Mata Uang Komoditas Diramal Sikat Dolar AS, Rupiah Termasuk?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
05 March 2021 18:30
FILE PHOTO: A U.S. Dollar note is seen in this June 22, 2017 illustration photo.   REUTERS/Thomas White

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) sedang kuat lagi belakangan ini, mengikuti kenaikan yield obligasi (Treasury) Negeri Paman Sam.

Kemarin, yield Treasury tenor 10 tahun naik 8,01 basis poin ke 1,5484%. Level tersebut merupakan penutupan perdagangan tertinggi di tahun ini, dan sejak Februari 2020 lalu.

Pada Kamis pekan lalu, yield ini memang sempat menembus level 1,6%, tetapi setelahnya terpangkas dan mengakhiri perdagangan di 1,5150%


Pada hari ini, Jumat (5/3/2021), yield tersebut masih berada di atas 1,54%. Kenaikan yield Treasury yang dipicu prospek pemulihan ekonomi AS serta kenaikan inflasi membuat pasar keuangan global kembali dihantui oleh tapering (pengurangan program pembelian aset atau quantitative easing) bank sentral AS atau The Fed yang dapat memicu taper tantrum.

"Jika pasar mulai percaya The Fed kehilangan kendali terhadap arah pasar obligasi, semua isu mengenai taper tantrum akan kembali muncul," kata Art Cahshin, direktur operasi di UBS, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (26/2/2021).

Taper tantrum pernah terjadi pada periode 2013-2015, saat itu indeks dolar AS melesat tajam. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut sejak pekan lalu juga telah merangkak naik.

Hari ini saja penguatan tercatat 0,3% di 92,392, yang merupakan level tertinggi dalam 3 bulan terakhir. Sepanjang tahun ini, indeks dolar AS sudah menguat 2,2%.

Kenaikan yield Treasury serta penguatan dolar AS akibat prospek pemulihan ekonomi serta kenaikan inflasi, atau yang disebut reflation trade ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, berdasarkan hasil survei Reuters yang dilakukan pada 1 sampai 3 Maret lalu, terhadap 70 analis valuta asing.

Sebanyak 29% di antaranya memprediksi reflation trade masih akan terjadi kurang 6 bulan ke depan, 26% melihat kurang 3 bulan ke depan, kemudian 14% kurang dari 1 bulan, dan 9% menyatakan hal tersebut sudah berakhir. Sebanyak 22% memperkirakan reflation trade akan berlangsung lebih dari 6 bulan.

idrFoto: Refinitiv

Artinya, dari total analis tersebut, mayoritas melihat reflation trade akan berlangsung kurang dari 3 bulan ke depan.

Namun, hasil survei yang sama menunjukkan dolar AS diprediksi masih akan melemah di tahun 2021. Dalam 3 bulan ke depan, sebanyak 60% memprediksi mata uang komoditas akan menguat melawan dolar AS. 21% melihat mata uang negara maju yang akan menguat, dan sisanya memprediksi mata uang emerging market.

Mata uang komoditas merupakan mata uang yang pergerakannya mengikuti harga komoditas. Hal tersebut terjadi akibat negara pemilik mata uang tersebut sangat tergantung dari ekspor komoditas sebagai pendapatan negara.

Melansir Investopedia, ada 6 mata uang yang pergerakannya sensitif terhadap harga komoditas, yakni dolar Kanada, Dolar Australia, dolar Selandia Baru, Ruble Rusia, real Brasil, dan Arab Saudi.

Indonesia memiliki komoditas ekspor andalan semacam batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), tetapi pergerakan rupiah tidak atau kurang sensitif terhadap pergerakan komoditas. Sehingga belum masuk kategori mata uang komoditas. Beberapa negara lainnya, seperti Venezuela juga belum termasuk mata uang komoditas.

Pun, dari 6 mata uang komoditas, hanya dolar Kanada, dolar Australia, dan dolar Selandia Baru yang pergerakannya paling sensitif, sementara tiga lainnya masih dikatakan kurang.

Hasil survei Reuters juga menunjukkan ketika dolar tersebut yang berpeluang menguat melawan dolar AS dalam 3 bulan ke depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading