Batu Bara Siap-siap Balik ke US$ 90/ton, tapi Awas Kepleset!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
14 April 2021 11:20
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal ICE Newcastle berjangka bersiap kembali tembus level psikologis US$ 90/ton. Pada penutupan perdagangan kemarin, harga batu bara melesat 3,25% dari US$ 86,2/ton menjadi US$ 89/ton.

Setelah sebelumnya mencapai US$ 92/ton pada awal April harga batu bara cenderung ambruk. Bahkan dalam waktu sepekan harga drop 7% dan kembali ke level US$ 85/ton.

Hanya saja sejak pertengahan Maret walau harga batu bara turun tetapi sulit keluar ke bawah level US$ 85/ton. Sudah jelas bahwa hal ini membuat rata-rata harga batu bara sepanjang tahun 2021 jauh lebih tinggi dari rata-rata harganya pada periode yang sama tahun lalu.


 

Bagaimanapun juga harga batu bara termal Australia masih didukung dengan harga batu bara acuan China yang juga terbilang masih mahal. Minggu lalu harga batu bara termal Qinhuangdao naik 7% dan membawanya ke level RMB 748/ton.

Harga tersebut tentu saja berada jauh di atas rentang target harga pemerintah di RMB 500 - RMB 570/ton.

Tren arus perdagangan batu bara dunia juga mengalami perbaikan. Hal ini tampak dari aliran perdagangan batu bara yang meningkat di bulan November tahun lalu di kisaran 80 juta ton menjadi hampir 100 juta ton pada Desember.

Namun ada hal yang perlu dikhawatirkan juga terutama terkait kenaikan kasus infeksi wabah Covid-19. Kali ini kenaikan kasus yang tinggi terjadi di negara konsumen batu bara terbesar kedua di Asia setelah China yaitu India.

India terus mencatatkan kenaikan kasus infeksi Covid-19 yang tak terbendung. Kasus harian baru yang tercatat mengungguli rekor tertinggi sebelumnya. Lonjakan kasus Covid-19 membuat pemerintah India mempertimbangkan menerapkan lockdown di daerah Maharasahra akibat jumlah kasus Covid-19 yang masih tinggi.

India kini menjadi negara dengan kasus positif Covid-19 terbesar kedua di dunia mengalahkan Brasil karena lonjakan infeksi dalam beberapa minggu terakhir.

Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan dilaporkan menyalahkan gelombang kedua infeksi dan kurangnya komitmen warga untuk memakai masker dan mempraktikkan jarak sosial sebagai penyebab melonjaknya kasus Covid-19 di India, seperti dikutip dari CNBC International, Senin (14/4/2021).

Kenaikan kasus yang semakin tak terkendali di India berbahaya bagi pemulihan ekonomi dan permintaan si batu legam. Apalagi India sekarang lebih banyak bertumpu ke Negeri Kanguru untuk memasok kebutuhan batu bara domestiknya. 

Di bulan Februari impor batu bara dari China dan India juga melambat. Hal ini sempat memicu koreksi harga di bulan pertama tahun ini.

Di kawasan Asia Tenggara impor dari Thailand juga tak terlalu bagus. Impor batu bara termal Thailand (termasuk batu bara bituminus dan batu bara sub-bituminus) pada bulan Februari mencapai 1,87 juta ton atau turun 22% dari tahun lalu tetapi naik 5% dari bulan lalu apabila mengacu pada data bea cukai.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading