Balada Saham Indosat, Dilego Megawati, Kini Merger dengan Tri

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
21 September 2021 07:00
Indosat

Babak baru yang paling diingat oleh banyak masyarakat Indonesia adalah keputusan divestasi saham Indosat yang dilaksanakan pemerintah dan dimenangkan oleh perusahaan negara tetangga, Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (ST Telemedia).

STT sahamnya dikuasai Temasek milik pemerintah Singapura.

Presiden Megawati Soekarnoputri (Presiden RI yang kelima, 23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004), saat itu menuai kritik pedas atas keputusan menjual saham BUMN telekomunikasi tersebut. Para kritik menganggap Indosat adalah aset strategis, selain itu Indosat juga dianggap sebagai BUMN yang menguntungkan.


Pada 15 Desember 2002, STT mengeluarkan dana US$ 630 juta atau Rp 5,62 triliun (kurs Rp 8.900/US$) untuk pembelian 41,94% saham yang setara 434.250.000 saham seharga Rp 12.950 per saham.

Kekesalan publik mencapai langit-langit setelah 5 tahun kemudian STT mendapat untung berlipat dengan menjual seluruh saham Indosat kepada Qatar Telecom QSC (Qtel).

Qatar merogoh dana SG$ 2,4 miliar (US$ 1,8 miliar) atau setara dengan Rp 16,740 triliun menggunakan kurs Rp 9.300/US$ untuk membeli saham Indosat dari tangan STT.

Beberapa bulan jelang penuntasan pembelian Qatar, saham Indosat sebenarnya mengalami tren pelemahan, tercatat selama 6 bulan saham ISAT menyusut 40% dari semula Rp 9.350 per saham pada 7 Desember 2007 menjadi Rp 5.650 pada 6 Juni 2021.

Meskipun demikian Qtel tetap membeli Indosat dari Singapura menggunakan harga premium yang mencapai Rp 7.388 per saham.

Qtel yang kala itu memiliki 44 juta konsumen di 16 negara, menyatakan akan membayar tunai pembelian tersebut. Qtel adalah perusahaan telekomunikasi terbesar di Timur Tengah yang jaringannya tersebar di Asia Pasifik, Amerika dan Eropa.

Setelah dibeli Qatar nama perusahaan berubah menjadi Indosat Ooredoo, kendati di BEI masih tercatat dengan nama PT Indosat Tbk.

Kini dalam babak paling baru, Indosat mengumumkan merger dengan perusahaan telekomunikasi asal Hong Kong, CK Hutchison Holdings Limited.

Merger ini menyebabkan CK Hutchison menerima saham baru di Indosat Ooredoo hingga 21,8% dari Indosat Ooredoo Hutchison.

Manajemen Ooredoo dan CK Hutchison menyatakan penggabungan bisnis telekomunikasi masing-masing perusahaan mereka bernilai US$ 6 miliar atau setara dengan Rp 86 triliun (kurs Rp 14.300/US$).

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading