Beban finansial juga beragam, PTPN yang sehat itu hanya PTPN 3, PTPN 4, dan PTPN 5, lainnya punya persoalan finansial masing-masing," jelasnya dalam program Squawk Box bersama Aline Wiraatmadja, CNBC Indonesia, Kamis (16/9/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading