Dahlan: BUMN Karya Bernafas di Kerongkongan, Ini Faktanya

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
05 April 2021 12:11
Progres Konstruksi Jalan Tol Layang Dalam Kota Jakarta Ruas Kelapa Gading-Pulo Gebang Capai 71%. (Dok. Kementerian PUPR)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten BUMN Karya serentak berjatuhan pada sesi I perdagangan hari ini, Senin (5/4/2021). Beberapa di antaranya tercatat menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).

Kinerja fundamental emiten konstruksi pelat merah memang tertekan sepanjang tahun lalu, bahkan ada satu perusahaan yang membukukan rugi bersih sangat dalam di antara yang lainnya.

Investor tampak merespons, tulisan mantan Menteri BUMN era 2011-2014 Dahlan Iskan yang bejudul Haus Kerongkongan. Gegap gempita pembangunan proyek infrastruktur, rupanya menjadi beban berat bagi emiten konstruksi. 


Alhasil utang-pun menggunung. Ini menjadi beban keuangan yang tak bisa terelakkan untuk emiten-emiten konstruksi. Hasilnya kinerja keuangan 2020, mayoritas berantakan.

"Pekerjaan infrastruktur memang gegap gempita tahun-tahun terakhir. Tapi bisnis tetaplah bisnis: punya perilakunya sendiri. Dan perilaku itu bersumber dari satu napas: uang," ujar Dahlan dikutip Jumat (2/4/2021) dari blog resminya Disway.id.

Pekerjaan tol, lanjut Dahlan memang banyak sekali. Para BUMN Karya tersebut kata Dahlan, bisa memiliki sendiri tol itu atau hanya mengerjakan milik orang lain.

Sebagian BUMN infrastruktur ngeri dengan besarnya modal yang harus disiapkan. Mereka memilih jadi kontraktor saja.

"Tapi ada BUMN yang ambisius sekali: memiliki tol itu sekaligus mengerjakannya. Uang bisa dicari, kata mereka," tutur Dahlan.

Menurut Dahlan sekuat-kuatnya BUMN konstruksi di Indonesia tetap harus mengandalkan sumber dana dari pihak ketiga. Baik itu dari perbankan, obligasi, atau right issue di pasar modal.

Masih tetap ada jalan keluar di BUMN infrastruktur itu. Misalnya menjual jalan tol yang dimiliki, yang pasti merubah kerugian menjadi laba.

"Tapi siapa yang mau beli jalan tol di masa yang begini sulit? Tentu ada saja orang yang kelebihan uang. Masalahnya tinggal ini: mau dijual dengan harga berapa?," tanya Dahlan.

"Beberapa kali saya berharap lewat Disway bulan-bulan lalu: semoga SWF segera jalan. Dan dana dari Amerika, Uni Emirat Arab, Jepang dan Kanada itu segera masuk ke SWF. Ada yang sudah kehausan sampai kerongkongan," tutur Dahlan.

Berikut ini kinerja keuangan emiten-emiten BUMN Karya sepanjang tahun 2020.

Waskita Karya (WSKT)

WSKT menjadi perusahaan konstruksi pelat merah yang mencatatkan rapor kinerja keuangan paling buruk di antara yang lainnya. Pada tahun lalu, WSKT membukukan rugi bersih Rp 7,38 triliun. Rugi bersih yang amat masif ini menyapu bersih seluruh laba ditahan Waskita yang sudah dikumpulkan sejak perseroan pertama kali berdiri pada tahun 1973 sehingga ekuitas WSKT saat ini hanya tersisa Rp 7,53 triliun, lenyap lebih dari separuh tepatnya 57,88% dari posisi tahun lalu Rp 17,88 triliun.

Bahkan WSKT terpaksa membukukan rugi bruto sebesar Rp 1,97 triliun. Rugi bruto sendiri merupakan hal yang sangat negatif karena pendapatan usaha alias omset bahkan tidak dapat menutupi beban pokok pendapatan.

Alhasil, kerugian WSKT menyebabkan kas dan setara kas perseroan tersapu habis. Tercatat per akhir 2019 perseroan memiliki kas dan setara kas sebanyak Rp 9,2 triliun, sedangkan di akhir 2020 kas dan setara kas perseroan hanya tersisa Rp 1,2 triliun atau penurunan sebesar 87%.

Hal ini tentu saja sangat berbahaya bagi perusahaan yang padat modal seperti WSKT. Karena apabila kas menipis di tengah hutang perseroan yang membengkak yakni sebesar Rp 89 triliun maka resiko gagal bayar tentu saja akan meningkat apalagi di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang tidak jelas kapan akan usai.

Tercatat dari Rp 89 triliun utang WSKT, sebagian besar yakni Rp 48 triliun merupakan utang jangka pendek, sehingga perbandingan kas perseroan dengan utang jangka pendeknya atau biasa lebih dikenal dengan cash ratio berada di angka 2,5%, angka ini menunjukkan posisi kas perseroan yang sangat mini dan potensi gagal bayar yang cukup tinggi.

Wijaya Karya (WIKA)

WIKA juga mengalami penurunan kinerja yang signifikan. Laba bersih perusahaan terjun menjadi senilai Rp 185,76 miliar pada 31 Desember 2020 lalu.

Nilai tersebut jauh dari capai perusahaan di periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp 2,28 triliun, atau mengalami penurunan hingga 91,87% secara tahunan (year on year/YoY).

Turunnya pendapatan ini terutama terjadi karena turunnya pendapatan perusahaan di tahun lalu sebesar 39,23% YoY. Tercatat pada akhir tahun lalu pendapatan perusahaan senilai Rp 16,53 triliun dari sebelumnya di akhir Desember 2019 yang senilai Rp 27,21 triliun.

Sejalan dengan penurunan pendapatan ini, beban pokok pendapatan perusahaan turun menjadi Rp 15,01 triliun dari sebelumnya Rp 23,73 triliun.

Beban penjualan turun menjadi Rp 11,27 miliar dari sebelumnya Rp 13,18 miliar. Beban administrasi juga turun tipis menjadi Rp 883,29 miliar dari sebelumnya Rp 917,35 miliar.

Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE)

Sama seperti induknya, kinerja keuangan WEGE juga tertekan sepanjang tahun lalu. Pada 2020 tercatat laba bersih WEGE anjlok dalam menjadi Rp 153,28 miliar. Terjadi penurunan 66,06% secara tahunan (year on year/YoY) dari sebesar Ro 451,65 miliar di akhir 2019 lalu.

Penurunan laba bersih ini terjadi karena perusahaan juga mencatatkan penurunan pendapatan hingga 38,47% YoY. Tercatat pendapatan perusahaan mencapai Rp 2,81 triliun di akhir 2020 lalu, merosot dari Rp 4,56 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data laporan keuangan 2020, manajemen WEGE menyatakan, sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasi, telah terjadi pandemi virus Covid-19 yang mengakibatkan kenaikan nilai tukar mata uang asing dan menurunnya kegiatan di sektor ekonomi.

Dampak pandemi Covid-19 dari awal tahun 2020 sampai dengan tanggal penerbitan laporan keuangan konsolidasian cukup material bagi Grup, dikarenakan banyak pelanggan yang menutup usaha mereka sesuai dengan anjuran pemerintah masing-masing negara untuk menghentikan penyebaran Covid-19, sehingga secara langsung mempengaruhi performa Grup.

Adapun belum terealisasinya dana capital expenditure (capex) dan/atau dana IPO (dana penawaran umum saham perdana) disebabkan oleh penundaan rencana investasi hingga batas waktu tanggap darurat bencana berakhir dan daya beli masyarakat menurun sehingga berpengaruh terhadap pasar properti .

Simak Kinerja Keuangan WTON, PTPP, JSMR
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading