Saham Bank Raksasa Kolaps, Untung BCA Bisa Tahan Koreksi IHSG

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
30 March 2021 11:14
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham bank-bank besar atau bank BUKU IV (bank dengan modal inti di atas Rp 30 Triliun) kompak berguguran pada perdagangan pagi ini, Selasa (30/3/2021). Pelemahan tersebut terjadi setelah sejumlah bank mengumumkan rencana pembagian dividen.

Berikut gerak saham bank-bank besar pagi ini, pukul 10.36 WIB:

  1. Bank Permata (BNLI), saham -3,20%, ke Rp 2.120, transaksi Rp 183 juta


  2. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saham -3,18%, ke Rp 4.570, transaksi Rp 217 M

  3. Bank Negara Indonesia (BBNI), saham -2,07%, ke Rp 5.925, transaksi Rp 33 M

  4. Bank Pan Indonesia (PNBN), saham -1,38%, ke Rp 1.070, transaksi Rp 758 juta

  5. Bank Danamon Indonesia (BDMN), saham -1,06%, ke Rp 2.810, transaksi Rp 2 M

  6. Bank Mandiri (BMRI), saham -0,78%, ke Rp 6.325, transaksi Rp 39 M

  7. Bank Cimb Niaga (BNGA), saham -0,47%, ke Rp 1.050, transaksi Rp 1 M

  8. Bank Central Asia (BBCA), saham +0,31%, ke Rp 31.900, transaksi Rp 198 M

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BNLI menjadi yang paling ambruk di antara yang lainnya, yakni 3,20% ke Rp 2.120/saham. Nilai transaksi bank yang baru resmi menjadi bank BUKU IV awal tahun ini sebesar Rp 183 juta.

Dengan pelemahan ini, BNLI tercatat hanya sekali menguat dalam sepekan terakhir, yakni pada Jumat (26/3) sebesar 3,79%.

Sebelumnya, pada awal Maret lalu, BNLI mengumumkan penurunan laba bersih menjadi Rp 721,59 miliar sepanjang 2020,anjlok 51,9% dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,5 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi, penurunan laba disebabkan peningkatan impairment atau kerugian penurunan nilai aset keuangan dari Rp 1,07 triliun pada 2019 menjadi Rp 2,17 triliun pada 2020.

Selain BNLI, trio bank pelat merah yang baru-baru ini mengumumkan akan membagikan dividen perusahaan kepada para pemegang saham serentak ambles.

Pertama, BBRI anjlok 3,18% ke Rp 4.540/saham dengan nilai transaksi Rp 217 miliar. Pelemahan ini diwarnai aksi jual bersih oleh asing sebesar Rp 103,22 miliar.

Pada Kamis (25/3), Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BBRI menyetujui pembagian dividen atas laba bersih tahun 2020.

Perseroan akan membagikan dividen sebesar Rp 12,1 triliun atau 65% dari total laba bersih Bank BRI tahun lalu senilai Rp 18,65 triliun. Sementara itu sisanya sebesar 35% atau sebesar Rp 6,5 triliun akan digunakan sebagai saldo laba ditahan.

Kemudian, BBNI yang melorot 2,07% ke Rp 5.925/saham dengan catatan nilai transaksi sebesar Rp 33 miliar. Asing juga tercatat melego saham ini sebesar Rp 4,61 miliar.

BBNI akan membagikan dividen sebesar 25% dari perolehan laba bersih perseroan sepanjang tahun 2020 atau sekitar Rp 820,1 miliar. Hal ini disetujui dalam RUPST perseroan, Senin (29/3).

Dengan memperhitungkan komposisi saham milik pemerintah sebesar 60%, maka BNI akan menyetorkan dividen sebesar Rp 492,58 miliar ke rekening kas umum negara.

Ketiga, BMRI juga merosot 0,78% ke Rp 6.325/saham dengan nilai transaksi Rp 39 miliar.

Dengan pelemahan ini, BMRI melanjutkan pelemahan sejak kemarin, yang ditutup melemah 0,78% ke Rp 6.375/saham.

Sebelumnya, pada 15 Maret lalu, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BMRI menyetujui pembagian dividen sebanyak 60% dari laba bersih 2020, atau sekitar Rp 10,27 triliun. Dari total jumlah dividen yang dibagikan tersebut, setiap unit saham mendapatkan Rp 220.

Tercatat, hanya BBCA yang terus melaju di zona hijau dengan menguat 0,30% ke Rp 31.900/saham. Penguatan ini diwarnai aksi jual bersih asing sebesar Rp 6,64 miliar.

Bersamaan dengan pelaksanaan RUPST BBNI, pada Senin (29/3) RUPST BBCA memutuskan membagikan 48% dari laba bersih menjadi dividen. Investor akan meperoleh Rp 530 untuk setiap unit saham yang dimiliki.

Faktor eksternal yang membuat bursa saham domestik mengalami tekanan, dimana beberapa saham perbankan di AS yang terkena margin call pada perdagangan kemarin.

Pasar keuangan dunia sedang dilanda kecemasan gara-gara Archegos Capital yang terkena margin call. Archegos tidak mampu menyediakan tambahan jaminan saat broker memintanya.

"Inilah yang terjadi di lingkungan penuh spekulasi, Anda akan menemukan hal-hal yang salah. Ketika orang-orang mulai menaruh uang di aset yang naik beberapa waktu lalu, arah angin berubah dan mereka 'terbakar'. Pertanyaannya, seberapa besar leverage yang mereka gunakan?" tegas Richard Bernstein, CEO Richard Bernstein Advisors, seperti dikutip dari Reuters.

Kekhawatiran situasi di Archegos bakal berdampak sistemik. Nomura dan Credit Suisse disebut-sebut sebagai kreditur Archegos dalam perdagangan di pasar derivatif, sehingga dua bank kelas 'paus' itu tentu akan kena getahnya.

Khawatir terhadap dampak sistemik itu, investor kemudian 'membuang' saham-saham perbankan di Wall Street. Harga saham Citi ambles 1,97%, Goldman Sachs terkoreksi 0,51%, JPMorgan minus 1,55%, Morgan Stanley rontok 2,63%, Bank of America terpangkas 0,96%, dan Well Fargo ambrol 3,32%.

Melepas aset-aset berisiko, investor kembali beralih ke salah satu aset aman (safe haven), yakni dollar AS.

Akibatnya, dolar AS kembali menguat. Pada pukul 09:36 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,05%.

"Dolar AS menguat karena peningkatan permintaan terhadap aset aman. Investor takut dan mencoba menghindar dari efek domino Archegos," ujar Karl Schamotta, Chief Market Strategist di Cambridge Global Payments yang berbasis di Toronto (Kanada), seperti diwartakan Reuters.


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading