Review

Ini Dia Deretan 5 Saham 'Receh' Idola Para Investor!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
30 September 2021 11:25
Perusahaan ke 600 yang melantai di BEI (CNBC Indonesia/Fitriyah Said)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,03%, para investor cenderung memburu saham-saham lapis tiga atau saham-saham dengan nilai kapitalisasi di bawah Rp 500 miliar (small cap) dalam sebulan belakangan.

Berkat aksi borong investor tersebut, beberapa di antara saham-saham emiten 'cilik' itu melonjak hingga lebih dari 100%.

Memang, saham-saham small cap, karena memiliki volatilitas harga yang tinggi, acapkali menjadi incaran investor kakap dan spekulan saham lantaran bisa dengan mudah mempermainkan harganya atau dikenal dengan istilah 'menggoreng' saham.


Namun, terlepas dari volatilitasnya yang tinggi, kenaikan sejumlah saham kelas tiga (third liner) ini juga sebenarnya diikuti oleh sentimen positif.

Berikut tabel 5 besar saham third liner yang menjadi top gainers dalam sebulan belakangan, mengacu data BEI per Kamis ini (30/9):

5 Besar Saham Lapis Ketiga, Naik Tertinggi Sebulan

Emiten

Kode Saham

Perubahan 1 Bulan (%)

Market cap (Miliar rupiah)

Agro Yasa Lestari

AYLS

126.67

203.11

Perdana Karya Perkasa

PKPK

125.40

85.20

Cahaya Bintang Medan

CBMF

86.00

174.38

Borneo Olah Sarana Sukses

BOSS

66.67

155.40

Arkha Jayanti Persada

ARKA

66.60

166.00

Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI), RTI | Posisi terakhir per 30 September 2021, pukul 10.00 WIB

Menurut tabel yang bersumber dari data BEI di atas, terdapat saham emiten perdagangan jasa AYLS, dua emiten batu bara PKPK dan BOSS, emiten produsen furnitur rumah dan kantor CBMF, dan emiten manufaktur dan fabrikasi komponen alat-alat berat ARKA.

Saham AYLS memimpin tabel dengan 'terbang' 126,67% selama sebulan terakhir. Dengan lonjakan yang signifikan tersebut bursa akhirnya melakukan suspensi (penghentian sementara perdagangan) saham AYLS sejak Selasa (28/9) lalu. Hari ini pun saham AYLS masih 'digembok' oleh BEI.

"Bursa menghimbau kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perseroan," tulis BEI.

Pada 8 September lalu, manajemen AYLS sudah menanggapi soal volatilitas saham perusahaan lewat keterbukaan informasi di BEI. AYLS menjelaskan, perusahaan tidak mengetahui soal penyebab lonjakan saham perseroan dalam kurun waktu terakhir.

"Kami Perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan dan kami Perseroan juga tidak mengetahui jika ada informasi atau fakta material serta aktivitas oleh dan dari pemegang saham tertentu," jelas pihak AYLS, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (30/9).

Perusahaan juga menyatakan tidak ada rencana aksi korporasi setidaknya dalam 3 bulan ke depan.

Selain saham AYLS, ada saham PKPK yang melambung 125,40% dalam sebulan. Namun, hari ini, saham ini mengalami penurunan hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,58% setelah melesat beberapa hari belakangan. Saham PKPK juga sempat disuspensi bursa, yakni pada Rabu (29/9) kemarin seiring lonjakan harga yang luar biasa.

Setali tiga uang, saham BOSS pun sudah mendaki 66,67% dalam 30 hari terakhir. Pada hari ini, saham BOSS turun 1,80%, melanjutkan koreksi 6,72% pada perdagangan kemarin. Pelemahan dalam dua hari terakhir ini tampaknya didorong aksi ambil untung investor setelah saham BOSS sempat melonjak selama 3 hari beruntun.

Melejitnya saham PKPK dan BOSS akhir-akhir ini bersamaan dengan melesatnya saham-saham batu bara lainnya. Kenaikan saham batu bara didorong oleh reli harga komoditas batu bara yang berhasil melampaui level US$ 200/ton atau level tertinggi sejak 2008.

Kemarin, harga batu bara kembali melonjak ke US$ 209,85/ton. Batu bara adalah salah satu komoditas dengan kenaikan harga paling tajam tahun ini.

Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga si batu hitam meroket 163,35% secara point-to-point.

Harga gas yang semakin mahal ikut mengatrol harga batu bara. Dalam sepekan terakhir, harga gas alam di Henry Hub (Oklahoma) melonjak 13,57%. Secara year-to-date, harga melambung 114,93%.

Harga gas yang semakin mahal membuat biaya pembangkitan listrik dengan bahan bakar ini kian tidak ekonomis.

Tidak hanya duo batu bara, saham CBMF melejit 86,00% dalam sebulan ini. Namun, tampaknya, tren kenaikan saham CBMF mulai tersendat lantaran saham ini ambles selama 4 hari beruntun.

Investor tampaknya mulai melakukan aksi ambil untung setelah saham 'tidur' atau tidak likuid ini melonjak tinggi. Dalam sebulan terakhir saham CBMF stagnan sebanyak 7 kali.

Terakhir, saham ARKA juga berhasil melonjak 66,60% dalam sebulan. Namun, saham ini sedang mengalami tren pelemahan, yakni melemah selama 5 hari beruntun dengan persentase koreksi di atas 6% dan beberapa di antaranya menyentuh ARB 7%.

Saham ini tiba-tiba bangkit pada Rabu (15/9) dua pekan lalu setelah tidak bergerak selama lebih dari 5 bulan.

Saham ARKA terakhir kali bergerak pada 30 Maret 2021 ketika naik ke 2,00% ke Rp 51/saham, kemudian sehari setelahnya turun 1,96% ke level gocap alias Rp 50/saham.

Pada Kamis (23/9) minggu lalu, pihak bursa memberitahukan bahwa telah terjadi peningkatan harga saham ARKA yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity/UMA).

Sebelumnya, manajemen ARKA sendiri mengaku tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai saham perusahaan atau keputusan investasi pemodal.

ARKA juga menjelaskan bahwa perusahaan tidak memiliki rencana aksi korporasi setidaknya dalam 3 bulan ke depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading