Yield Obligasi AS Naik Tinggi, Harga SBN Sepekan Melemah

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
27 February 2021 21:07
US Treasury, Bond, Obligasi (Ilustrasi Obligasi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi pemerintah sepekan ini mayoritas melemah, sebagaimana terlihat dari kenaikan imbal hasilnya (yield) yang mengindikasikan investor masih cenderung melepas aset safe haven tersebut, di tengah kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) pada pekan ini.

Yield obligasi pemerintah AS (US Treasury Bond) memang sedang di level tertingginya sepanjang pekan ini, di mana yield Treasury acuan (Benchmark) tenor 10 tahun sempat menyentuh level 1,6%.


Sepanjang tahun berjalan, yield obligasi acuan itu telah naik lebih dari 50 bp atau setara dengan 0,5%. Kenaikan obligasi 10 tahun ini bakal memicu lonjakan beban bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan mobil/motor (KPM) di AS.

Beralih ke pasar obligasi dalam negeri, hampir seluruh SBN berbagai tenor pada pekan ini mencatatkan kenaikan yield, namun di beberapa tenor SBN tercatat mengalami penurunan yield.

Penurunan yield yang terbesar terjadi di obligasi pemerintah tenor 30 tahun berkode FR0089 yang turun 5,7 basis poin (bp) menjadi 4,823%.

Sementara itu, yield SBN benchmark 10 tahun juga turun sebesar 0,1 bp ke level 6,598%. Padahal pada perdagangan Jumat (26/2/2021) akhir pekan ini, yield SBN acuan tersebut ditutup naik 5,5 bp.

Obligasi pemerintah merupakan aset pendapatan tetap yang seringkali dinilai sebagai aset safe haven. Ia diburu ketika pelaku pasar merasa kondisi ekonomi sedang buruk, dan sebaliknya ditinggalkan ketika investor berani masuk ke bursa saham karena ekonomi dinilai aman.

Jadi, kenaikan yield Treasury AS dan SBN belakangan ini dipicu oleh optimisme pasar akan pemulihan ekonomi global karena sudah berjalannya vaksinasi corona secara masif. Hal ini dibuktikan juga dengan menurunnya kasus aktif virus corona di beberapa negara.

Imbal hasil yang tinggi juga mendorong investor untuk berpindah dari saham ke obligasi. Sebagai perbandingan imbal hasil dividen (dividen yield) indeks S&P 50-yang premi risikonya lebih tinggi dari obligasi-kini berada di level 1,47% atau kalah dari yield SBN 10 tahun (1,5%).

"Jika melihat yield riil, mereka terlalu rendah jika mempertimbangkan ekspektasi pertumbuhan dan sepertinya yield riil dalam jangka panjang akan terus menguat seiring dengan membaiknya data ekonomi," tutur Charlie Ripley, perencana investasi senior Allianz Investment Management, sebagaimana dikutip CNBC International.

Kenaikan yield itu juga terjadi di tengah ekspektasi bahwa ekonomi AS akan membaik di tengah vaksinasi dan kucuran stimulus fiskal US$ 1,9 triliun. Partai Demokrat sejauh ini berjuang untuk meloloskan stimulus tersebut, yang dibarengi kenaikan upah minimum sebesar US$ 15/pekerja.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading