Newsletter

Mohon Maaf, IHSG-Rupiah-SBN Sepertinya Bakal Babak Belur!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
05 March 2021 06:30
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia merah membara pada perdagangan Kamis kemarin. Sentimen pelaku pasar yang memburuk akibat kenaikan yield obligasi diberbagai negara memicu kemerosotan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rupiah, dan Surat Berharga Negara (SBN).

Nasib IHSG, rupiah, dan SBN sepertinya belum akan membaik pada perdagangan hari ini, Jumat (5/3/2021), bahkan kemungkinan akan lebih parah. Sebab sentimen negatif dari eksternal sedang menghantam. Sentimen negatif tersebut akan dibahas di halaman 3 dan 4.


IHSG kemarin merosot 1,34% ke 6.290,799, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 353 miliar di pasar reguler, dengan nilai transaksi mencapai Rp 14,4 triliun.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun perdagangan Rabu waktu menguat 5,54 basis poin ke 1,4704%, sebelumnya bahkan sempat menyentuh level 1,498%. Sementara Kamis kemarin kembali melesat ke atas 1,5%.

Posisi yield ini masih berada di level tertinggi sejak Februari 2020, atau sebelum virus corona dinyatakan sebagai pandemi dan sebelum bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membabat habis suku bunganya menjadi 0,25%.

Pada pekan lalu, yield Treasury tenor 10 tahun ini bahkan mencapai 1,6%.

Selain membuat sentimen pelaku pasar yang memburuk, kenaikan yield tersebut juga berisiko memicu capital outflow di pasar obligasi Indonesia, sebab selisih yield dengan Surat Berharga Negara (SBN) menjadi menyempit.

Mayoritas harga SBN melemah pada perdagangan Kamis kemarin yang tercermin dari kenaikan yield-nya. Hanya SBN tenor 25 dan 30 tahun yang mengalami penguatan

Pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika harga turun maka yield akan naik, sementara ketika harga naik maka yield akan turun.
Saat harga turun, artinya sedang terjadi aksi jual.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan asing atas obligasi Indonesia terus mengalami penurunan semenjak yield Treasury mengalami kenaikan tajam.

Pada 16 Februari lalu, kepemilikan asing atas obligasi Indonesia mencapai Rp 992,91 triliun, sementara pada 1 Maret lalu sebesar Rp 967,97 triliun. Artinya terjadi capital outflow dari pasar obligasi nyaris 25 triliun selama periode tersebut.

Kenaikan yield treasury membuat sentimen pelaku pasar memburuk dan memicu capital outflow di pasar obligasi. Dua hal tersebut menjadi pukulan bagi rupiah hingga akhirnya melemah 0,14% melawan dolar AS ke Rp 14.260/US$ kemarin.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Aksi Jual Berlanjut, Wall Street Ambrol Hingga Nasdaq Negatif Tahun Ini

Aksi Jual Berlanjut, Wall Street Ambrol Hingga Nasdaq Negatif Tahun Ini
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading