Kilau Emas Tak Seindah Tahun Lalu, Saatnya Pindah ke Bitcoin?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
11 April 2021 08:17
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib komoditas emas sepertinya tak seindah tahun lalu, di mana harga emas tak bertahan lama berada di level US$ 1.750/troy ons. Hanya dalam sehari emas berhasil melampaui level psikologis tersebut tetapi setelahnya kembali merosot.

Walaupun tak mampu bertahan, namun dalam sepekan terakhir harga emas tercatat mengalami apresiasi 0,82%. Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (9/4/2021) harga emas dunia di pasar spot ditutup melemah 0,73% ke US$ 1.743,1/troy ons. Jika harga emas tak turun maka niscaya dalam sepekan emas telah naik lebih dari 1%.


Penguatan harga emas didukung oleh penurunan yield dan indeks dolar. Keduanya adalah musuh utama emas saat ini. Saat yield surat utang pemerintah AS menguat dan juga diikuti oleh kenaikan indeks dolar harga emas tertekan.

Kenaikan yield mencerminkan kenaikan opportunity cost memegang emas sebagai aset yang tak memberikan imbal hasil apapun. Hal inilah yang menyebabkan mengapa emas cenderung ditinggalkan oleh investor.

Selain itu prospek perekonomian yang lebih cerah juga turut menahan harga emas dari apresiasi lanjutan. Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi naik pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini menjadi 6%.

Emas sebagai aset safe haven biasanya diburu ketika selera terhadap risiko pelaku pasar memburuk. Namun saat ekonomi bangkit risk appetite pulih emas cenderung dilepas oleh pemegangnya.

Inilah yang membuat banyak orang mencari alternatif aset lain untuk lindung nilai (hedging). Salah satunya dengan membeli Bitcoin. Aset digital ini semakin populer di kalangan investor institusi.

Data bank investasi Wall Street JPMorgan mencatat adanya outflow dari emas senilai US$ 20 miliar dan inflow ke Bitcoin mencapai US$ 7 miliar. Ini menunjukkan bahwa mulai banyak investor yang agresif memburu risiko guna memperoleh cuan lebih tebal walaupun seringkali malah cenderung spekulatif.

The Fed dalam risalah rapatnya masih akan tetap membeli obligasi pemerintah guna membantu menggeliatkan kembali perekonomian yang masih lesu. Suku bunga akan dibiarkan rendah untuk waktu yang cukup lama.

Inflasi akan meningkat memang. Namun The Fed mengatakan hal tersebut hanya akan bersifat temporer. The Fed akan terus berupaya membawa inflasi ke target 2% dan mengupayakan penciptaan lapangan kerja maksimal untuk perekonomian.

Dengan kebijakan The Fed tersebut sebenarnya ada peluang membuat dolar AS melemah. Saat dolar AS mengalami pelemahan terhadap mata uang lain, greenback juga cenderung melemah terhadap bullion. Namun dalam kondisi saat ini emas sebenarnya kekurangan katalis yang kuat untuk membantunya melesat.

Sementara itu, survei yang dilakukan oleh Kitco terhadap 16 analis Wall Street dan 807 investor di Main Street menunjukkan bahwa keduanya memiliki perbedaan pendapat.

Mayoritas analis Wall Street (50%) cenderung bearish terhadap emas pekan ini. Sementara itu mayoritas investor di Main Street (47%) cenderung bullish.

Well's Fargo pun memperkirakan harga emas bisa tembus US$ 2.200 per troy ons tahun ini. Sangat bullish memang mengingat rekor harga emas tahun lalu masih di level US$ 2.000. Pernyataan ini diungkapkan oleh Kepala Strategi Aset Riil bank tersebut John LaForge.

Salah satu pemantiknya adalah suplai emas yang cenderung defisien. Hal ini bisa memicu terjadinya reli harga emas.

So, jadi prospek ke depan dalam jangka pendek untuk emas memang cenderung belum 'greget'. Namun untuk jangka panjang, sepertinya emas tak seindah tahun lalu, di mana pada tahun ini diklaim sebagai tahun pemulihan.

Jadi jika negara-negara di dunia bisa pulih, maka emas sebagai safe haven dapat terancam. Karena investor tak ragu lagi untuk berinvestasi di aset berisiko.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading