Newsletter

Paman Sam Kirim Kabar Gembira, Yakin Deh IHSG-Rupiah Perkasa!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 April 2021 06:13
Masih Dihantui Virus Corona, IHSG Merah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri kembali melemah pada perdagangan Selasa kemarin. Semua aset-aset salam negeri merah. Lonjakan kasus pandemi penyakit virus corona (Covid-19) di India turut menghantui pasar keuangan dalam negeri.

Pada perdagangan hari ini, Rabu (14/4/2021), Amerika Serikat (AS) mengirim kabar gembira yang bisa membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rupiah, hingga obligasi Indonesia bangkit. Penggerak pasar hari ini akan dibahas pada halaman 3 hingga 5. 

IHSG pada perdagangan kemarin melemah 0,36% ke 5.927,435. Setelah sebelumnya sempat merosot lebih dari 1%. IHSG kini sudah melemah dalam 3 hari beruntun.


Data perdagangan mencatat investor asing kemarin melakukan aksi jual bersih sebesar Rp 477 miliar di pasar reguler, dengan nilai transaksi Rp 9,31 triliun. Pada Senin lalu, investor asing juga net sell sebesar Rp 521 miliar, artinya dalam 2 hari terakhir terjadi capital outflow dari pasar saham nyaris Rp 1 triliun.

Sementara itu rupiah melemah tipis 0,07% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.600/US$, dengan rentang pergerakan hanya di kisaran Rp 14.580 - 14.600/US$.

Di awal pekan, rupiah membukukan pelemahan 0,21%, dan sebelumnya juga melemah dalam 8 pekan beruntun dengan total 4,37%. Melihat pergerakan rupiah yang sempit kemarin, ada kemungkinan akan terjadi pergerakan besar hari ini merespon rilis data inflasi AS.

Lonjakan kasus Covid-19 membuat pemerintah India mempertimbangkan menerapkan lockdown di daerah Maharasahra akibat jumlah kasus Covid-19 yang masih tinggi. India kini menjadi negara dengan kasus positif Covid-19 terbesar kedua di dunia mengalahkan Brasil karena lonjakan infeksi dalam beberapa minggu terakhir.

Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan dilaporkan menyalahkan gelombang kedua infeksi dan kurangnya komitmen warga untuk memakai masker dan mempraktikkan jarak sosial sebagai penyebab melonjaknya kasus Covid-19 di India, seperti dikutip dari CNBC International, Senin (14/4/2021).

Dalam beberapa pekan terakhir masyarakat India menyelenggarakan festival keagamaan, kampanye politik pada pemilihan umum negara bagian dan banyak warga yang mengikuti aktivitas ini tanpa menggunakan masker dan menjaga jarak.

Lonjakan kasus di India tersebut kini menghantui Indonesia yang memasuki bulan Ramadhan dengan fenomena mudik. Meski pemerintah sudah melarang mudik, tetap saja pelaku pasar sedikit was-was.

Tidak hanya IHSG dan rupiah, obligasi Indonesia juga mengalami pelemahan. Hal tersebut tercermin dari kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) di semua tenor.

Kemarin, pemerintah Indonesia kembali mengadakan lelang obligasi kemarin, dan hasilnya membaik ketimbang lelang sebelumnya. Target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp 30 triliun, sementara yang dimenangkan Rp 24,2 triliun. Total penawaran yang masuk sebesar Rp 42,9 triliun.

Meski yang dimenangkan lebih rendah dari target indikatif, tetapi lelang kali ini sudah lebih baik dari sebelumnya yang jauh di bawah target.

Pada lelang 30 Maret lalu, pemerintah menetapkan target indikatif sebesar Rp 30 triliun, yang dimenangkan hanya Rp 4,75 triliun. Sehingga sehari setelahnya diadakan lelang tambahan.

Penawaran yang masuk pada lelang 30 Maret tersebut sebesar Rp 33,95 triliun. Artinya, SBN perlahan sudah mulai menarik lagi di mata pelaku pasar.


HALAMAN SELANJUTNYA >>> Wall Street Bervariasi, S&P 500 Cetak Rekor

Wall Street Bervariasi, S&P 500 Cetak Rekor
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5 6
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading