Saham Grup Lippo Liar, Disiram Sentimen Kawin Gojek-Tokopedia

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
19 May 2021 10:58
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah saham Grup Lippo bergerak beragam pagi ini, Rabu (19/5/2021). Penguatan saham dipimpin oleh induk holding PT Multipolar Tbk (MLPL).

Sementara, setelah sempat menghijau, duo saham Matahari, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dan PT Matahari Departmen Store Tbk (LPPF) malah ambles ke zona merah.

Sentimen yang mempengaruhi gerak saham-saham Grup Lippo, khususnya MLPL dan MPPA, ialah terkonfirmasinya kabar masuknya Gojek ke MPPA dan penggabungan (merger) Gojek-Tokopedia, Senin (17/5) lalu.


Berikut gerak sejumlah saham Grup Lippo, pukul 10.29 WIB.

  1. Multipolar (MLPL), +10,98%, ke Rp 384, transaksi Rp 265 M

  2. Star Pacific (LPLI), +4,66%, ke Rp 202, transaksi Rp 495 juta

  3. Bank Nationalnobu (NOBU), +1,24%, ke Rp 815, transaksi Rp 155 juta

  4. Lenox Pasifik Investama (LPPS),+0,84%, ke Rp 120, transaksi Rp 551 juta

  5. Siloam International Hospitals (SILO), +0,30%, ke Rp 8.425, transaksi Rp 423 juta

  6. Link Net (LINK), -0,50%, ke Rp 3.980, transaksi Rp 3 M

  7. Matahari Putra Prima (MPPA), -1,42%, ke Rp 1.040, transaksi Rp 104 M

  8. Matahari Department Store (LPPF), -1,89%, ke Rp 1.820, transaksi Rp 29 M

  9. Multipolar Technology (MLPT), -1,90%, ke Rp 1.810, transaksi Rp 236 juta

  10. Lippo Karawaci (LPKR), -5,75%, ke Rp 164, transaksi Rp 11 M

  11. Lippo Cikarang (LPCK), -6,81%, ke Rp 1.095, transaksi Rp 1 M

Berdasarkan data di atas, dari 11 saham Lippo yang diamati, 5 saham menguat dan 6 sisanya anjlok ke zona merah.

Adapun saham MLPL menjadi yang paling menguat, dengan kenaikan 10,98% ke Rp 384/saham. Nilai transaksi saham MLPL sebesar Rp 265 miliar, berada di posisi pertama saham dengan nilai transaksi terbesar pagi ini.

Dengan ini, saham MLPL berhasil mencatatkan reli penguatan selama 3 hari beruntun, atau sejak Senin (17/5). Praktis, dalam sepekan saham MLPL sudah melonjak tajam 77,57%, sementara dalam sebulan 'terbang' 136,02%.

Sementara, dua saham anak usahanya, pengelola gerai Hypermart MPPA dan pemilik toko Matahari LPPF malah terbenam di zona merah, setelah di awal perdangan sempat menghijau.

Saham MPPA melorot 1,42% ke Rp 1.040/saham, setelah sempat naik sampai ke Rp 1.090/saham pagi ini. Nilai transaksi saham MPPA juga tergolong ramai pagi ini, yakni sebesar Rp 104 miliar.

Investor tampaknya mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking) di saham ini, setelah 2 hari sebelumnya melaju kencang secara berturut-turut sebesar 8,19% dan 14,05%.

Dalam seminggu terakhir saham MPPA sudah melejit 31,21%, sementara dalam sebulan melesat 47,52%.

Setali tiga uang, saham LPPF tergerus 1,89% ke Rp 1.820/saham dengan nilai transaksi Rp 29 miliar. Para pelaku pasar juga tampaknya melakukan profit taking setelah Senin-Selasa lalu saham ini naik 0,87% dan 6,30%.

Sebenarnya, akhir-akhir ini saham MLPL dan MPPA didorong oleh sentimen positif.

Terbaru, pihak Multipolar baru saja mengonfirmasi masuknya PT Aplikasi Karya Anak Bangsa alias Gojek ke saham MPPA.

Sebelumnya, Multipolar sebagai induk usaha melepas saham sebanyak 11,9% ke tiga entitas perusahaan. Dari 11,9% saham MPPA yang dilepas itu, masing-masing dibeli Panbridge Invesment Ltd sebesar 3,33%, Threadmore Capital Ltd sebesar 3,81%, dan PT Pradipa Darpa Bangsa sebesar 4,76%.

Melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (11/5/2021), manajemen MLPL menjelaskan PT Pradipa Darpa Bangsa adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis.

Sebanyak 99,996% saham Pradipa itu dipegang oleh PT Aplikasi Karya Anak Bangsa, pemilik Gojek, dan sebesar 0,004% dipegang oleh PT Dompet Karya Anak Bangsa alias GoPay.

Namun, sentimen negatif yang juga bisa mempengaruhi saham MLPL ialah terkait kabar resminya penggabungan entitas antara Gojek dan Tokopedia di bawah nama GoTo.

Sebagaimana diketahui, Multipolar memiliki saham di layanan aplikasi pembayaran OVO, yang merupakan salah satu mitra Tokopedia, lewat PT Visionet Internasional.

Namun, seiring bergabungnya Gojek dengan Tokopedia, pertanyaan kemudian muncul: Bagaimana nasib OVO di Tokopedia? Apakah akan tergeser dengan Gopay, dompet digital yang dimiliki Gojek?

Diwartakan oleh CNBC Indonesia, Selasa (18/5), menjawab hal tersebut, Head of Corporate Communication OVO Harumi Supit menjelaskan, perseroan secara terbuka akan terus menjalankan strategi ekosistem terbuka yang mengedepankan kolaborasi untuk mendorong inklusi keuangan.

"Untuk itu, tidak ada perubahan layanan OVO di platform Tokopedia maupun mitra e-commerce OVO lainnya," kata Harumi kepada CNBC Indonesia, Selasa (18/5/2021).

Menurutnya, merger perusahaan berstatus decacorn dan unicorn tersebut merupakan langkah positif bagi perkembangan lanskap digital Indonesia yang terus tumbuh dan berkembang, terutama di tengah akselerasi digitalisasi selama masa pandemi Covid-19.

"Ini merupakan potensi yang luar biasa bagi OVO untuk mendukung percepatan peningkatan inklusi keuangan secara merata, dengan memberikan akses untuk berbagai layanan keuangan sebagai bagian dari ekosistem OVO," katanya.

VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak mengatakan Tokopedia tetap akan menyediakan puluhan metode pembayaran untuk mempermudah pengguna bertransaksi online dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mergernya Gojek dengan Tokopedia memang menimbulkan pertanyaan soal nasib OVO. Pasalnya, Tokopedia merupakan salah satu pemegang saham terbesar OVO. Selain Tokopedia ada Grab sebagai pemegang saham besar lainnya.

Pasca merger, GoTo Grup memiliki dompet digital GoPay yang merupakan kompetitor OVO. Sementara Grab merupakan kompetitor Gojek di Asia Tenggara.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading