Harga Batu Bara to the Moon, Bakal Tembus Rekor Baru nih!

Market - Tirta, CNBC Indonesia
11 May 2021 12:04
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara naga-naganya bakal tembus rekor tertinggi barunya. Pada penutupan perdagangan kemarin harga si batu legam naik 2,4% dan tembus US$ 98,25/ton. 

Kini harga batu bara termal ICE Newcastle sudah semakin mendekati level tertingginya di sepanjang tahun di US$ 98,4/ton akhir Maret lalu. Harga kontrak berjangka (futures) batu bara naik 2,55% minggu lalu. Namun jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu harga batu bara sudah naik 81%.


Apek pemulihan ekonomi global terutama ditopang oleh China memberikan angin segar bagi harga-harga komoditas, tak terkecuali harga batu bara.

Sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia, peningkatan konsumsi listrik di Negeri Panda sebesar 7% sudah cukup untuk mengerek naik harga si batu legam ke level tertinggi beberapa tahun. 

Masalahnya kondisi pasokan di China juga sedang menipis dengan adanya berbagai pembatasan aktivitas penambangan. Hal ini membuat harga batu bara termal acuan China Qinhuangdao harganya melesat tajam dan berada di atas rentang target yang disasar pemerintah dalam satu tahun terakhir. 

Hal inilah yang membuat China terus melonggarkan kuota impor agar margin laba perusahaan utilitas tak terus tergerus. Kenaikan permintaan China turut mendongkrak harga batu bara global.

Isu penurunan produksi di Indonesia pada kuartal pertama, tersendatnya jalur distribusi di Afrika Selatan hingga cuaca ekstrem yang membuat Australia mengalami kendala dalam pengiriman batu bara lintas laut turut menjadi pemicu melesatnya harga komoditas energi ini di tengah adanya risiko turun akibat lonjakan kasus di India. 

Bagaimanapun juga tensi geopolitik antara China dengan Australia juga turut mendinamisasi pasar batu bara global tak hanya di kawasan Asia Pasifik saja. Untuk urusan impor batu bara termal China memilih RI sebagai pemasok.

Namun China 'ogah' dipasok batu bara kokas dari Australia. Berbeda dengan batu bara termal yang banyak digunakan sebagai bahan bakar di pembangkit listrik, batu bara kokas banyak digunakan untuk industri manufaktur dan pembuatan baja.

Secara umum batu bara kokas memiliki nilai kalori yang lebih tinggi. Harga batu bara kokas juga cenderung premium ketimbang harga batu bara termal. Sebagai penggantinya China beralih mengimpor batu bara kokas dari AS dan Kanada.

Ekspor AS ke China naik lebih dari lima kali lipat menjadi 2,11 juta ton, sementara ekspor Kanada naik 51% menjadi 2,3 juta ton. Sementara itu Australia kini lebih banyak mengekspor batu baranya ke India. Pengiriman Australia ke India naik 45% secara kuartalan menjadi 15,18 juta ton.

Adanya perang dagang antara China dengan Australia ini membuat RI diuntungkan. Pasalnya RI juga merupakan produsen batu bara di dunia dengan produksi lebih dari 500 juta ton per tahun.

Tahun ini produksi diperkirakan bakal lebih tinggi dari 550 juta ton, mengingat adanya kenaikan harga batu bara dan permintaan yang mulai pulih ditopang oleh ekspansi ekonomi China.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading