Dolar AS Lagi Serem! Rupiah dan Mata Uang Asia Jeblok

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
08 March 2021 15:58
Dollar-Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah cukup tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (15/3/2021). Tidak hanya rupiah, mayoritas mata uang utama Asia juga jeblok melawan dolar AS yang sedang menakutkan.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan melemah 0,07% di RP 14.300/US$. Rupiah tidak sempat masuk ke zona hijau, pelemahannya bahkan terus membengkak hingga mengakhiri perdagangan di level Rp 14.350/US$, melemah 0,45% di pasar spot.

Meski pelemahan rupiah cukup besar, tetapi tidak termasuk 3 besar mata uang terburuk Asia hari ini. Beberapa mata uang Asia pelemahannya jauh lebih tajam. Hingga pukul 15:11 WIB, dolar Taiwan menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0,74%, disusul bath Thailand, dan ringgit Malaysia melengkapi tiga besar paling buruk.


Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia.

Stimulus fiskal di AS yang biasanya menekan dolar AS kini justru memberikan tenaga untuk menguat.

Senat AS pada akhir pekan lalu meloloskan stimulus fiskal jumbo senilai US$ 1,9 triliun yang diusulkan oleh Pemerintah di bawah komando Presiden Joseph 'Joe' Biden.

Hasil pemungutan suara atas paket stimulus itu menunjukkan hasil 50-49. Sebelumnya House of Representative (DPR) juga sudah menyetujui stimulus tersebut.

Setelah ini, Kongres yang dikuasai Partai Demokrat akan mengesahkan paket itu per Selasa (9/3/2021) waktu setempat. Kemudian akan dikirim ke Presiden Biden untuk ditandatangani sebelum batas waktu 14 Maret 2021 demi memperbarui program bantuan sebelumnya.

Sebagai gambaran, beleid itu meliputi bantuan langsung kepada masyarakat hingga US$ 1.400 (setara Rp 20,1 juta), bantuan pengangguran senilai US% 300 (setara Rp 4,3 juta), dan perluasan child tax kepada anak-anak selama satu tahun.

Dengan cairnya stimulus tersebut artinya jumlah uang yang beredar di perekonomian AS akan bertambah, dan secara teori dolar AS akan melemah. Tetapi nyatanya, dolar AS malah tambah kuat. Indeks dolar AS juga melesat sejak pekan lalu, dan sore ini berada di 92,136, level tertinggi sejak November 2020 lalu. Sebabnya, dengan cairnya stimulus tersebut maka laju pemulihan ekonomi AS akan terakselerasi, dan inflasi berisiko melesat.

Apalagi dengan pasar tenaga kerja yang terus menunjukkan penguatan. Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat pekan lalu melaporkan tingkat pengangguran turun menjadi 6,2% di bulan Februari dari sebelumnya 6,3%.

Kemudian perekrutan tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payroll) sebanyak 379.000 orang sepanjang Februari, jauh lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya 166.000 orang. Data tersebut menjadi indikasi perekonomian AS mulai menggeliat.

Selain itu, rata-rata gaji per jam juga naik 0,2% dari bulan Januari yang naik 0,1%.

Kenaikan rata-rata gaji per jam tentunya bisa meningkatkan konsumsi yang berpeluang mendorong inflasi.

Hal tersebut membuat yield Treasury, yang selama ini menekan rupiah, kembali naik. Hingga sore ini, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik 2,62 basis poin ke 1,5802%.

Kenaikan yield Treasury yang dipicu prospek pemulihan ekonomi AS serta kenaikan inflasi membuat pasar keuangan global kembali dihantui oleh tapering (pengurangan program pembelian aset atau quantitative easing) bank sentral AS atau The Fed yang dapat memicu taper tantrum.

"Jika pasar mulai percaya The Fed kehilangan kendali terhadap arah pasar obligasi, semua isu mengenai taper tantrum akan kembali muncul," kata Art Cahshin, direktur operasi di UBS, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (26/2/2021).

Taper tantrum pernah terjadi pada periode 2013-2015, saat itu indeks dolar AS melesat tajam. Alhasil, rupiah dan mata uang utama Asia lainnya jadi rontok.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading