Asing Masuk! Saham Bukalapak Ambruk ARB, Harga di Bawah IPO

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
18 August 2021 09:22
CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin dan Komisaris Utama Bambang Brodjonegoro, dok Bukalapak, IPO 6 Agustus 2021

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten e-commerce PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) anjlok menyentuh auto reject bawah (ARB) 6,7% di level Rp 830/saham pada awal pembukaan sesi I, Rabu ini (18/8), dari posisi penutupan Senin lalu (16/8) di level Rp 890/saham.

Data BEI menunjukkan, pada pukul 09.18 WIB, saham BUKA minus 6,7% di Rp 830, dengan nilai transaksi Rp 473/saham dan volume perdagangan 567 juta.

Investor asing mulai lagi belanja saham BUKA sebesar Rp 16,31 miliar, di tekanan tekanan jual dari investor lokal. Dengan demikian, harga saham BUKA kini di bawah harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Rp 850/saham, atau turun 2,4%.


Pada Senin lalu, asing juga mulai rajin melakukan aksi jual bersih (net sell) saham BUKA sejak perusahaan tersebut melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (6/8/2021).

Data BEI mencatat, pada perdagangan Senin lalu (16/8), sebelum libur Selasa kemarin (17/8) bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-76, saham BUKA ditutup anjlok 6,81% atau menyentuh batas auto reject bawah (ARB) di Rp 890/saham.

Nilai transaksi saham BUKA saat itu sebesar Rp 978 miliar dan volume perdagangan 1,07 miliar saham. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 92 triliun dengan catatan asing masuk Rp 247 miliar di pasar reguler dalam sehari.

Terkait dengan potensi saham BUKA ini, analis riset PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya, dalam riset per 9 Agustus, juga sudah memasukkan saham BUKA dalam 8 top picks Mirae Asset pada Agustus ini.

Tujuh saham lainnya yakni PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Prodia Wdyahusada Tbk (PRDA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).

Menurut Hariyanto, dari segi pasar, dengan mulai melantainya saham teknologi pertama di dalam negeri yakni BUKA, dan selanjutnya akan disusul oleh perusahaan lainnya dinilai akan dapat mengikuti jalur yang sama dengan pasar saham Amerika Serikat di mana perusahaan teknologi sekarang mendominasi 5 kapitalisasi pasar terbesarnya.

Hal ini juga ditunjang dengan gross merchandise value (GMV) Indonesia yang diperkirakan oleh lembaga Bain bisa bertumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) atau rata-rata tahunan pada periode 2020-2025 sebesar 23%, dari US$ 44 miliar atau setara dengan Rp 638 triliun (kurs Rp 14.500/US$) pada 2020 menjadi US$ 124 miliar atau setara Rp 1.798 triliun pada 2025.

Menurut dia, dua raksasa teknologi, yakni BUKA dan GoTo akan dapat memonetisasi tren yang meningkat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

"Kami pikir perusahaan teknologi raksasa, seperti Bukalapak dan GoTo akan dapat memonetisasi tren yang meningkat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia," kata Hariyanto Wijaya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading