Simak 7 Kabar Ini, Penting untuk Cari Cuan dari Saham

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
14 April 2021 08:44
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepinya nilai transaksi menyebabkan laju bursa saham domestik terkoreksi pada perdagangan Selasa kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,36% ke level 5.927,43 poin.

Data perdagangan menunjukkan, nilai transaksi harian kemarin mencapai Rp 9,29 triliun dengan frekuensi sebanyak 969,82 ribu. Sementara itu, pelaku pasar asing cukup agresif melakukan jual bersih senilai Rp 459,89 miiar.

Cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia sebelum memulai perdagangan Rabu ini (14/4/2021):


1. Rudy Tanoe Kebut Rights Issue ZBRA Kelar Semester I-2021

Manajemen emiten layanan supply chain logistik, PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA), menargetkan skema penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) akan selesai di semester pertama tahun ini.

Perseroan akan meminta restu pemegang saham untuk menambah modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) II atau rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 3,43 miliar saham baru yang akan dilaksanakan pada 7 Mei 2021 mendatang.

Namun, untuk pelaksanaan rights issue diharapkan akan selesai sebelum 28 Juni 2021 karena perseroan mengacu kepada periode laporan keuangan yang berakhir 31 Desember 2020.

Belum ditentukan harga pelaksanaan rights issue tersebut. Namun, Rudy Tanoesoedibjo, selaku kuasa Direksi Zebra membeberkan, nilainya akan lebih rendah dari posisi harga saham ZBRA setelah suspensi kedua yakni di level Rp 840 per saham.

"Rights issue tidak sampai Rp 840 per saham, harganya di bawah itu," katanya kepada awak media dalam paparan publik insidentil, Selasa (13/4/2021) di Gedung Satrio Tower, Jakarta.

2. Konversi Utang, DSSA Resmi Pegang 20% Saham Smartfren

Perusahaan energi dan infrastruktur milik grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kembali mengkonversi piutangnya dari Obligasi Wajib Konversi (OWK) menjadi saham di sister company-nya PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

Sekretaris Perusahaan DSSA Susan Chandra mengatakan saham hasil konversi ini telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 April 2021.

"Dengan konversi ini, kepemilikan saham Perseroan dan entitas anak di Smartfren menjadi sekitar 19,9%," katanya dalam keterbukaan informasi di BEI, Selasa (13/4/2021).

3.Lepas Ruas Tol Semarang & Cinere, Waskita Kantongi Rp 2 T

Perusahaan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Waskita Karya Tbk(WSKT) melakukan divestasi sebagian saham dari dua tol yang dimilikinya kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI. Nilai transaksi tersebut mencapai Rp 2,065 triliun atas ruas tol Semarang-Batang dan Cinere-Serpong.

Hal ini disampaikan perusahaan dalam akun iIstagram resminya @waskita_karya. Pelepasan tersebut dilakukan melalui anak usahanya PT Waskita Toll Road (WTR). Pelepasan ini ditandai penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (PJBB) antara WTR dan SMI pada Senin (12/4/2021).

"Bentuk jual beli bersyaratnya sendiri adalah dengan metode konversi saham (share swap) terhadap dua tol milik dari WTR. Divestasi ini melibatkan pelepasan 20% saham milik WTR di ruas tol Semarang-Batang dan 34,99% saham WTR di ruas tol Cinere-Serpong kepada PT SMI," tulis unggahan tersebut, dikutip Selasa (13/4/2021).

4. Ada Dividen Freeport, Inalum Cetak Laba Rp 698 M di 2020

PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum atau dikenal juga dengan nama Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertambangan MIND ID mencatatkan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2020 menjadi Rp 698,17 miliar, melonjak dari rugi bersih Rp 1,2 triliun pada 2019.

Hal ini terlihat dari Laporan Keuangan Inalum konsolidasi hingga 31 Desember 2020 yang dipublikasikan di situs Singapore Exchange (SGX) pada 1 April 2021 lalu.

Adapun nilai tersebut merupakan bagian dari total laba tahun berjalan 2020 yang mencapai Rp 1,82 triliun, naik dari 2019 yang sebesar Rp 24,54 miliar. Sementara selisihnya merupakan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada kepentingan non pengendali pada 2020 mencapai Rp 1,12 triliun, turun dari Rp 1,22 triliun pada 2019.

Bank Milik Alim Markus Siap Tambah Modal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading