Investasi Hijau

Wow! Crazy Rich Asia Berjamaah Beli Produk Discretionary Fund

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
25 August 2021 06:23
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Proyek ramah lingkungan kini menjadi primadona baru dalam ekonomi global. Proyek-proyek yang semula eksklusif dan identik bagi negara maju saja, kini juga mulai dibidik oleh konglomerat Asia.

Dilansir The Strait Times, beberapa klien kaya raya dari perusahaan perbankan investasi asal Swiss, UBS Group, yang bermukim di Asia dikabarkan menggelontorkan dana miliaran dolar Amerika Serikat AS) ke dalam investasi aset berkelanjutan.

Rajinnya para crazy rich Asia ini berinvestasi seiring dengan meningkatnya jumlah jutawan di kawasan itu yang mengikuti dorongan global untuk melakukan investasi yang mengarah pada tanggung jawab secara sosial alias investasi hijau.


Bentuknya kali ini yakni lewat investasi dalam produk Kontrak Pengelolaan Dana (biasa disingkat KPD) atau dikenal pula secara global dengan istilah Discretionary Fund (dana diskresi).

Menurut laporan bank asal Swiss tersebut, nilai aset yang dikelola dalam portofolio diskresi berkelanjutan di perbankan swasta Asia-Pasifik telah melonjak menjadi US$ 4,5 miliar atau setara dengan Rp 65,25 triliun (Rp 14.500/US$) pada akhir Juni, naik dari US$ 1 miliar (Rp 14,5 triliun) pada awal tahun lalu.

Dalam pengelolaan portofolio diskresi tersebut, klien kaya raya dengan sukarela menyerahkan sekaligus dan membiarkan bank mengelola uangnya dengan biaya tertentu.

Sebetulnya secara definisi, KPD adalah bentuk pengelolaan dana investor yang dibentuk dengan perjanjian bilateral antara investor dengan manajer investasi (MI). Di Indonesia, produk ini biasanya dikelola oleh perusahaan MI yang juga membuat produk reksa dana.

Terkait dengan maraknya dana investasi KPD yang berbasis investasi hijau ini, menurut Adrian Zuercher, Kepala Alokasi Aset Global di UBS Global Wealth Management Chief Investment Office, memang sempat ada keraguan atas investasi 'hijau' semacam ini.

"Beberapa tahun yang lalu, terdapat 'banyak skeptisisme' tentang investasi berkelanjutan di Asia, kata Zuercher, dalam briefing di Hong Kong.

Namun sekarang "ada tren yang jelas bahwa klien di sini [Asia] ingin menyelaraskan kepentingan pribadi mereka dengan investasi mereka", katanya.

Pandemi dan upaya global yang semakin cepat untuk memerangi perubahan iklim telah menyebabkan minat terhadap investasi berkelanjutan melonjak selama beberapa tahun terakhir.

Pasar untuk produk yang mengklaim mendukung keadilan sosial dan planet yang lebih hijau diperkirakan sudah mencapai US$ 35 triliun secara global, dan kemungkinan akan melebihi US$ 50 triliun pada tahun 2025, menurut Riset Intelijen Bloomberg.

UBS mengungkapkan, orang super kaya di dunia menginginkan lebih banyak investasi yang 'memberikan rasa nyaman' dari bank swasta dan keluarga super kaya semakin memasukkan prinsip keberlanjutan dalam keputusan investasi mereka.

Lebih dari 70% klien perbankan swasta UBS di Asia memilih komponen investasi yang fokus pada keberlanjutan yang tercermin dari penggunaan platform digital yang baru saja diluncurkan bernama My Way.

Secara global, UBS memiliki lebih dari US$ 30 miliar atau setara Rp 435 triliun aset investasi diskresi yang sepenuhnya berkelanjutan yang dikelola pada kuartal kedua.

"Portofolio diskresi menyumbang sekitar 14% akun nasabah UBS di Asia, lebih rendah dibandingkan dengan sekitar 40% di beberapa pasar di Eropa," kata Mario Knoepfel, Direktur Eksekutif Penasihat Investasi Berkelanjutan untuk Asia-Pasifik di UBS.

Adapun investasi inti berkelanjutan di UBS secara total naik 62% menjadi US$ 793 miliar pada akhir tahun lalu, membentuk hampir 20% dari semua aset yang diinvestasikan klien.

Selain UBS, Mercer, perusahaan konsultasi SDM dan jasa keuangan berbasis di New York AS, juga mengumumkan ekspansi global dari terhadap penetrasi investasi berkelanjutan mereka.

Dilansir IPE.com, perseroan mengalokasikan 30% tambahan porsi investasi guna memenuhi permintaan yang meningkat dari klien yang ingin mengelola risiko dan pengembalian investasi yang terkait dengan perubahan iklim dan mendorong investasi berkelanjutan dengan prinsip environmental, social and corporate governance (ESG).

Perusahaan memperluas tim investasi berkelanjutannya dengan menambahkan karyawan baru di Australia, Kanada, Hong Kong, Swiss, AS, dan Inggris.

Perusahaan juga terus meningkatkan fokusnya pada penelitian investasi berkelanjutan secara global.

Manajemen Mercer menyatakan perseroan telah melihat pertumbuhan aset yang substansial dalam pengelolaan dana berorientasi 'hijau' selama 12 bulan terakhir.

Adapun Dana Ekuitas Global Berkelanjutan di Mercer mencapai lebih dari US$ 2 miliar (Rp 29 triliun) pada 31 Maret 2021. Mercer adalah perusahaan manajemen aset Amerika dan merupakan manajer aset outsourcing terbesar di dunia dengan mengelola lebih dari US$ 300 miliar (Rp 4.350 triliun) aset outsourcing.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading