Saham Bank Mini Digoyang Kabar OVO, Waspada Spekulasi!

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
31 March 2021 09:05
Bank Capital Life (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham bank-bank mini alias bank dengan modal inti antara Rp 1-5 triliun (BUKU II) mendadak melesat dipimpin saham PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) pada perdagangan Selasa kemarin (30/3/2021).

Saham BACA melesat 14,98% di level Rp 545/saham setelah beberapa hari terakhir melempem karena berakhirnya euforia bank digital. Saham BACA masuk urutan kedua top gainers setelah saham PT Victoria Investama (VICO). Saham VICO melesat 34,92% ke Rp 170/saham dengan nilai transaksi Rp 10,8 miliar.

Berdasarkan data BEI, nilai transaksi saham BACA mencapai Rp 235 miliar dengan volume perdagangan 417,7 juta saham. Asing tercatat net sell alias keluar di pasar reguler sebesar Rp 1 miliar di saham BACA.


Dalam sebulan terakhir saham BACA drop 33% dan year to date masih naik 45%.

Selain BACA, saham bank lainnya yakni PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) melesat 8,12% di level Rp 173/saham dengan nilai transaksi Rp 54 miliar. Saham bank milik Akulaku dan Asabri, yakni PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga naik 3,41% di level Rp 515/saham.

Adapun saham bank-bank mini lainnya, yang sempat jadi primadona, ambles. Saham PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) turun 6,67% di level Rp 700/saham atau kena auto reject bawah (ARB).

Saham PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) juga turun 6,85% kena ARB, Rp 136/saham, berikutnya PT Bank Bumi Artha Tbk (BNGA) turun 6,91% kena ARB Rp 1.750/saham.

Sentimen terbaru soal bank digital dan bank mini ialah sinyal masuknya OVO ke Bank Capital.

Kabar pasar menyebutkan sejumlah eksekutif dari PT Visionet Internasional, pemilik brand OVO, mulai hijrah BACA, salah satunya Chief Technology Officer (CTO) OVO yang bernama Budi Santoso Kusmiantoro. Informasi yang beredar di pasar dan grup analis ini menyebutkan Budi ditunjuk menjadi CTO di Bank Capital.

Sebelumnya, dalam paparan publik 9 Maret lalu, manajemen BACA menyebutkan saat ini memang tengah melakukan sebuah transaksi yang belum bisa disampaikan kepada publik.

Hal ini terjadi setelah perusahaan disebut-sebut tengah diincar oleh sejumlah calon investor asing seperti Grab asal Singapura.

Direktur Utama Bank Capital Wahyu Dwi Aji mengatakan perusahaan belum bisa menyampaikan hal tersebut, namun tinggal menunggu waktu saja.

"Berkenaan dengan itu karena ini bersifat rahasia, tunggu tanggal mainnya saja," kata Wahyu dalam paparan publik, Selasa (9/3/2021).

Paparan publik ini dilakukan guna menjelaskan isu yang beredar. Isu itu adalah BACA akan diakuisisi oleh Grab, asal Singapura. Namun, ada peluang akuisisi dilakukan melalui sayap fintech Grab di Indonesia, yakni OVO.

Langkah ini diyakini setelah rival Grab, yakni Gojek, masuk terlebih dahulu ke PT Bank Jago Tbk (ARTO), sehingga membuat Gojek selangkah lebih maju dalam ekosistem bank digital di Indonesia.

Sementara itu, pelaku pasar juga mencermati pergerakan sumber daya manusia di Bank Capital, terutama untuk transformasi bank digital. Sejumlah nama yang dulu dikenal di fintech dan digital banking telah terlihat ada di dalam Bank Capital.

Saat ini perusahaan ini memang tengah mempersiapkan rencana penambahan modal dengan skema memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue). Targetnya dari penerbitan saham baru ini perusahaan akan mendapatkan tambahan modal hingga Rp 2 triliun.

Wahyu mengungkapkan rencananya akan dilaksanakan paling lambat pada kuartal keempat 2021.

Selain itu, saat ini perusahaan memang telah bekerja sama dengan salah satu perusahaan berbasis digital dan sedang melakukan penjajakan lebih lanjut.

Perusahaan ini disebut-sebut juga telah menjadi nasabah dan menggunakan fasilitas yang disediakan oleh Bank Capital.

"Berkenaan dengan perusahaan digital yang ada di Indonesia pada saat ini Bank Capital saat ini masih menjajaki untuk berhubungan. Namun sudah ada perusahaan yang telah menjadi nasabah dari Bank Capital dan telah menggunakan fasilitas dari digital bank yang pada saat ini walaupun belum optimal tapi penggunaan internet dan mobile banking secara keseluruhan untuk bisa mendukung kerja sama ini," terangnya.

Anggaraksa Arismunandar, Head of Research NH Korindo Sekuritas, menilai saham-saham bank mini, di luar bank yang memiliki kapitalisasi pasar besar, memang menjadi daya tarik bagi investor ritel mengambil momentum bank digital.

Bank kecil yang dimaksud ialah bank-bank mini, dengan modal inti Rp 1-5 triliun (BUKU II) yang tengah mengejar kewajiban modal minimum Rp 2 triliun tahun ini dan Rp 3 triliun tahun depan sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Mungkin [ada sentimen] masuknya investor strategis, kayak isu dari grup Shopee [Sea Group] masuk tapi gak untuk trading. Tapi jangka waktu panjang [cocok investasi]," paparnya dalam acara InvesTime CNBC Indonesia, pertengahan Maret ini.

Lebih lanjut dia mengatakan bank digital akan menjadi bank yang begitu ditopang dengan teknologi. Dengan demikian ke depan ada perbedaan pendekatan bank konvensional dan bank digital mengenai valuasi saham perusahaan.

Valuasi bank-bank kecil ini nantinya bisa menjadi perhatian investor karena bisa melebihi bank konvensional besar.

"Pertanyaannya, apakah investor sudah bisa menerima metode valuasi baru ini," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading