Parah! Malaysia Lockdown, Harga CPO Jeblok ke Nilai Terendah

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 June 2021 07:20
Residents wearing face mask stand behind barbwire outside Pangsapuri Permai, residential area placed under the enhanced movement control order (EMCO) due to drastic increase in the number of COVID-19 cases recorded over the past 10 days in Cheras, outskirt of Kuala Lumpur, Malaysia, Friday, May 28, 2021. Malaysia's latest coronavirus surge has been taking a turn for the worse as surging numbers and deaths have caused alarm among health officials, while cemeteries in the capital are dealing with an increasing number of deaths. (AP Photo/Vincent Thian)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) anjlol ke bawah RM4.000 per ton di pekan ini. Langkah pemerintah Malaysia yang resmi menerapkan lockdown atau penguncian wilayah memberikan tekanan bagi minyak nabati ini.

Melansir data Refinitiv, pada Selasa pagi (1/6/2021) harga CPO kontrak Agustus di Bursa Derivatif Malaysia jeblok 1,7% ke RM 3.852/ton. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 20 April lalu. Selasa sore kemarin, harga CPO berhasil pulih dan berada di RM 3.919/ton, atau stagnan dibandingkan harga penutupan Senin kemarin.

Malaysia resmi menerapkan lockdown nasional secara total untuk semua sektor sosial dan ekonomi mulai Selasa kemarin 1 Juni hingga 14 Juni.


Hal tersebut dilakukan setelah pada Jumat (28/5/2021) negara itu memecahkan rekor infeksi harian baru dengan angka 8.290 kasus infeksi. Angka tersebut angka yang tertinggi dalam sejarah pandemi Covid-19 di Malaysia.

Pengumuman lockdown total disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin.

"Hanya sektor ekonomi dan jasa penting yang akan diizinkan untuk beroperasi," ujar Muhyiddin dilansir Straits Times, Sabtu (29/5/2021).

Desakan untuk lockdown total sudah muncul sebelum keputusan Muhyiddin.

Sebelumnya Sultan Negara Bagian Johor, Sultan Ibrahim Iskandar, meminta pemerintah Malaysia mempertimbangkan penguncian penuh alias "full lockdown".

Kenaikan kasus Covid-19 di Malaysia bahkan lebih ngeri ketimbang India jika melihat salah satu indikator epidemiologi berupa kenaikan kasus per 1 juta penduduk di Malaysia sudah lebih tinggi dibandingkan dengan India.

Berdasarkan catatan CNBC International, rata-rata kasus infeksi Covid-19 harian di Malaysia per satu juta orang mencapai angka 205, jauh lebih tinggi ketimbang India yang mencapai 150.

Populasi Malaysia memang tak sebesar India karena hanya menampung 32 juta penduduk. Jelas jauh sekali jika dibandingkan dengan Negeri Bollywood. Namun jika angka pertambahan kasus harian per satu juta penduduknya lebih tinggi maka sudah jelas Malaysia sedang dalam keadaan darurat.

Tekanan lockdown terhadap CPO terlihat dari kemerosotan harganya di saat harga minyak mentah melesat. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) hari ini naik lebih dari 2%, sementara Brent 1,4%.

Minyak nabati seperti CPO banyak digunakan sebagai bahan baku biodiesel yang merupakan produk substitusi bahan bakar fosil. Ketika harga minyak naik, ada kecenderungan harga minyak nabati juga ikut terangkat. Tetapi hari ini, CPO masih turun meski harga minyak mentah naik tajam.

Pada Senin (31/5/2021), harga kontrak CPO pengiriman Agustus juga drop menjadi RM 85/ton atau setara dengan 2,12% ke RM 3.925/ton. Padahal akhir pekan lalu harga CPO berhasil ditutup di RM 4.010/ton.

Sepanjang pekan lalu, harga CPO naik 0,5%. Kendati ekspor Malaysia melesat fantastis di bulan April, tetapi kenaikan kasus Covid-19 menjadi penghambat kenaikan harga lebih lanjut selain harga juga sudah tergolong tinggi.

Berdasarkan data pemerintah yang baru Jumat lalu, ekspor Malaysia pada bulan April naik 63% dari tahun sebelumnya dan menjadikannya laju pertumbuhan tercepat dalam lebih dari dua dekade.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading