Mayday! Bursa Saham Asia Berguguran, IHSG Bernasib Sama?

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
17 June 2021 08:47
pasar saham asia

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Asia dibuka berjatuhan pada perdagangan Kamis (17/6/2021), karena investor global cenderung bereaksi negatif setelah bank sentral Amerika Serkat (AS) pada Rabu (16/6/2021) malam berencana menaikkan suku bunga acuan hingga dua kali pada 2023.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,53%, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,51%, Shanghai Composite China surut 0,22%, Straits Times Singapura turun 0,43%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,39%.

Dari data ekonomi Asia, ekspor non-minyak dan gas bumi (migas) Singapura mengalami kenaikan pada periode Mei 2021.


Data dari Trading Economics dan otoritas setempat mencatat ekspor non-migas Negeri Singa pada Mei tahun ini naik menjadi 8,8% secara tahunan (year-on-year/YoY), dari sebelumnya pada periode yang sama tahun 2020 sebesar 6%.

Secara basis bulanan (month-on-month/MoM), ekspor non-migas Singapura juga tercatat tumbuh, walaupun masih tumbuh negatif, yakni tumbuh menjadi -0,1%, dari sebelumnya pada April lalu sebesar -8,8%.

Beralih ke AS, bursa saham Wall Street anjlok pada penutupan perdagangan Rabu (16/6/2021), di mana pelaku pasar kecewa dengan pernyataan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang akan menaikkan suku bunga acuan hingga dua kali pada 2023.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 0,77% menjadi 34.033,67, S&P 500 melemah 0,54% ke 4.223,7 menyusul koreksi saham konsumer, sementara Nasdaq surut 0,24% menjadi 14.039,68 setelah sempat drop 1,2%.

Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) mengubah sikapnya dengan mempercepat rencana penaikan suku bunga acuan, setelah sebelumnya menyatakan tidak berencana melakukan itu setidaknya sebelum 2023 terlewati.

"Pasar tak mengekspektasikan ini... The Fed kini memberikan sinyal bahwa suku bunga acuan bakal perlu naik lebih dini dan lebih cepat... ini agak berselisih dengan klaim sebelumnya tentang kenaikan inflasi yang sifatnya sesaat," tutur Wakil Kepala Ekonom Aberdeen Standard Investments James McCann, seperti dikutip CNBC International.

Wells Fargo Investment Institute dalam proyeksi 2021 menyebutkan pemulihan ekonomi akan terakselerasi pada tahun depan berkat vaksinasi.

Risiko yang membayangi adalah inflasi, pajak, dan suku bunga acuan meski dinilai belum akan mengganggu pergerakan pasar. Artinya, pertumbuhan ekonomi bukan lagi persoalan, melainkan inflasi.

Powell dalam pernyataannya mengakui bahwa inflasi bisa melesat lebih cepat dari ekspektasi bank sentral sebelumnya. Target inflasi pun dinaikkan menjadi 3,4% pada 2021, naik 100 poin dari proyeksi Maret lalu, meski masih menilai tekanan inflasi tersebut bersifat "sesaat."

"Seiring dengan pembukaan kembali ekonomi, perubahan permintaan bisa besar dan cepat dan memicu penyumbatan, kesulitan pembukaan lapangan kerja dan kendala lain bisa terus membatasi kecepatan suplai dalam menyesuaikan, memicu kemungkinan inflasi bisa lebih tinggi dan lebih menetap dari yang kami perkirakan," ujarnya.

Terkait dengan kemungkinan pengurangan pembelian (tapering) surat berharga di pasar sekunder, The Fed tak memberikan indikasi waktu pelaksanannya dan hanya menyatakan bahwa mereka akan memberikan "pemberitahuan awal" sebelum mengumumkan kebijakan tersebut. Saat ini The Fed membeli surat berharga di pasar senilai US$ 120 miliar per bulan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pasar Asia Finish Hijau Lagi! Hanya KOSPI yang Melemah


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading