Ternyata Batu Bara Masih Kuat Nanjak, Harganya Tembus US$ 63

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
19 November 2020 11:05
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Bongkar Muat Batu bara di Terminal Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kontrak batu bara termal Newcastle ternyata masih kuat untuk naik kendati isu boikot batu legam asal Australia itu santer berembus. Kini harga kontrak batu bara masih kokoh di level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. 

Pada perdagangan Rabu (18/11/2020) harga kontrak batu bara termal itu ditutup menguat 0,88% ke US$ 63,05/ton. Ini menjadi harga tertinggi sejak 3 April 2020. Sejak 9 November pergerakan harga batu bara seperti kehabisan bahan bakar sebelum akhirnya menguat lagi kemarin. 


Impor batu bara termal dan kokas China dari Australia memang drop signifikan karena pemerintah dikabarkan memberi instruksi informal bagi pelaku industrinya untuk menjauhi produk batu bara asal Negeri Kanguru itu. 

Berdasarkan data Refinitiv, ekspor Australia untuk jenis batu bara kokas dan batu bara termal ke China mencapai 3,35 juta ton pada Oktober atau naik sedikit dari 3,31 juta pada September, tetapi turun drastis dari 12,33 juta pada Juni yang menjadi bulan terkuat sepanjang tahun ini.

Namun sebenarnya China juga masih punya masalah yang serius. Ketatnya pasokan membuat harga batu bara domestiknya melambung. Terakhir pekan lalu harga batu bara termal Qinhuangdao dipatok di RMB 618/ton atau setara dengan US$ 94,15/ton.

Harga batu bara termal lokal China sudah melampaui batas atas harga batu bara yang ditetapkan pemerintah yaitu RMB 570/ton. 

Selain karena harga batu bara domestik China yang masih sangat tinggi, kenaikan ekspor Australia ke beberapa negara lain setidaknya masih mampu mengimbangi anjloknya ekspor ke Negeri Tirai Bambu. 

Ekspor ke India dalam pada bulan September tahun ini tercatat sebesar 5,97 juta ton. Namun, impor batu bara India dari Australia sebagian besar merupakan batu bara kokas dan oleh karena itu hanya berdampak kecil pada harga batu bara termal.

Di luar China, pelanggan batu bara termal utama Australia adalah Jepang dan Korea Selatan, yang memberikan gambaran yang lebih positif bagi penambang batu bara asal Negeri Kanguru.

Ekspor Australia ke Jepang sedikit meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Ekspor batu bara tercatat mencapai 8,3 juta ton di bulan Oktober dan 8,45 juta di bulan September. Ekspor pada dua bulan tersebut menjadi yang terbaik sejak Maret.

Pengiriman ke Korea Selatan mencapai 4,95 juta ton pada Oktober atau mengalami kenaikan dari 4,24 juta pada September dan menjadi ekspor Australia terkuat sejak Desember tahun lalu.

Menambah sentimen positif untuk harga adalah berita baik terkait perkembangan terbaru vaksin Covid-19 Pfizer, BioNTech dan Moderna yang menjanjikan. Optimisme di pasar meningkat dan harga-harga komoditas pun terangkat. Itulah faktor-faktor yang membuat harga batu bara masih mampu menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading