Internasional

Waspada, Skandal Evergrande Ancam Ekonomi China

Market - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
22 September 2021 17:10
FILE PHOTO: Hui Ka Yan, chairman of Evergrande Real Estate Group Ltd, the country's second-largest property developer by sales, attends a news conference on annual results in Hong Kong, China March 29, 2016.      REUTERS/Bobby Yip/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis utang yang dialami raksasa properti China, Evergrande, telah menjadi ancaman bagi perekonomian Negeri Tirai Bambu. Pasalnya krisis itu akan menjadi sentimen buruk bagi beberapa proyek properti di negara itu.

Mengutip CNBC International, Li Daokui, mantan penasihat Bank Rakyat China, menyebut bahwa ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi China melalui efek domino yang cukup hebat. Evergrande sendiri saat ini berjuang untuk membayar supplier-nya dari beberapa bidang seperti cat, baja, dan lain sebagainya.


"Dampaknya pada ekonomi riil karena dengan default Evergrande, akan ada perlambatan dalam pengembangan banyak proyek," kata figur yang saat ini menjadi profesor di Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Tsinghua itu, dikutip Rabu (22/9/2021).

"Jadi pasar properti riil akan berdampak pada tingkat pertumbuhan PDB untuk tahun mendatang karena keuangan yang lebih lambat untuk seluruh sektor."

Selain itu, ia juga menambahkan bahwa akan ada dampak yang bakal dirasakan oleh para investor dalam menganalisis nilai asetnya.

"Saya pikir agak terlalu dini untuk memprediksi apa dampak bersih [dari krisis]. Saya akan mengatakan sekarang, dengan perhitungan kasar saya, satu basis poin pada pertumbuhan PDB ... jika semuanya terkendali mulai sekarang," tambahnya.

Evergrande sendiri mengalami ancaman gagal bayar senilai US$ 300 miliar atau Rp 4 ribu triliun. Analis menyebut hal ini terjadi lantaran perusahaan properti kedua terbesar China itu terlalu banyak meminjam uang sementara penjualan sektor properti sendiri sedang cukup bermasalah.

Arus kas berada di bawah "tekanan yang luar biasa". Evergrande juga mengatakan dua anak perusahaannya telah gagal memenuhi kewajiban penjaminan untuk produk manajemen senilai US$ 145juta atau setara Rp 2 triliun yang dikeluarkan pihak ketiga.

"Itu bisa menyebabkan cross-default," kata perusahaan dalam sebuah pernyataan kepada bursa saham Hong Kong.

Pemerintah China juga disebut turun tangan untuk mengumpulkan sekelompok ahli akuntansi dan hukum untuk memeriksa keuangan raksasa properti China Evergrande Group. Mengutip Al Jazeera, regulator di Provinsi Guangdong disebut telah mengirim tim dari King & Wood Mallesons, sebuah firma hukum yang spesialisasinya mencakup restrukturisasi.

Selain itu, atas perintah Beijing, mereka juga mengirimkan penasihat keuangan dan akuntan tambahan untuk menilai pengembang. Kebangkrutan tersebut berpotensi menjadi tsunami finansial atau seperti yang dikatakan beberapa analis, "Lehman Brothers China".


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading