Saham Bank BUKU IV Diobral, Takut Hasil Rapat BI Hari Ini?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
17 June 2021 09:45
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham bank besar atau bank BUKU IV (bank dengan modal inti lebih dari Rp 30 triliun) merosot ke zona merah pada awal perdagangan pagi ini, Kamis (17/6/2021), seiring Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali terkoreksi. Melemahnya saham-saham tersebut cenderung diwarnai aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing.

Berikut gerak saham bank-bank gede, pada pukul 09.21 WIB:

  1. Bank Negara Indonesia (BBNI), saham -1,40%, ke Rp 5.300, net sell Rp 10,28 M


  2. Bank Mandiri (BMRI), -1,20%, ke Rp 6.200, net buy Rp 32,30 M

  3. Bank Central Asia (BBCA), -1,17%, ke Rp 31.550 , net sell Rp 1,57 M

  4. Bank Permata (BNLI), -1,00%, ke Rp 1.980, net sell/buy Rp -

  5. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), -0,75%, ke Rp 3.980, net sell Rp 18,08 M

  6. Bank Pan Indonesia (PNBN), -0,60%, ke Rp 835, net sell Rp 37,76 juta

  7. Bank Danamon Indonesia (BDMN), -0,45%, ke Rp 2,210, net sell Rp 26,17 juta

  8. Bank CIMB Niaga (BNBA), 0,00%, ke Rp 930, net sell Rp 558 ribu

Menurut data di atas, saham BBNI menjadi yang paling melorot, dengan persentase 1,40% ke Rp 5.300/saham. Pelemahan ini memperpanjang tren pelemahan saham BBNI yang dimulai sejak 3 hari lalu.

Alhasil, dalam sepekan saham ini anjlok 7,05%, sementara dalam sebulan ambles 2,75%.

Seiring dengan pelemahan ini, asing tercatat ramai-ramai melego saham BBNI dengan nilai net sell mencapai Rp 10,28 miliar, menjadikan saham BBNI sebagai saham yang paling banyak dijual asing pagi ini.

Di posisi kedua, ada saham BMRI yang turun 1,20% ke Rp 6.200/saham, melanjutkan pelemahan saat penutupan perdagangan Selasa (16/6). Berbeda dengan yang lain, asing malah masuk ke saham BMRI dengan nilai beli bersih Rp 32,30 miliar, menjadi yang paling besar di bursa.

Selain itu, saham bank dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di bursa, BBCA, juga turut ambles 1,17% ke Rp 31.550/saham, dengan nilai net sell Rp 1,57 miliar. Kemarin, saham ini juga melorot 1,31% ke Rp 31.925/saham.

Saham bank 'wong cilik' BBRI juga melemah 0,75% ke Rp 3.980/saham dengan nilai net sell yang jumbo Rp 18,08 miliar. Penurunan pagi ini memperpanjang tren pelemahan saham BBRI sejak 2 hari lalu. Kemarin, saham ini 'terjun bebas' 5,20% ke Rp 4.010/saham.

Pelemahan saham-saham bank BUKU IV yang sebagian besar termasuk big cap (saham dengan nilai kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun) ikut mempengaruhi pergerakan IHSG pagi ini.

IHSG dibuka dengan apresiasi 0,25% ke level 6.063,53. Namun, selang 30 menit, IHSG melorot ke zona merah 0,11% ke posisi 6.072,067.

Nilai transaksi hari ini sebesar Rp 2,89 triliun dan terpantau investor asing membeli bersih Rp 49,13 miliar di pasar reguler.

Usai pengumuman ditahanya suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) pada dini hari tadi, kini giliran Bank Indonesia (BI) yang akan mengumumkan arah kebijakan moneter ke depannya terkait dengan kebijakan suku bunga acuan (7-Day Reverse Repo Rate/7DR3).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan suku bunga acuan akan dipertahankan di level 3,5%. Sebanyak 13 institusi keuangan terlibat dalam pembentukan konsensus tersebut dan tidak ada yang memiliki proyeksi yang berbeda.

Di tengah ketakpastian arah kebijakan moneter global ke depan, maka yang terpenting untuk dilakukan adalah memperkuat posisi yang sedang dipertahankan. Bersikap agresif dengan maju bakal memicu risiko besar, demikian pula bersikap defensif alias mundur. Oleh karenanya, pasar tidak perlu berekspektasi akan ada "kebijakan liar" yang bakal diambil Kantor Thamrin.

Sepanjang pandemi, BI 7-Day Reverse Repo Rate yang kala itu masih berada di 5% sudah terpangkas menjadi 3,5%, atau terendah dalam sejarah suku bunga acuan Indonesia. Artinya, BI sudah memotong suku bunga acuan sebanyak 150 basis poin (bp).

Sampai saat ini dampaknya terhadap perekonomian belum terlihat, dalam arti masih ada tekanan pertumbuhan ekonomi seperti yang terlihat pada kuartal I-2021, di mana Produk Domestik Bruto (PDB) nasional masih terkontraksi 0,74%. Oleh karena itu, bakal terlalu dini jika bank sentral menaikkan suku bunga acuan.

Sebaliknya, memangkas suku bunga acuan juga bakal berdampak buruk terhadap pergerakan Mata Uang Garuda karena secara psikologis membuat pemodal global kurang tertarik untuk mengoleksi obligasi di Tanah Air.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading