Bukalapak-GoTo Mau Listing, Kapan Aturan SPAC Bursa RI Kelar?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
07 June 2021 16:35
Bukalapak (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mengakomodasi perusahaan teknologi besar agar mencatatkan saham di bursa saham dalam negeri lewat mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).

Salah satu regulasi yang sedang disiapkan ialah BEI akan memperbolehkan perusahaan cek kosong atau Special Purpose Acquisition Company (SPAC), yang belum memiliki operasional perusahaan untuk melantai di BEI.

SPAC didirikan secara khusus untuk menggalang dana melalui IPO dengan tujuan melakukan merger, akuisisi, atau pembelian saham terhadap satu atau lebih perusahaan, biasanya SPAC diberikan waktu maksimal 24 bulan untuk mendapatkan target perusahaan yang akan diakusisi/merger sesuai dengan yang dituangkan dalam prospektus.


Pascaaksi merger atau akuisisi selesai, maka perusahaan hasil merger/akuisisi akan menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa tempat SPAC tercatat. Praktik SPAC sudah dilaksanakan di beberapa bursa utama dunia, salah satunya di Amerika Serikat.

"Saat ini IDX [BEI] masih mengkaji implementasi SPAC di Indonesia di mana fokus kami adalah mempelajari secara mendalam bentuk pengaturan dan praktek yang berlaku di negara lain," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, kepada awak media, belum lama ini.

Dengan menghadirkan SPAC, salah satu tujuan yang hendak bursa capai adalah memberikan pilihan moda investasi baru bagi investor Indonesia serta opsi mekanisme baru bagi perusahaan yang hendak memperoleh pendanaan melalui pasar modal.

Dalam penyusunan kajian implementasi di Indonesia kami memperhatikan beberapa hal diantaranya kesesuaian dengan peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia, aspek perlindungan terhadap investor publik, good corporate governance dan juga mempertimbangkan beberapa point of concern yang dihadapi beberapa negara lain.

"Dalam penyusunan peraturan, kami akan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan pasar di Indonesia atas implementasi SPAC," kata Nyoman.

Sebagai gambaran dan perbandingan, di bursa AS, perusahaan yang akan melangsungkan IPO perlu waktu persiapan selama 12-24 bulan, namun melalui SPAC hanya perlu 2-4 bulan saja.

Salah satu contoh transaksi IPO SPAC di Amerika serikat adalah Social Capital Hedosophia (IPOA) yang melakukan IPO pada tahun 2017 dan melakukan merger dengan perusahaan targetnya, yang merupakan perusahaan tertutup yakni, Virgin Galactic pada 2019. Saat ini Virgin Galactic telah menjadi perusahaan tercatat di NYSE dengan kode saham SPCE.

Adapun salah satu perusahaan yang digadang-gadang akan IPO melalui perusahaan cangkang ialah Bukalapak.

Bloomberg sebelumnya menuliskan, Bukalapak dikabarkan sudah menunjuk perusahaan bank investasi untuk memuluskan rencana tersebut dan disebut-sebut sedang dalam tahap pembicaraan awal dengan beberapa perusahaan SPAC menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut.

"Bukalapak dapat bernilai US$ 4 miliar hingga US$ 5 miliar dalam potensi merger SPAC," tulis Bloomberg, dikutip Rabu (3/3/2021).

Meski demikian, Bukalapak juga mempertimbangkan akan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia sebelum adanya kesepakatan dengan SPAC di AS.

"Pembahasan masih dalam tahap awal dan belum ada keputusan akhir yang dibuat," urai Bloomberg lebih lanjut.

Kabar terbaru, Bukalapak disebut-sebut telah melampirkan berkas pendaftarannya ke bursa.

Menanggapi kabar pasar tersebut, Nyoman Yetna mengatakan Bursa masih belum bisa mengkonfirmasi mengenai kabar tersebut sebelum perusahaan-perusahaan yang akan melakukan penawaran umum saham perdana menerbitkan prospektus untuk aksi korporasinya ini.

"Terkait dengan nama calon perusahaan tercatat, Bursa belum dapat menyampaikan sampai dengan OJK [Otoritas Jasa Keuangan] telah memberikan persetujuan atas penerbitan prospektus awal kepada publik sebagaimana diatur di OJK Peraturan Nomor IX.A.2," kata Nyoman di Jakarta, Jumat (28/4/2021).

Sebelumnya Direktur Utama BEI Inarno Djajadi pada pertengahan bulan ini mengatakan sudah terdapat pendaftaran IPO dilakukan oleh tiga perusahaan teknologi kelas kakap di ke bursa.

"Sudah masuk filling-nya. Nah ya kita kejarlah semoga tahun ini bisa melantai," kata Inarno kepada CNBC Indonesia, Senin (17/5/2021).

Namun dia tidak menyebutkan lebih lanjut siapa saja startup yang telah melakukan pendaftaran tersebut.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading