Kiamat Taper Tantrum, Rupiah Anjlok & Suku Bunga Meroket

Market - Maikel Jefriando, CNBC Indonesia
09 March 2021 11:18
In this Saturday, May 2, 2020, photo, rupiah coins are seen inside a donation box for animals at Medan Zoo which is affected by the new coronavirus outbreak at a collection point n Medan, North Sumatra, Indonesia. It has been more than a month since the zoo closed for visitors as part of efforts to stop the spread of the coronavirus. With no income to buy food for the animals, the management appealed for outside help. (AP Photo/Binsar Bakkara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Siapa sangka masa-masa indah penuh kemewahan orang kaya baru di Indonesia harus berakhir di 2013. Mimpi buruk yang menjadi nyata setelah pernyataan dari Pimpinan the Fed Ben S. Bernanke.

Berdasarkan informasi yang dihimpun CNBC Indonesia, Selasa (9/3/2021), kala itu, ekonomi Indonesia memang di atas angin. Tumbuh pada rata-rata di atas 6%, rupiah perkasa bahkan di level 8.000 per dolar AS, neraca transaksi berjalan surplus dan lonjakan harga komoditas. Kemewahan yang luar biasa seakan wajah Indonesia sebagai negara maju ada di depan mata.

Namun pada Juni 2013 Bernanke mengeluarkan pernyataan bombastis, yaitu the Fed segera memulai pengurangan pembelian obligasi.


Sontak pasar keuangan terguncang hebat, termasuk di Indonesia. Investor seperti kebingungan. Bergerak kesana kemari, ke luar masuk sambil terus mencari makna yang pasti dari pernyataan tersebut. Sampai akhirnya di September 2013, pasar dibuat lega dengan kepastian tappering benar akan terjadi tapi diundur sambil melihat perkembangan ekonomi AS.

Tapi itu tidak mengubah kenyataan kalau dana asing yang selama ini bertengger di banyak negara berkembang harus kembali ke pangkuan orang tuanya, negeri Paman Sam. Rupiah seketika anjlok melewati Rp 10.000 per dolar AS kemudian sampai ke Rp 12.000 per dolar AS.

Pantas banyak orang menyebut 'kiamat telah datang'. Anjloknya rupiah membuat harga barang impor ikut melonjak. Bayangkan, Indonesia di tengah pembangunan hebat membutuhkan bahan baku dan penolong dari negara lain. Kemudian korporasi dengan utang segunung dalam valuta asing. Belum lagi para orang kaya baru yang gemar mengkonsumsi barang branded. Banyak dari mereka yang terlibat mengibarkan bendera putih.

Pemerintah ada. Negara hadir tapi tekanan ini terlalu kuat. Pemerintah lewat Menteri Keuangan Chatib Basri sibuk membenahi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar defisitnya tidak melebihi 3% dari PDB.

Dulu ada persoalan yang namanya Bahan Bakar Minyak (BBM). Komoditas politik musiman. Selalu hadir setiap tahun, setiap kali ada kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Dibahas antara pemerintah dan DPR untuk menentukan BBM jenis premium dan solar naik atau tidak. Sekarang tentu dramanya sudah tidak ada karena berganti sistem.

Persoalan melebar ke inflasi yang diproyeksi bisa mencapai 9%. Ini artinya para bunda di rumah akan menjerit karena harga beras, cabai dan daging serta bumbu dapur ikut melonjak. Akhirnya pemerintah juga harus memikirkan nasib rakyat miskin yang terdampak. Untung ada jurus bernama Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Pemerintah juga menahan laju impor lewat berbagai kebijakan agar kebutuhan akan valas menjadi berkurang dan BI tidak kehabisan asupan karean keseringan berada di pasar.

Bank Indonesia (BI) tugasnya adalah menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah agar tetap stabil. Agus Martowardojo, yang baru saja dilantik sebagai Gubernur harus mengambil sikap dengan menaikkan suku bunga acuan 25 bps. Padahal jabatannya baru seusia jagung.

Agus sepertinya tak mau kompromi menahan inflasi dan laju nilai tukar. Bahkan di Agustus 2013, Agus Marto menggelar dua kali RDG dalam sebulan, dan memutuskan menaikkan lagi bunga acuan tepatnya pada 29 Agustus 2013 setelah pada Juli BI Rate telah naik 50 bps. Totalnya suku bunga dinaikkan sebesar 175 basis poin, dalam rentang 8 bulan.

Akhir dari kisah ini cukup baik. Regulator kembali punya kesempatan untuk mendorong ekonomi lebih tinggi. Layaknya orang Indonesia pada umumnya, ini kemudian menjadi evaluasi untuk melahirkan kebijakan yang lebih baik. Terutama tidak terlena ketika berada di atas angin.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading