Internasional

Ada Kabar Baru dari Bank Sentral China, Tanda Ekonomi Loyo?

Market - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
09 July 2021 11:30
A man walks past China's central bank, or the People's Bank of China, in Beijing, Sunday, March 10, 2019. China's central bank governor Yi Gang says American and Chinese envoys discussed sticking to promises to avoid currency devaluations to boost exports during negotiations aimed at ending a tariff war. (AP Photo/Andy Wong)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral China menyatakan bahwa pihaknya akan memotong jumlah dana yang disimpan di bank. PBOC bahkan akan menyebarkannya kepada masyarakat untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

Mengutip CNBC International, pertemuan Dewan Negara pada hari Rabu, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Li Keqiang, menyebutkan bahwa hal ini akan membantu beberapa sektor perekonomian riil. Mayoritas digerakkan oleh usaha kecil dan menengah (UMKM).


"Mengingat dampak kenaikan harga komoditas pada produksi dan operasi bisnis, pertemuan memutuskan untuk menjaga stabilitas kebijakan moneter dan meningkatkan efektivitasnya, tanpa menggunakan stimulus besar-besaran," kata siaran pers pertemuan tersebut, dikutip Jumat (9/7/2021).

"Pemotongan rasio cadangan yang diperlukan dan alat kebijakan lainnya akan diperkenalkan sebagaimana mestinya, untuk mengintensifkan dukungan keuangan bagi ekonomi riil, terutama usaha mikro, kecil dan menengah, dan mendorong penurunan yang stabil dari keseluruhan biaya pembiayaan," kata rilis tersebut.

Cadangan bank adalah jumlah minimum kas yang harus disimpan oleh lembaga keuangan di bank sentral. Bank sentral di sejumlah negara menetapkan batas cadangan minimal.

Sekalipun tidak ada batas yang ditetapkan, sejumlah bank biasanya ingin menyimpan cadangan yang disebut cadangan darurat (desired reserves). Biasanya dikenal dengan Giro Wajib Minimum (GWM).

Beberapa analis menyebut bahwa ini merupakan tanda pelemahan ekonomi di China. Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, dalam sebuah catatan mengatakan bahwa pemerintah China sudah peka terhadap hal tersebut dan ini merupakan manuver untuk membalikkan perlambatan itu.

"Kami pikir sinyal kebijakan ini menunjukkan ekonomi kemungkinan melambat pada Juni," katanya.

Beberapa data-data mengenai indikasi perlambatan ini sudah mulai terlihat. Pada Senin (5/7/2021) kemarin Asosiasi Produsen Mobil China mengatakan penjualan mobil penumpang di Negeri Tirai Bambu kemungkinan turun 14,9% pada bulan Juni dibandingkan tahun lalu. Selain itu,belanja barang-barang konsumen juga tumbuh lebih lambat dari yang diharapkan.

Hal ini diketahui karena harga bahan produksi yang meningkat pesat. Kenaikan ini adalah imbas dari penyebaran virus corona yang terus-menerus di luar negeri yang membuat harga bahan-bahan impor naik.

Sementara itu, Kepala Ekonom China Nomura, Ting Lu, mengatakan bahwa mereka sekarang mengharapkan bank sentral untuk memotong rasio persyaratan cadangan secara keseluruhan sebesar 50 basis poin "dalam beberapa minggu mendatang."

Lebih lanjut, pihaknya memperkirakan pertumbuhan PDB China year-on-year akan berada 8,1% pada kuartal kedua, 6,4% pada kuartal ketiga dan 5,3% pada kuartal keempat. Secara setahun penuh, tingkat pertumbuhan tahunan tahun 2021 diprediksi sebesar 8,9%.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading