Newsletter

Masa Iya IHSG Kalah Pamor dari "Anak Kemarin Sore" Bitcoin?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 April 2021 06:01
Masih Dihantui Virus Corona, IHSG Merah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri bervariasi pada perdagangan Rabu kemarin, setelah merah dalam 2 hari perdagangan sebelumnya. Kabar baiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu melesat tinggi dan kembali ke atas 6.000.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (15/4/2021) IHSG perlu usaha lebih besar untuk melanjutkan penguatan, sebab bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street, terkoreksi pada perdagangan Rabu waktu setempat. Selain itu, pasar saham kini mendapat pesaing dari bitcoin CS yang daya tariknya sebagai aset investasi terus meningkat. Bitcoin yang mulai menggerogoti pasar saham, serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi pergerakan IHSG, rupiah, hingga SBN akan dibahas pada halaman 3 dan 4.


IHSG kemarin melesat 2,07% ke 6.050,276, setelah melemah dalam 3 hari beruntun. Data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 305 miliar di pasar reguler. Jika ditambah pasar nego dan tunai, net buy tercatat Rp 1,03 triliun. Nilai transaksi mencapai Rp 10,23 triliun.

IHSG mendapat sentimen positif dari Wall Street yang pada perdagangan Selasa waktu setempat bervariasi, tetapi indeks S&P 500 sukses mencatat rekor tertinggi sepanjang masa.

Selain itu, kenaikan inflasi di AS tidak setinggi yang ditakutkan pelaku pasar, dan ekspektasi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan menaikkan suku bunga di akhir tahun ini meredup. Pelaku pasar pun kembali mengalirkan investasinya ke pasar saham.

Sementara itu rupiah stagnan melawan dolar AS di Rp 14.600/US$, dan bergerak dalam rentang sempit.

Kabar kurang sedap datang dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), yang kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

IMF kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini menjadi 4,3%, dibandingkan proyeksi yang diberikan bulan Januari lalu sebesar 4,8%. Pada bulan Oktober tahun lalu, IMF bahkan memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan melesat 6,1%.

Wakil Direktur IMF untuk Departemen Asia dan Pasifik, Jonathan Ostry, mengatakan bahwa peningkatan kasus Covid-19 dan lockdown yang kembali diberlakukan di beberapa wilayah membuat prospek pertumbuhan ekonomi beberapa negara Asia Tenggara menurun.

"Kami khawatir tentang prospek pariwisata, kapan sektor tersebut akan dibuka kembali," kata Ostry pada Rabu (14/4/2021), dikutip dari CNBC International.

Indonesia, Malaysia, dan Filipina, kata, dia, termasuk di antara mereka yang harus memperketat beberapa pembatasan tahun ini menyusul lonjakan kasus Covid-19. Vaksinasi berjalan lebih lambat dibandingkan dengan banyak negara di dunia.

Sementara itu dari pasar obligasi, mayoritas Surat Berharga Negara (SBN) mengalami pelemahan yang tercermin dari kenaikan yield.

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika harga obligasi turun maka yield akan naik, begitu juga sebaliknya.

Kemarin, hanya SBN tenor 3 tahun dan 2 tahun yang yield-nya mengalami penurunan, sisanya naik.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Wall Street Bervariasi Lagi, S&P 500 Terkoreksi Dari Rekor Tertinggi

Wall Street Bervariasi Lagi, S&P 500 Terkoreksi Dari Rekor Tertinggi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading