Pasar AS Hepi Tapering Kian Dekat, Indonesia Bagaimana?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
28 August 2021 13:51
Federal Reserve Chair Jerome Powell arrives to speak at a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor di Amerika Serikat (AS) bergairah menyambut konfirmasi bank sentral (Federal Reserve/The Fed) yang menyatakan kebijakan quantitative easing (QE), atau pembelian obligasi di pasar, dikurangi tahun ini. Tidak takut taper tantrum?

Dalam sambutannya di ajang Jackson Hole, simposium tahunan The Fed yang dihadiri pejabat bank sentral dari seluruh dunia, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa pembelian obligasi bulanan- senilai US$ 120 miliar yang selama ini dijalankan-akan dikurangi sebelum tahun baru.


Namun demikian, dia menegaskan bahwa kebijakan tapering tersebut, bakal dijalankan terpisah atau tidak bersamaan dengan kebijakan penaikan suku bunga acuan. Menurut dia, perlu lebih banyak tes sebelum kebijakan penaikan suku bunga tersebut dijalankan dan dia tidak melihatnya bakal terlaksana tahun ini.

"Penetapan waktu dan laju pengurangan pembelian aset tak akan ditujukan untuk mengirim sinyal jelas seputar penetapan waktu penaikan suku bunga acuan, yang mana kami telah siapkan pengujian yang secara substansial ketat dan terpisah," tutur Powell dalam pidatonya tersebut, sebagaimana dikutip CNBC International.

Wall Street menyambut gembira penyataan tersebut, karena kebijakan moneter ketat-yang biasanya berujung pada tersendatnya likuiditas di pasar, belum akan diambil. Indeks Dow Jones pun ditutup naik 0,7% ke 35.455,8 sementara S&P 500 lompat 0,9% ke 4.509,37 dan Nasdaq melonjak 1,2% ke 15.129,50.

qSumber: CNBC International

Sepanjang pekan ini, Dow menguat 0,9%, S&P 500 lompat 1,5%, dan Nasdaq melonjak 2,8%. Adapun sepanjang bulan, ketiganya juga terhitung menguat, masing-masing sebesar 1,4%, 2,6%, dan 3,1%. Pergerakan indeks saham ini menunjukkan bahwa tapering kali ini diprediksi tidak akan memicu kecemasan pasar, seperti yang pernah terjadi pada tahun 2013.

Kepala Perencana Investasi State Street Global Advisors Michael Arone menilai eforia pasar kemarin lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa suku bunga acuan masih jauh, dan tak dilakukan dalam waktu dekat.

"Kenaikan suku bunga acuan masih jauh, sangat jauh, dan investor senang melihat itu... Menurut saya Powell layak dipuji karena mengarahkan kebijakan tapering, sembari menghindari tantrum. Pasar terlihat siap siaga dengan dimulainya tapering," tuturnya seperti dikutip CNBC International.

Dengan kata lain, yang menjadi momok terbesar bagi pasar bukanlah tapering itu sendiri, melainkan lebih pada kebijakan lanjutan yang mengikutinya, yakni penaikan suku bunga acuan. Kebijakan moneter ketat ini bakal mengurangi uang beredar, baik di perekonomian, maupun di pasar modal.

Jangka Pendek Aman, tapi Jangka Menengah?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading