Newsletter

Inflasi AS Tembus 5%, Wall Street Ijo, IHSG-Rupiah Ikutan?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
11 June 2021 06:20
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air menunjukkan tajinya pada perdagangan Kamis (10/6) kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak hampir 1%, kemudian diikuti oleh penguatan tipis rupiah dan kenaikan harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN).

IHSG ditutup dengan apresiasi 0,99% ke level 6.107,53 pada perdagangan kemarin. Indeks acuan pasar modal sukses ditutup menembus level psikologis 6.100.


Nilai transaksi IHSG kemarin sebesar Rp 12 triliun dan terpantau investor asing membeli bersih Rp 239 miliar di pasar reguler. Tercatat 267 saham melesat, 201 terkoreksi, sisanya 177 stagnan.

Bank Indonesia (BI) lagi-lagi membawa kabar gembira. Setelah kemarin mengumumkan hasil Survei Konsumen yang oke punya, hari ini MH Thamrin merilis hasil Survei Penjualan Eceran yang tidak kalah keren.

BI melaporkan, penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) pada April 2021 berada di 220,4. Naik 17,3% dibandingkan bulan sebelumnya (month-month/mtm) dan 15,6% dari April 2020 (year-on-year/yoy).

Kali terakhir penjualan ritel mampu tumbuh positif secara tahunan adalah pada November 2019. Artinya, kontraksi sudah terjadi selama 16 bulan beruntun dan baru terputus bulan ini.

"Responden menyampaikan peningkatan kinerja penjualan eceran didorong meningkatnya permintaan selama Ramadan didukung berbagai program potongan harga (diskon). Peningkatan penjualan terjadi pada mayoritas kelompok komoditas yang disurvei, terutama Subkelompok Sandang, Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor," sebut laporan BI.

Pada Mei 2021, penjualan ritel diperkirakan mampu kembali tumbuh positif baik secara bulanan maupun tahunan. BI memperkirakan IPR Mei 2021 sebesar 223,9, naik 1,6% mtm dan 12,9% yoy.

Sementara, rupiah akhirnya menguat tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin. Padahal, di awal perdagangan rupiah sempat menguat cukup tajam.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,07%, setelahnya sempat stagnan di Rp 14.250/US$. Tidak lama, rupiah kembali ke zona merah, menguat hingga 0,25% ke Rp 14.215/US$.

Sayangnya, level tersebut menjadi yang terkuat hari ini, setelahnya rupiah memangkas penguatan dan mengakhiri perdagangan di Rp 14.245/US$ atau menguat 0,04%.

Pelaku pasar menanti rilis data inflasi AS pada Kamis malam, yang bisa memberikan gambaran bagaimana "nasib" isu taper tantrum membuat laju penguatan rupiah tertahan.

Inflasi merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) untuk melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

Tapering merupakan isu utama yang ditakutkan pelaku pasar karena dapat menimbulkan gejolak yang disebut taper tantrum. Saat itu terjadi, dolar AS akan sangat kuat, dan rupiah terpukul.

Setali tiga uang, obligasi pemerintah pun menguat. investor kembali memburu SBN pada Kamis, ditandai dengan menurunnya yield SBN acuan di semua tenor. SBN tenor 3 tahun menjadi yang paling terbanyak diburu oleh investor, terlihat dariyield-nya yang mengalami penurunan signifikan, yakni sebesar 9,4 basis poin (bp) ke level 4,7%.

Sementara itu,yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara juga turun signifikan sebesar 9,2 bp ke posisi 6,437% pada kemarin.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Inflasi Melonjak 5%, Wall Street Malah Ngacir
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading