20 Saham Langganan Bagi-bagi Dividen, Siapa Paling Royal?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
09 March 2021 08:17
FILE PHOTO: The logo of PT Adaro Energy as seen at PT Adaro Energy headquarters in Jakarta, Indonesia, October 20, 2017. REUTERS/Beawiharta/File Photo

Puradelta (DMAS)

Emiten kawasan industri DMAS dari Grup Sinarmas ini tercatat memiliki dividend yield paling tinggi per 2019 di antara penghuni IDX Hidiv 20 lainnya, yakni sebesar 14,19%.

DMAS rutin membagikan dividen perusahaan sejak resmi melantai di bursa pada akhir Mei 2015. Rerata yield dividend DMAS selama 5 tahun terakhir (2015-2019) sebesar 9,33%.


Terbaru, emiten pengelola kawasan Deltamas Cikarang Bekasi ini membagikan dividen interim kepada para pemegang saham untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2020 sebesar Rp 1,20 triliun atau Rp25/saham.

Dividen interim adalah dividen sementara (dari laba bersih) yang dibayarkan pada pemegang saham sebelum pembagian laba tahunan perusahaan dan ditetapkan dalam RUPS (rapat umum pemegang saham).

Hingga September 2020, laba perusahaan mencapai Rp 302,45 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 759,10 miliar. Pendapatan juga turun menjadi Rp 654,99 miliar dari sebelumnya Rp 1,27 triliun.

DMAS fokus pada bisnis real estate yang dimiliki sendiri atau disewa dan kawasan industri. Kegiatan usaha yang dijalankan perusahaan saat ini adalah meliputi pengembangan kawasan industri yang didukung dengan pembangunan perumahan dan komersial.

Perusahaan memulai usahanya secara komersial pada bulan April 2003. Kantor pusat perusahaan terletak di Jl. Kali Besar Barat No. 8 Kelurahan Roa Malaka, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, sedangkan proyek perusahaan berlokasi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Pemegang saham akhir perusahaan dan entitas anak adalah Sinarmas Land Limited yang berkedudukan di Singapura.

Entitas anak yang dikonsolidasikan adalah PT Pembangunan Deltamas (PDM) yang berlokasi di Cikarang dan bergerak dalam pengembangan perumahan dan pemilik Hotel Le Premier dengan proyek berlokasi di Cikarang.

Bukit Asam (PTBA)

Emiten batu bara PTBA menempati posisi kedua raihan dividend yield tertinggi pada 2019, dengan persentase 12,27%.

Sejak IPO pada 2002, emiten ini terhitung rajin membagikan dividen perusahaan tiap tahunnya. Dalam 5 tahun terakhir rata-rata yield dividen emiten batu bara pelat merah ini sebesar 8,36%.

PTBA membagikan dividen terakhir kali pada Juni tahun lalu, senilai Rp 3,65 triliun, sehingga pemegang saham menerima sebesar Rp 326,46/saham.Jumlah dividen tunai yang dibagikan ini merupakan 90% dari total laba bersih perusahaan tahun 2019 sebesar Rp 4,1 triliun.

Kabar terbaru, perusahaan baru saja mengumumkan penundaan pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Rapat ini semula diagendakan akan dilaksanakan pada 29 Maret 2021 menjadi 5 April 2021.

"Direksi Perseroan dengan ini menyampaikan informasi kepada pemegang saham Perseroan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan untuk Tahun Buku 2020 (Rapat) yang semula akan dilaksanakan pada tanggal 29 Maret 2021 diubah pelaksanaannya menjadi tanggal 5 April 2021," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Jumat (5/3/2021).

Dengan demikian, perusahaan akan menerima Usulan Mata Acara Rapat dari pemegang saham terakhir pada Jumat ini, 5 Maret.

Adapun tanggal daftar pemegang saham (recording date) yang memuat daftar pemegang saham yang berhak hadir dalam RUPST ini adalah pada 10 Maret 2021 dan pemanggilan rapat akan dilakukan pada 12 Maret 2021.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2020, PTBA berhasil meraih laba bersih Rp 1,73 triliun, turun 44,27% dari periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 3,1 triliun.

Raihan laba pada September tahun lalu tersebut didukung oleh efisiensi dan hasil kinerja operasional dengan volume produksi selama 19,4 juta ton dengan penjualan 18,6 juta ton dan pendapatan Rp 12,8 triliun.

Indo Tambangraya (ITMG)

Emiten batu bara lainnya, ITMG, menempati peringkat tiga dengan catatan dividend yield 11,11%. ITMG juga terkenal rajin membagikan dividennya. Terhitung sejak IPO pada Desember 2007, emiten ini rutin menebar dividen kepada pemegang saham tiap tahunnya.

Adapun rata-rata yield dividend ITMG selama 5 tahun terakhir sebesar 13,39%.

Paling baru, pada November tahun lalu, emiten yang mayoritas sahamnya dikuasai Banpu Minerals Pte Ltd asal Singapura ini membagikan dividen interim senilai Rp 336,64 miliar atau Rp 307 per saham dari laba bersih untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2020.

Pembagian dividen interim berasal dari saldo laba periode 30 Juni 2020. Pada periode tersebut, ITMG mencatat laba bersih Rp 427,34 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan 2020, laba bersih emiten pertambangan baru bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk(ITMG) melorot hingga 70% sepanjang tahun lalu di tengah pandemi Covid-19. Laba bersih ITMG tercatat US$ 39,47 juta atau setara dengan Rp 554 miliar (kurs Rp 14.000/US$).

Laba bersih tersebut ambles dari periode yang sama tahun 2019 yakni laba bersih US$ 129,47 juta atau setara dengan Rp 1,82 triliun.

Pendapatan ITMG juga ambruk 100% menjadi US$1,185 miliar atau setara dengan Rp 16,59 triliun, dari sebelumnya US$ 1,715 miliar atau sekitar Rp 24 triliun.

Pendapatan terbesar ITMG berasal dari penjualan batu bara pihak ketiga mencapai US$ 1,08 miliar turun tahun sebelumnya US$ 1,52 miliar. Kemudian pendapatan dari bahan bakar juga turun menjadi US$ 49,14 juta dari US$ 79,05 juta, serta pendapatan jasa melorot jadi US$ 2,72 juta dari US$ 3,75 juta.

"Sampai dengan tanggal laporan keuangan konsolidasian ini, terdapat penurunan kondisi ekonomi sebagai akibat wabah Covid-19, yang sangat mempengaruhi di antaranya permintaan global atas barang dan jasa serta komoditas mineral dan supply chain," kata manajemen ITMG, dalam laporan keuangannya.

Adaro (ADRO)

Seperti dua emiten batu bara di atas, ADRO juga tergolong emiten yang royal membagikan dividen. Per 2019, dividend yield emiten yang dikuasai oleh Garibaldi 'Boy' Thohir ini sebesar 6,98%.

ADRO diketahui rutin memberikan dividen pada pemegang saham sejak awal IPO pada Juli 2008. Selama kurun waktu 5 tahun belakangan ADRO membukukan yield dividen rata-rata sebesar 5,8%.

ADRO terakhir kali membagikan dividen pada Juni tahun lalu untuk tahun buku 2019. Dividen tersebut diambil dari laba bersih perusahaan pada 2019 yang tercatat sebesar US$ 404,19 juta, turun 3,24% dari tahun sebelumnya US$ 417,72 juta. Nilai laba bersih entitas induk tahun lalu itu setara dengan Rp 5,9 triliun (asumsi kurs Rp 14.700/US$).

Dari jumlah laba tersebut, perseroan akan membagikan dividen tunai kepada pemegang saham sebesar US$ 250,13 juta (setara Rp 3,7 triliun), atau dividen per saham sebesar US$ 0,00782/saham. Nilai itu setara 61,88% dari total laba bersih perseroan tahun 2019.

ADRO membukukan laba bersih tahun lalu US$ 146,93 juta atau setara dengan Rp 2,05 triliun (kurs Rp 14.000/US$) turun 63,64% dari US$ 404,19 juta atau Rp 5,65 triliun pada tahun sebelumnya.

Penurunan laba tersebut dibarengi dengan penurunan pendapatan sebesar 26,67% dari US$ 3,46 miliar atau Rp 48,40 triliun pada 2019 menjadi US$ 2,53 miliar atau Rp 35,49 triliun pada 2020.

HM Sampoerna (HMSP)

Emiten produsen rokok HMSP berada di peringkat kelima torehan yield dividend paling tinggi pada 2019, yakni 5,70%.

Emiten yang mayoritas sahamnya dikuasai PT Philip Morris Indonesia ini rajin menebar dividen, setidaknya sejak sekitar 19 tahun silam atau sejak 2002. Sementara, dalam 5 tahun terakhir, produsen rokok Dji Sam Soe ini membukukan yield dividen rata-rata 3,71%.

Adapun HMSP menebar dividen terakhir kali pada Juni tahun lalu, dengan total pembagian dividen Rp13,93 triliun atau sama dengan Rp 119,8/saham untuk kinerja keuangan 2019.

Per kuartal III 2020, emiten yang melantai di bursa pada Agustus 1990 ini mencatatkan laba bersih mencapai Rp 6,91 triliun, turun 32,25% dari periode yang sama tahun lalu Rp 10,20 triliun. Koreksi laba tersebut terjadi seiring dengan pendapatan yang juga menurun di periode Januari hingga September itu.

Pendapatan produsen rokok Dji Sam Soedan Sampoerna Mild ini turun 12,55% menjadi Rp 67,78 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 77,51 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading