Alamak! Minyak Dunia Nasib Buruk, Harga Ambruk 3%

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
11 April 2021 10:55
Penambangan minyak mentah di AS

Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan ini merupakan pekan yang kurang menggembirakan bagi komoditas minyak dunia, di mana harga komoditas emas hitam tersebut ambruk parah hingga kisaran 2%-3% sepanjang pekan ini. Walaupun kembali merana sepanjang pekan ini, namun masih lebih baik dibandingkan dengan perdagangan pertengahan Maret lalu.

Harga minyak kontrak Brent ambles 2,94% dibanding posisi penutupan pekan lalu ke US$ 62,95/barel. Sedangkan untuk minyak kontrak West Texas Intermediate (WTI) ambruk hingga 3,47% ke US$ 59,32/barel pekan ini.


Sebenarnya harga minyak berpeluang menguat karena dolar yang sebelumnya perkasa kini mulai kehilangan tenaga dan melemah. Harga si emas hitam cenderung tertekan ketika dolar AS menguat, begitu juga sebaliknya.

Namun di saat yang sama ada sentimen lain yang membebani harga minyak mentah. Stok minyak mentah AS turun 3,5 juta barel pekan lalu. Namun persediaan bensin melonjak 4 juta barel menjadi lebih dari 230 juta barel mengacu pada data Badan Informasi Energi AS(EIA).

Kenaikan stok lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan terjadi penurunan bensin 221.000 barel.

"Jika Anda tidak perlu membuat bensin, maka Anda tidak perlu menggunakan lebih banyak minyak mentah," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho Securities kepada Reuters.

Kenaikan stok bensin AS terjadi seiring dengan peningkatan aktivitas kilang jelang musim mengemudi saat musim panas.

"Peningkatan besar dalam stok bahan bakar bukanlah hal yang diharapkan pasar dan kekhawatiran atas kecepatan pemulihan permintaan minyak muncul kembali, membuat para pedagang bertanya-tanya seberapa stabil penggunaan bahan bakar sebenarnya," kata analis Rystad Energy Bjornar Tonhaugen, mengutip Reuters.

Rusia memperkirakan bahwa dampak pandemi terhadap konsumsi minyak bisa berlangsung sampai 2023-2024. Di saat permintaan masih lemah akibat pandemi, pasokan di pasar tampaknya akan meningkat seiring dengan peningkatan produksi yang bakal dilakukan oleh para produsen.

Pekan lalu OPEC+ memutuskan untuk meningkatkan produksi sebesar 2 juta barel per hari (bph) selama tiga bulan ke depan. Di sisi lain pasar juga khawatir dengan adanya negosiasi antara AS dengan Iran untuk kembali menghidupkan perjanjian nuklirnya.

Perusahaan intelijen data Kpler mengatakan negosiasi AS-Iran berpeluang untuk meningkatkan pasokan minyak sebesar 2 juta bph di pasar. Sentimen memang campur aduk pantas saja harga minyak jadi galau bergerak.

Di lain sisi, Dana Moneter Internasional (IMF) meningkatkan proyeksi ekonomi untuk tahun ini. Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath menyebut proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini adalah 6%, naik dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yaitu 5,5%.

Jika Produk Domestik Bruto (PDB) dunia benar-benar tumbuh 6%, maka akan menjadi catatan terbaik sejak 1973. Geliat ekonomi yang lebih kencang juga diharapkan mampu mengerek naik permintaan terhadap bahan bakar seperti minyak sehingga bisa mengangkat harganya.

Namun, meningkatnya kasus Covid-19 di AS yang menyumbang lebih dari setengah dari semua kematian terkait virus Corona minggu lalu, membatasi kenaikan harga si emas hitam.

"Ada kekhawatiran secara global dengan meningkatnya kasus Covid-19 lagi dan sekarang Kanada menatap gelombang ketiga, pasar terus dihantui oleh masalah permintaan dari wabah ini," kata John Kilduff, mitra di Again Capital di New York.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading