No Mercy! Saham Bank Mini Dibanting Lagi & Sentuh ARB

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
10 March 2021 09:48
Warga mempelajari platform investasi di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Delapan bank mini langsung terjungkal ke zona merah pada awal perdagangan hari ini, Rabu (10/3/2021). Beberapa di antara saham tersebut tercatat menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).

Berikut daftar saham bank mini (BUKU II) pada Rabu(10/3), pukul 09.20 WIB.

  1. Bank Woori Saudara Indonesia (SDRA), saham -6,96%, ke Rp 735, transaksi Rp 1 M


  2. Bank Amar Indonesia (AMAR), -6,90%, ke Rp 432, transaksi Rp 580 Juta

  3. Bank Ganesha (BGTG), -6,82%, ke Rp 246, transaksi Rp 9 M

  4. Bank Bisnis Internasional (BBSI), -6,67%, ke Rp 2.520, transaksi Rp 9 Juta

  5. Bank Harda Internasional -6,64%, ke Rp 2.250, transaksi Rp 6 M

  6. Bank MNC Internasional (BABP), -6,42%, ke Rp 102, transaksi Rp 687 Juta

  7. Bank Net Indonesia Syariah (BANK), -2,64%, ke Rp 2.210, transaksi Rp 65 M

  8. Bank Ina Perdana (BINA), -1,68%, ke Rp 1.460, transaksi Rp 450 Juta

Para pelaku pasar tampaknya mulai keluar dan melakukan aksi ambil untung dari saham-saham bank mini dengan modal inti antara Rp 1-5 triliun (BUKU) dalam beberapa hari terakhir.

Dari daftar di atas, tercatat ada enam saham yang anjlok lebih dari 6%, sementara beberapa di antaranya menyentuh ARB.

Saham SDRA mengalami ambles terparah 6,96% ke Rp 735/unit pagi ini. Nilai transaksi saham ini sebesar Rp 1 miliar.

Di tempat kedua ada saham AMAR yang terjun 6,90% ke Rp 432/unit dengan nilai transaksi Rp 580 juta.

AMAR tercatat sudah menjadi bank digital sejak tahun lalu, tepatnya pada 17 Agustus 2020.

"Perseroan merupakan bank pertama yang murni mengembangkan produk-produk bank secara digital di Indonesia melalui kedua produknya, Tunaiku (platform pinjaman digital) dan Senyumku (first mobile-only intelligent banking)," jelas manajemen AMAR dalam tanggapan tertulis atas surat Bursa Efek Indonesia, Senin (8/3).

Di posisi ketiga ada saham BGTG yang melempem dan menyentuh ARB ke 6,82% ke Rp 246/saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 9 miliar.

Informasi saja, suspensi saham BGTG baru dibuka kembali mulai hari ini oleh pihak bursa setelah 5 hari 'digembok'.

Sebelumnya, otoritas bursa melakukan suspensi atau penghentian perdagangan sementara saham BGTG sejak Rabu pekan lalu (3/3).

Tercatat, bursa sudah dua kali mensuspensi atau menghentikan sementara perdagangan saham BGTG dalam dua minggu terakhir. Sebelumnya, saham BGTG disuspensi pada 1 Maret lalu.

Lebih lanjut, saham bank yang resmi melantai di bursa pada Mei 2016 silam ini sudah terbang 261,64% dalam sebulan. Sementara, secara year to date (YTD) atau sejak awal tahun, saham bank mini ini dengan harga Rp264/saham ini sudah meroket 428,00%.

Setelah dua kali disuspensi bursa, BGTG melakukan paparan public alias public expose (PE) insidentil pada Jumat pekan lalu (5/3).

Dalam PE insidentil tersebut, manajemen BGTG menjawab sejumlah pertanyaan terkait perusahaan, termasuk mengenai isu bank digital yang santer beredar akhir-akhir ini.

Pihak BGTG menjelaskan, perusahaan belum memiliki rencana untuk menjadi bank digital saat ini.

"Namun sejak tahun 2018 Bank Ganesha telah melakukan transformasi digital untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku nasabah," kata manajemen BGTG dalam tanggapannya, Jumat (5/3).

Kenaikan harga saham yang signifikan bank mini akhir-akhir ini digerakkan oleh sentimen narasi bank digital dan terkait konsolidasi perbankan sebagai konsekuensi dari aturan Peraturan OJK Nomor 12/POJK.03/2020.

Peraturan tersebut mengharuskan bank untuk memiliki modal inti minimum bank umum sebesar Rp 1 triliun tahun ini, Rp 2 triliun pada 2021 dan minimal Rp 3 triliun tahun 2022. Dengan aturan tersebut, bank-bank dengan modal cekak harus mencari investor strategis untuk menyuntikkan modal.

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading