Newsletter

Dear Investor Saham & Kripto, Sebelum Trading Simak Kabar Ini

Market - Tirta, CNBC Indonesia
21 May 2021 06:24
Janet Yallen

Jakarta, CNBC Indonesia - Data neraca dagang Indonesia bulan April sudah dirilis kemarin. Hasilnya RI empat bulan berturut-turut sukses mencatatkan surplus dari berdagang. Harapan ekonomi ngegas terutama di kuartal kedua semakin tinggi. Namun sayang belum mampu menjadi katalis positif untuk kinerja aset keuangan RI. 

Saham-saham di bursa domestik melejit, tetapi rupiah dan obligasi pemerintah masih kena tekanan. Kemarin (20/5/2021), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,64% setelah di perdagangan sebelumnya ambles lebih dari 1%.


IHSG sukses memimpin kenaikan jika dibandingkan dengan indeks acuan saham bursa utama Asia. Ketika IHSG terapresiasi, aset ekuitas di Benua Kuning ditutup variatif. Bersama dengan IHSG, indeks Nikkei Jepang dan Straits Times Singapura berhasil melenggang ke zona hijau dengan kenaikan masing-masing 0,19% dan 0,18%, 

Bursa Hong Kong yang baru buka pasca libur langsung ditutup dengan koreksi. Indeks Hang Seng turun 0,5%. Sementara itu indeks Shang Hai Composite dan Kospi masing-masing turun 0,11% dan 0,34%. 

Berbeda nasib dengan IHSG, obligasi pemerintah ditutup variatif. Mayoritas SBN berdenominasi rupiah mengalami penurunan harga yang tercermin dari kenaikan imbal hasilnya (yield). 

Namun yield SBN dengan tenor 1, 10 dan 30 tahun cenderung turun yang berarti harga naik. Untuk surat utang pemerintah AS dengan tenor 10 tahun yang juga menjadi benchmark, yield-nya juga mengalami penurunan. 

Hanya saja penurunan yield untuk SBN tenor 10 tahun cenderung tipis karena hanya terpangkas 0,6 basis poin (bps) saja. Yield SBN 10 tahun saat ini berada di 6,49% atau nyaris mendekati coupon rate-nya di 6,5%. 

Nilai tukar rupiah justru terdepresiasi cukup dalam terhadap greenback. Di pasar spot US$ 1 dibanderol sebesar Rp 14.370 atau mengalami penurunan sebesar 0,48% dibanding perdagangan sebelumnya di Rp 14.275/US$. 

Rupiah justru melemah saat surplus neraca dagang bulan April mencapai posisi tertingginya di sepanjang tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor naik 52% (yoy) dan impor naik 29% (yoy). 

Nilai dan kenaikan ekspor yang lebih tinggi ketimbang impor membuat RI berhasil mencatatkan surplus sebesar US$ 2,2 miliar atau setara dengan Rp 31,46 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.300/US$.

Sejak Januari RI cuan terus dari pos perdagangan internasionalnya. Suatu kondisi yang sangat jarang dijumpai kecuali saat pandemi seperti sekarang ini. Secara keseluruhan Indonesia berhasil membukukan surplus neraca dagang sebesar US$ 7,7 miliar atau setara dengan Rp 110,1 triliun. 

Halaman 2>>

Wall Street Akhirnya Bangkit Setelah Lesu 3 Hari Beruntun
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading