Tanpa Ampun, Bandar Obral Saham Bank Mini & ARB Berjamaah

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
18 August 2021 09:38
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham bank-bank mini alias bank BUKU II (bank dengan modal inti Rp 2 triliun-Rp 5 triliun) anjlok pada awal perdagangan hari ini, Rabu (18/8/2021). Beberapa di antaranya ambles hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 7% dan menjadi top losers.

Para investor tampaknya terus melakukan aksi jual saham-saham bank bermodal 'cekak' ini setelah sekitar 2-3 pekan lalu ramai-ramai mengoleksi saham tersebut.

Berikut pelemahan sejumlah saham bank mini, pukul 09.16 WIB:


  1. Bank Bumi Arta (BNBA), saham -6,99%, ke Rp 1.065/saham

  2. Bank Ganesha (BGTG), -6,98%, ke Rp 240/saham

  3. Bank Oke Indonesia (DNAR), -6,96%, ke Rp 294/saham

  4. Bank MNC Internasional (BABP), -6,94%, ke Rp 402/saham

  5. Bank Neo Commerce (BBYB), -6,86%, ke Rp 1.425/saham

  6. Bank IBK Indonesia (AGRS), -6,80%, ke Rp 274/saham

  7. Bank Jtrust Indonesia (BCIC), -6,80%, ke Rp 685/saham

  8. Bank Victoria International (BVIC), -6,40%, ke Rp 161/saham

  9. Bank Ina Perdana (BINA), -6,00%, ke Rp 3.760/saham

  10. Allo Bank Indonesia (BBHI), -5,96%, ke Rp 2.210/saham

  11. Bank Capital Indonesia (BACA), -5,78%, ke Rp 424/saham

  12. Bank QNB Indonesia (BKSW), -4,03%, ke Rp 238/saham

  13. Bank Amar Indonesia (AMAR), -2,74%, ke Rp 284/saham

  14. Bank Maspion Indonesia (BMAS), -1,93%, ke Rp 1.270/saham

  15. Bank Aladin Syariah (BANK), -0,80%, ke Rp 3.700/saham

  16. Bank Jago (ARTO), -0,79%, ke Rp 15.625/saham

Menurut data di atas, dari 16 saham bank mini yang anjlok, 7 di antaranya menyentuh batas ARB, dari saham BNBA sampai BCIC. Sementara, pada pagi ini, saham BGTG, BABP, BBYB menempati peringkat 5 besar top losers.

Saham BNBA menjadi yang paling anjlok dengan penurunan 6,99% ke Rp 1.065/saham. Ini adalah kali kelima secara beruntun saham BNBA terjungkal di zona merah. Alhasil, dalam sepekan saham ini terjun bebas 29,93%.

Di posisi kedua, ada saham BGTG yang ambles 6,98%, melanjutkan tren pelemahan sejam 4 hari sebelumnya. Dalam sepekan, saham ini terkikis 24,05%.

Saham DNAR dan bank Grup MNC BABP juga 'longsor', dengan turun masing-masing 6,96% dan 6,94%.

Bank MNC akan melaksanakan penawaran umum terbatas VIII (PUT VIII) dengan mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue mulai 9 September mendatang.

Dalam aksi korporasi ini BABP akan menerbitkan sebanyak 14,23 miliar saham baru atau sebesar 33,33 persen dari modal, ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah terlaksananya rights issue.

Adapun harga satu saham rights issue berada di rentang Rp 280-Rp 320 per saham. Dengan demikian, total dana yang akan diraup BABP dari rights issue ini sekitar Rp 4 triliun sampai Rp 4,5 triliun.

Seluruh dana hasil rights issue tersebut akan digunakan BABP, di antaranya, untuk memperkuat struktur permodalan bank dan mengembangkan produk MotionBanking.

Dengan rights issue ini, BABP menargetkan akan menjadi bank umum kegiatan usaha (BUKU) III (bank dengan modal inti Rp 5 triliun - Rp 30 triliun).

Sentimen positif utama yang turut mengerek kenaikan bank mini sejak beberapa waktu lalu ialah terkait rencana akan segera dirilisnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) mengenai bank digital pada pertengahan tahun ini.

Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan perkembangan mengenai Peraturan OJK baru mengenai Bank Umum masih dalam harmonisasi dengan Kementerian Hukum dan HAM.

"Masih harmonisasi dengan Kemenkumham," kata Sekar kepada CNBC Indonesia, Senin (19/7).

Adapun POJK salah satunya akan mengatur mengenai pendirian bank baru, termasuk bank yang akan beroperasi penuh secara digital. Adanya peraturan ini untuk mengakomodasi perkembangan industri perbankan yang saat ini mulai beralih pada sistem digital.

Sebelumnya, para investor berspekulasi bahwa saham-saham bank mini di atas akan dicaplok oleh investor strategis dan ditransformasikan menjadi bank digital.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Saham Bank Mini 'Digoreng' Lagi, Waspada Kolesterol Tinggi


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading