Walaupun Stagnan Pekan ini, Harga CPO Masih Tetap Strong!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
07 March 2021 09:30
Ilustrasi kelapa sawit. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga komoditas minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia cenderung stagnan. Harga kontrak futures (berjangka) CPO pengiriman Mei yang aktif ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif tersebut minggu lalu ditutup di RM 3.742/ton dan kini di RM 3.741/ton. 

Kendati stagnan, harga CPO tetap kuat. Bahkan setelah mengalami beberapa gempuran dan ambles ke level RM 3.642/ton minggu ini, harga CPO tetap mampu bangkit. 

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan indeks harga minyak nabati di bulan Februari berada di rata-rata 147,4 poin. Indeks tersebut naik 8,6 poin (atau 6,2%) dari Januari dan menandai level tertinggi sejak April 2012.


Penguatan yang berkelanjutan mencerminkan penguatan harga minyak sawit, kedelai, rapeseed dan bunga matahari.

Harga minyak sawit internasional naik selama sembilan bulan berturut-turut di bulan Februari, dipicu oleh kekhawatiran atas tingkat persediaan yang rendah di negara-negara pengekspor terkemuka akibat rendahnya produksi.

Menurut Refinitiv Commodity Research, cuaca yang beragam membuat perkiraan produksi minyak sawit Malaysia pada 2020/21 tidak berubah pada 19,1 juta ton. Perlambatan curah hujan membuat perkiraan produksi Indonesia pada tahun 2020/21 mencapai 46,0 juta ton.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan perkiraan Dewan Minyak Sawit Malaysia yang memperkirakan produksi bakal naik 19,6 juta ton tahun ini.

Sementara perkiraan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) meramal produksi CPO di tahun 2021 naik 3,5% (yoy) menjadi 49 juta ton dari realisasi tahun lalu yang hanya sebanyak 47,4 juta ton.

Masih di dalam negeri, BUMN energi, PT Pertamina (Persero), telah menetapkan target untuk memulai produksi diesel hijau dan bahan bakar turbin penerbangan hijau (avtur) di kilang Cilacap pada akhir 2021.

"Pengembangan green energy merupakan implementasi dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan memaksimalkan potensi pasokan minyak sawit yang melimpah sebagai sumber energi terbarukan," kata Corporate Secretary Subholding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional Ifki Sukarya.

Kilang hijau yang berlokasi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah tersebut memiliki kapasitas produksi tiga ribu barel solar hijau per hari dan enam ribu barel per hari untuk jenis avtur.

Pada Januari 2021, Pertamina telah menguji produksi green diesel yang menggunakan Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO). 

Melansir Reuters, Pertamina akan melakukan pengembangan green diesel dan green avtur dalam dua tahap. Pertama, akan mengolah tiga ribu barel RBDPO per hari untuk menghasilkan green diesel mulai Desember. Tahap kedua, Pertamina akan mengolah enam ribu barel CPO per hari menjadi green avtur mulai Desember 2022 akhir.

Pada April 2020, Pertamina sudah mulai memproduksi green bensin di green refinery di Plaju, Sumatera Selatan, dengan tingkat oktan sama dengan Pertamax.

Pengembangan green refinery Pertamina ini diharapkan bakal memberi dampak ganda berupa peningkatan nilai ekonomi minyak sawit di Indonesia dan menekan impor bahan bakar fosil mentah yang selama ini membuat neraca dagang, transaksi berjalan hingga nilai tukar rupiah tekor. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading