Saham Bank 'Big Four' Ambles, Diobral Investor Asing

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
10 December 2021 10:39
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham bank-bank besar melemah pada lanjutan sesi I perdagangan hari ini, Jumat (10/12/2021), di tengah adanya aksi lego oleh investor asing.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turun 0,48% ke posisi 6.612,365, setelah menguat selama 4 hari beruntun. Pagi ini, investor asing juga keluar dari bursa RI dengan catatan jual bersih (net sell) Rp 304,94 miliar di pasar reguler.

Berikut pergerakan saham bank kelas kakap pagi ini, pukul 10.14 WIB.


  1. Bank Mandiri (BMRI), saham -2,38%, ke Rp 7.175/unit, net sell Rp 63,2 M

  2. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), -0,95%, ke Rp 4.150/unit, net sell Rp 85,4 M

  3. Bank Danamon Indonesia (BDMN), -0,84%, ke Rp 2.370/unit, net sell Rp 140,45 juta

  4. Bank Negara Indonesia (BBNI), -0,37%, ke Rp 6.800/unit, net sell Rp 5,0 M

  5. Bank Central Asia (BBCA), -0,34%, ke Rp 7.325/unit, net sell Rp 88,0 M

Dari 5 saham di atas, saham 4 besar bank utama alias the big four menjadi yang paling banyak dijual oleh asing pagi ini. Saham BBCA menempati urutan pertama yang paling banyak terkena aksi jual asing dengan nilai net sell Rp 88 miliar di pasar reguler.

Kemudian, secara saham BBRI dan BMRI menempati urutan kedua dan ketiga dengan nilai jual bersih Rp 85,4 miliar dan Rp 63,2 miliar. Sementara, saham BBNI di urutan kesebelas dengan nilai net sell Rp 5 miliar.

Saham BMRI menjadi yang paling ambles, yakni hingga minus 2,38%, setelah kemarin naik 2,80%. Dalam seminggu saham BMRI masih menguat 0,35% dan dalam sebulan terkerek 1,06%.

Kabar terbaru, Bank Mandiri menyepakati kerjasama pembiayaan senilai total Rp 2,45 triliun kepada PT Hutama Karya (Persero).

Penyaluran kredit tersebut akan digunakan untuk pengembangan bisnis BUMN yang mendapat penugasan pemerintah membangun Tol Trans Sumatera itu.

Duo saham bank BUMN lainnya, BBRI dan BBNI juga masing-masing turun 0,95% dan 0,37% pagi ini.

Tahun depan, BNI berencana menggelar penambahan modal dengan skema hak memesan efek terlebih dahul (HMETD) atau rights issue.

Rencana rights issue ini disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Kamis lalu (2/12/2021).

Sekretaris Perusahaan BNI, Mucharom, dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan, terkait rencana rights issue tersebut, saat ini perseroan masih dalam tahap persiapan dan terus membangun komunikasi dengan stakeholder terkait.

"Saat ini, perseroan terus berfokus dalam melaksanakan program transformasi untuk meningkatkan kinerja dan memberi nilai tambah bagi segenap investor. Hal ini juga akan berdampak secara tidak langsung terhadap rencana rights issue yang akan dilakukan oleh perseroan," ungkap Mucharom.

Saham dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di bursa, BBCA, juga tergerus 0,34%, di tengah aksi jual oleh asing dengan nilai net sell Rp 88 miliar. Dengan ini, dalam sepekan saham BBCA turun 0,68% dan dalam sebulan ambles 2,66%.

Sentimen kurang mengenakkan datang dari bursa saham AS. Indeks S&P 500 melemah 0,72% dan Indeks Nasdaq Composite anjlok 1,71%.

Saham-saham Wall Street justru anjlok ketika rilis data ketenagakerjaan AS menunjukkan perbaikan. Klaim tunjangan pengangguran AS tercatat mencapai 184 ribu dan menjadi level terendah dalam 50 tahun terakhir.

Namun investor cenderung wait and see jelang rilis data inflasi. Tren kenaikan inflasi di AS yang signifikan membuat pelaku pasar bertaruh the Fed akan mempercepat proses tapering dan menaikkan suku bunga acuan.

"Di satu sisi pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja menyediakan alasan untuk bersikap optimistis terhadap ekonomi, inflasi juga kian panas dan menyentuh level tertinggi 30 tahun," tulis UBS dalam laporan riset yang dikutip CNBC International.

Ekonomi dalam survey Dow Jones memperkirakan indeks harga konsumen tersebut akan melesat 6,7% secara tahunan, menjadi penguatan yang terbesar sejak Juni 1982. Inflasi bulanan diprediksi sebesar 0,7%.

Berdasarkan poling Reuters, pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga acuan AS (Federal Fud Rates/FFR) bakal terjadi pada kuartal III tahun depan atau lebih cepat dari ekspektasi sebelumnya di kuartal IV.

Dari dalam negeri sentimen yang mewarnai perdagangan hari ini adalah seputar Presidensi Indonesia G20. Di tengah risiko pengetatan kebijakan moneter, baik Gubernur BI maupun Menkeu sepakat bahwa Indonesia siap melakukan sinkronisasi kebijakan namun tetap menjaga momentum pemulihan ekonomi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Laba Bank Raksasa RI Moncer, Tanda Ekonomi Mulai Pulih?


(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading