Terkuak! Ini Fakta yang Bikin Harga Batu Bara Susah Dibanting

Market - Tirta, CNBC Indonesia
02 June 2021 09:45
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Satu kata yang tepat menggambarkan harga batu bara saat ini adalah 'tahan banting'. Usai anjlok hampir 6% harga batu bara termal ICE Newcastle kembali melesat. 

Pada perdagangan kemarin, harga kontrak futures (berjangka) batu bara termal ditutup melesat 2,81% ke US$ 115,25/ton. Rekor tertinggi harga batu bara tahun ini berada di US$ 118,9/ton. 

Posisi tersebut juga menjadi level tertinggi dalam hampir satu dekade terakhir. Apabila melihat tren dalam 10 tahun terakhir, maka pola harga batu bara seperti tahun 2016 silam.


Setelah mengalami tekanan dan downtrend dalam lima tahun seiring dengan jatuhnya harga minyak mentah di pasar, si batu hitam berhasil mencatatkan epic comeback dan rebound

Saat itu harga batu bara sempat tembus ke bawah US$ 50/ton pada April 2016. Namun dalam waktu singkat kurang dari enam bulan harga batu bara tembus level US$ 100/ton.

Hal yang sama juga terjadi sekarang. Akibat pandemi Covid-19 harga si batu legam sempat melorot ke bawah US$ 50/ton pada Agustus silam. Kemudian pada Mei tahun 2021, harga tembus US$ 100/ton.

Kenaikan harga batu bara tak lepas dari sentimen di pasar dan juga peranan China. Tren depresiasi dolar AS membuat sebagian investor melarikan uangnya ke aset non-cash yang diharapkan dapat menjadi lindung nilai (hedging) terhadap ancaman inflasi yang tinggi. 

Salah satu yang menjadi perhatian adalah komoditas. Pasca krisis, ketika kebijakan makroekonomi di set longgar (akomodatif) biasanya ada fenomena pent up demand. Hal ini turut mengangkat kinerja harga berbagai komoditas dan memunculkan siklus commodity boom.

Selain sentimen tersebut, kondisi pasokan batu bara China yang tipis di tengah ekspansi perekonomian yang terus berlanjut juga membuat harga batu bara terkerek naik.

Selama ini kebutuhan domestik kurang bisa dipenuhi pasokan dalam negeri. Ditambah lagi harga batu bara lokal yang sudah 'selangit' dan cenderung menggerus laba perusahaan utilitas. Alhasil China melonggarkan kebijakan impornya, kecuali dengan Australia karena masih bersitegang. 

Akibatnya China sulit mendapat pasokan batu bara kokas yang banyak digunakan untuk industri baja di negaranya dengan harga miring. Di sisi lain secara musiman, China sudah memasuki periode musim penghujan (Plum Rain Season).

Pada bulan Juni-Juli biasanya hujan lebat akan mengguyur China bagian utara di mana banyak tambang batu bara ada di sana. Hujan lebat berpotensi menyebabkan banjir.

Jika ini terjadi sesuai dengan waning pemerintahnya maka aktivitas operasional tambang dan distribusinya menjadi terhambat sehingga membuat harga batu bara semakin naik. 

Kenaikan harga batu bara lokal akan turut mengerek harga batu bara global karena China merupakan salah satu konsumen terbesar batu bara dunia bersama dunia. Ketika harga batu bara Newcastle terkerek naik maka harga batu bara acuan (HBA) RI juga ikut terdorong. Besar peluang HBA Juni tembus US$ 90/ton. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading