Duh! Tapering Membuka Jalan Dolar AS Menuju Rp 15.000

Market - Maikel Jefriando, CNBC Indonesia
27 August 2021 12:30
M Chatib basri Foto: Detikcom/ Ari Saputra

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berada dalam kategori stabil di beberapa waktu terakhir. Akan tetapi seiring dengan menguatnya isu tapering di Amerika Serikat (AS), rupiah diperkirakan berada di atas level 15.000 per dolar AS.

Hal ini diungkapkan Chatib Basri, Ekonom Senior yang juga merupakan Mantan Menteri Keuangan saat berbincang dengan CNBC Indonesia, Jumat (27/8/2021)

"Perkiraan saya karena tapering kalau toh rupiah melemah, itu tidak akan setajam 2013, 2015 atau 2018. Tapi kalau ada kasus lain seperti covid yang melonjak mungkin bisa di atas 15.000," jelasnya.


Tahun 2013 menjadi situasi yang suram bagi perekonomian Indonesia. Rupiah menjadi salah satu korban keganasan taper tantrum kala itu. Sejak The Fed mengumumkan tapering Juni 2013 nilai tukar rupiah terus merosot hingga puncak pelemahan pada September 2015.

Di akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp 9.790/US$ sementara pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp 14.730/US$, artinya terjadi pelemahan lebih dari 50%.

Dibandingkan 2013, kondisi sekarang tentu berbeda. Perbedaan paling mencolok adalah porsi asing di pasar obligasi dalam negeri. Pada 2013 lalu porsi asing mencapai 40%, sehingga ketika ada pergerakan keluar masuk mempengaruhi nilai tukar hingga suku bunga acuan. Sementara sekarang porsi asing hanya sekitar 23%.

"Satu hal, outflow tahun lalu sudah besar, itu belum sepenuhnya capitalnya balik. Itu kelihatan dulu foregin holder di bond turun 32% ke 23%. Jadi ini berita bagus, kalau porsi asing makin kecil, efek ke rupiah juga terbatas," imbuhnya.

BI juga memiliki cadangan devisa yang cukup untuk melakukan stabilisasi, yaitu US$ 137,3 miliar. Dari sisi kebijakan BI sudah menyiapkan berbagai amunisi yang dikenal dengan triple intervention yang meliputi Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), di pasar spot, sampai ke pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Menurut Chatib, pelaku pasar juga telah membaca arah pelemahan tersebut. Belajar dari 2013, ketika ada isu tapering, maka opsi yang bisa dilakukan adalah dengan meminimalkan defisit fiskal dan menaikkan suku bunga acuan.

Sekarang, kedua opsi tersebut tidak mungkin dilakukan karena mampu menahan pemulihan ekonomi nasional. "Maka opsi yang bisa dilakukan itu hanya membiarkan rupiah pelan-pelan terdepresiasi," terang Chatib.

Terbukti, bila melihat pergerakan sejak awal tahun, saat isu tapering menguat. Rupiah yang tadinya di level 13.900 pelan-pelan bergerak ke level 14.200 dan kini di sekitar 14.500 per dolar AS.

Meski demikian, regulator diharapkan mewaspadai segala kemungkinan yang terjadi. Masih ada beberapa ketidakpastian, seperti Covid maupun perkembangan ekonomi AS. Kedua hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap rencana tapering.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading