Kabar Buruk Berhembus dari AS, Emas Kayanya Makin Longsor

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
27 February 2021 12:59
FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan pekan ini tidak menggembirakan bagi emas. Di mana harga emas dunia kembali ambles sepanjang pekan ini, melanjutkan pelemahan dari dua pekan sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (26/2/2021) akhir pekan ini, harga logam mulia ini merosot 2,06% ke level US$ 1.733,49/troy ons. Sedangkan selama sepekan terakhir, harga emas sudah ambles hingga 2,7%.


Penyebab harga emas dunia kembali terpuruk adalah dari kenaikan yield surat utang pemerintah AS. Sepanjang pekan ini, yield obligasi AS untuk tenor 10 tahun yang sering jadi acuan, imbal hasil nominalnya sudah menyentuh 1,5%, Bahkan hingga 1,6%. Padahal di penghujung tahun 2020, imbal hasilnya masih di bawah 1%.

Kenaikan pesat dalam waktu singkat ini diakibatkan karena pelaku pasar mulai mengantisipasi prospek pemulihan ekonomi dan potensi tingginya inflasi. Sehingga mereka meminta kompensasi dengan kenaikan imbal hasil.

The Fed masih akan mempertahankan stance kebijakan moneter longgarnya. Bak sentral akan menahan suku bunga acuan di level yang rendah dan memompa likuiditas melalui program pembelian obligasi senilai US$ 120 miliar per bulan.

Ini mmebuat dolar AS tertekan dan emas sulit menjadi primadona. Padahal secara teori, kondisi tersebut harusnya menguntungkan emas.

Berbeda dengan mata uang fiat yang bisa dicetak kapanpun dan berapapun jumlahnya oleh bank sentral, emas merupakan komoditas yang harus ditambang dari perut bumi. Pasokannya relatif stabil sehingga digunakan sebagai aset lindung nilai (hedging).

Namun minat investor untuk memegang emas sangat tergantung pada biaya peluangnya (opportunity cost). Sebagai aset yang tak memberi imbal hasil layaknya dividen pada saham dan kupon pada obligasi emas cenderung diuntungkan ketika imbal hasil surat utang yang juga aset safe haven berada di posisi yang sangat rendah.

Namun kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor acuan 10 tahun yang mencapai 1,5% dan bahkan lebih tinggi dari imbal hasil dividen S&P 500 membuat emas menjadi kurang menarik di mata investor. Itulah mengapa harga emas terus tertekan belakangan ini.

Apabila tren kenaikan imbal hasil obligasi ini terus berlanjut hingga beberapa waktu ke depan, maka bisa mungkin terjadi harga emas akan semakin tertekan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading