Babak Belur Pandemi, KAI Masih Cetak Rugi Semester I Rp 454 M

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
02 August 2021 11:42
Calon penumpang Kereta Api Kertajaya menyiapkan barang di gerbong kereta Api di Stasiun Senen, Jakarta, Jumat (23/10). Pantauan CNBC Indonesia jelang masa libur panjang terlihat antrian penumpang yang naik kereta api. Salah satu calon penumpang mengatakan lebih pulang lebih awal untuk menghindari kehabisan tiket.  Penumpang kereta api (KA) diprediksi melonjak pada masa libur panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan cuti bersama pekan depan. Mengantisipasi lonjakan itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menambah perjalanan kereta api yang melayani pelanggan sebanyak 13%. VP Public Relations KAI Joni Martinus menyebut, Jumlah perjalanan Kereta Api Jarak Jauh yang melayani pelanggan pada periode 27 Oktober hingga 1 November 2020 sebanyak 505 KA. Angka itu naik 13% dibandingkan pada 20 hingga 25 Oktober sebanyak 448 KA.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Usah Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa transportasi umum, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatatkan kenaikan pendapatan pada paruh pertama tahun 2021 di tengah pandemi Covid-19 dan masih mencetak rugi bersih kendati berkurang dari sebelumnya.

Mengacu laporan keuangan publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan PT KAI naik tipis 0,67% menjadi Rp 7,46 triliun dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 7,41 triliun.

Pendapatan tersebut terbagi menjadi pendapatan angkutan dan usaha lainnya sebesar Rp 7,21 triliun dan sisanya merupakan pendapatan konstruksi sejumlah Rp 250, 86 miliar.


Pendapatan angkutan penumpang turun menjadi Rp 1,12 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 2,13 triliun karena pengetatan perjalanan.

Sebaliknya pendapatan angkutan barang seperti batubara, peti kemas dan BBM mengalami peningkatan, naik menjadi Rp 3,35 triliun dari semula Rp 3,15 triliun.

Beban pokok pendapatan turun 7,85% pada semeter pertama tahun ini menjadi Rp 6,47 triliun dari posisi yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 7,03 triliun.

Sepanjang paruh pertama tahun ini PT KAI berhasil menekan kerugian bersih yang diperoleh, rugi bersih PT KAI turun hingga 65,90% menjadi Rp 454,47 miliar dari periode yang sama tahun 2020 lalu dengan kerugian mencapai Rp 1,33 triliun.

Aset perusahaan tercatat naik tipis menjadi Rp 54,06 triliun, dengan aset lancar tercatat senilai Rp 9,35 triliun dan Rp 44,71 triliun sisanya merupakan aset tidak lancar.

Liabilitas perusahaan juga mengalami kenaikan tipis menjadi Rp 37,51 triliun. Liabilitas ini terbagi menjadi kewajiban jangka pendek sebesar Rp 8,94 triliun dan kewajiban jangka panjang sejumlah Rp 28,57 triliun.

Ekuitas perusahaan mengalami penyusutan menjadi Rp 16,54 triliun dari semula sebesar Rp 17,04 triliun.

Manajemen PT KAI menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 berdampak buruk terhadap kelangsungan bisnis perusahaan. Meskipun demikian perseroan terus memantau perkembangan pandemi dan bekerja secara aktif untuk menurunkan dampak risiko yang muncul.

"Meskipun gangguan [akibat pandemi covid-19] diperkirakan hanya bersifat sementara, namun terdapat ketidakpastian yang cukup tinggi terkait luas dampaknya terhadap operasi dan kinerja keuangan Perusahaan, saat ini dampak signifikan yang dialami Perusahaan adalah menurunnya volume penumpang yang tercermin dari penurunan pendapatan penumpang," tulis pihak manajemen PT KAI.

"Perkembangan dampak tersebut bergantung pada beberapa hal di masa depan yang tidak dapat diprediksi pada saat ini, termasuk durasi penyebaran wabah, kebijakan ekonomi dan kebijakan lainnya yang diterapkan Pemerintah untuk menangani ancaman Covid-19, serta dampak faktor-faktor tersebut terhadap pegawai dan pelanggan Perusahaan,"

"Manajemen terus memantau secara seksama operasi, likuiditas dan sumber daya yang dimiliki Grup, serta bekerja secara aktif untuk mengurangi dampak saat ini dan dampak masa depan dari situasi ini yang belum pernah dialami sebelumnya," tambah pihak manajemen.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading