Nasib Kena Prank! Saham Bank Mini Dibanting Berhari-hari

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
18 March 2021 09:40
Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas saham-saham bank mini (bank dengan modal inti Rp 1-5 triliun) kompak berjatuhan pada awal perdagangan hari ini, Kamis (18/3/2021). Tercatat, beberapa di antara saham-saham tersebut menyentuh auto rejection bawah (ARB).

Berikut harga saham-saham bank mini pagi ini, pukul 09.08 WIB:

  1. Bank Bumi Arta (BNBA), saham -6,93%, ke Rp 3.090, transaksi Rp 1 M


  2. Bank Bisnis Internasional (BBSI), -6,84%, ke Rp 1.770, transaksi Rp 52 juta

  3. Bank Victoria International (BVIC), -6,84%, ke Rp 218, transaksi Rp 25 juta

  4. Bank IBK Indonesia (AGRS), -6,83%, ke Rp 750, transaksi Rp 54 juta

  5. Bank Artha Graha Internasional (INPC), -6,47%, ke Rp 260, transaksi Rp 27 juta

  6. Bank Woori Saudara Indonesia 1906 (SDRA), -4,76%, ke Rp 800, transaksi Rp 34 juta

  7. Bank Capital Indonesia (BACA), -4,44%, ke Rp 645, transaksi Rp 9 M

  8. Bank Neo Commerce (BBYB), -2,46%, ke Rp 595, transaksi Rp 3 M

  9. Bank Harda Internasional (BBHI), -2,06%, ke Rp 1.660, transaksi Rp 17 M

  10. Bank Oke Indonesia (DNAR), -1,54%, ke Rp 256, transaksi Rp 1 M

  11. Bank Ganesha (BGTG), -1,08%, ke Rp 184, transaksi Rp 17 M

Dari daftar di atas, terdapat empat saham yang menyentuh ARB, yakni BNBA, BBSI, BVIC dan AGRS.

Adapun saham BNBA mencatatkan ambles paling dalam di antara yang lainnya, yakni 6,93% ke Rp 3.090/saham dengan nilai transaksi Rp 1 miliar.

Saham ini baru beraktivitas kembali mulai pagi ini setelah sebelumnya disuspensi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 4 Maret 2021.

Sebelumnya, otoritas bursa 'menggembok' saham BNBA setelah terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham tersebut.

Praktis sejak awal tahun ini, BNBA sudah tiga kali disuspensi oleh bursa. Pertama, pada 18-19 Februari 2021, kemudian 22-26 Februari 2-21. Terakhir, pada 4-18 Maret 2021.

Selama sebulan terakhir saham BNBA sudah melejit 165,24%, sementara secara year to date (YTD) sudah meroket 871,70%.

Sebelumnya, dalam surat permintaan penjelasan kepada bursa, Senin (8/3/2021), pihak BNBA berkomitmen akan memenuhi kewajiban inti minimum sesuai POJK 12/2020. Pihak BNBA juga membuka opsi pengembangan bank digital. Manajemen perusahaan menyebutkan sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Kemudian, BNBA menegaskan sampai saat ini belum ada unicorn atau investor strategis yang berencana mengakuisisi bank

Sama seperti BNBA, saham AGRS yang baru dibuka suspensinya mulai hari ini langsung ambruk menyentuh ARB -6,83% ke Rp 750/saham.

Sebelumnya saham ini digembok pada 8 Maret 2021 setelah sahamnya terus menanjak dan bergerak liar.

Selama sebulan AGRS sudah melesat 192,97%, sedangkan secara YTD sudah melejit 393,42%.

Pihak AGRS berkomitmen menjadi bank BUKU III dengan memenuhi aturan modal inti minimum OJK.

Melalui tanggapan tertulis ke BEI pada 8 Maret lalu, Manajemen perusahaan juga menyangkal soal isu akuisisi unicorn dan rencana masuk ke bank digital.

Sementara, dalam materi PE insidentil pada 15 Maret 2021, AGRS menjelaskan akan melakukan penambahan saham baru. Ini sesuai dengan rencana sebelumnya yang dijelaskan di keterbukaan informasi pada 8 Desember tahun lalu. AGRS akan melakukan penawaran umum terbatas melalui rights issue dengan menerbitkan saham baru sekitar 7,28 miliar.

Para pelaku pasar tampaknya mulai keluar dan melakukan aksi ambil untung alias profit taking dari saham-saham bank mini dengan modal inti antara Rp 1-5 triliun (BUKU) dalam beberapa waktu terakhir.

Sebelumnya, dalam beberapa minggu terakhir saham-saham bank mini mengalami kenaikan yang luar biasa. Kenaikan tersebut digerakkan oleh sentimen narasi bank digital dan terkait konsolidasi perbankan sebagai konsekuensi dari aturan Peraturan OJK Nomor 12/POJK.03/2020.

Peraturan tersebut mengharuskan bank untuk memiliki modal inti minimum bank umum sebesar Rp 1 triliun tahun ini, Rp 2 triliun pada 2021 dan minimal Rp 3 triliun tahun 2022. Dengan aturan tersebut, bank-bank dengan modal cekak harus mencari investor strategis untuk menyuntikkan modal.

Informasi saja, sejumlah bank mini sudah memberikan tanggapan terkait isu bank digital melalui keterbukaan informasi di website BEI. BBHI, BACA dan BBYB, misalnya, berencana untuk masuk ke bank digital.

Namun, ada juga sejumlah bank mini lainnya yang menyangkal akan bertransformasi menjadi bank digital, seperti BGTG dan Bank Maspion (BMAS). Adapun Bank Jago (ARTO) dan Bank Amar Indonesia (AMAR) sudah tercatat menjadi bank digital saat ini.

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading