Batu Bara Lagi Drop tapi Sahamnya Naik, Gegara Royalti 0%?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
23 February 2021 10:30
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara mengalami koreksi pada perdagangan kemarin, Senin (22/2/2021). Harga kontrak futures (berjangka) batu bara ICE Newcastle turun 0,38% ke US$ 78,7/ton.

Di akhir bulan Januari, harga kontrak futures (berjangka) batu bara ICE Newcastle sempat melesat ke posisi tertingginya hampir dalam dua tahun terakhir ke level US$ 91/ton. Namun setelah itu harga batu bara cenderung melorot.


Pergerakan harga batu bara memang cenderung ditopang oleh faktor musiman juga. Ketika musim dingin datang, kebutuhan akan penghangat ruangan dan listrik meningkat. Di situlah permintaan batu bara terkerek naik, begitu juga harganya.

Namun jelang berakhirnya musim dingin, terutama di China sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia, harga batu bara cenderung tertekan.

"Puncak permintaan musim dingin sudah berlalu. Sekarang permintaan batu bara mulai melandai," sebut Toby Hassall, Analis Refinitiv.

Rata-rata harga batu bara untuk tahun ini diperkirakan masih bakal lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan batu bara dunia tahun ini akan naik 2,6% dibanding tahun lalu. Namun selepas itu, sepertinya prospek batu bara tidak terlampau cerah.

EIA memprediksi permintaan batu bara dunia pada 2022-2025 akan stagnan di kisaran 7,4 miliar ton. Lambat laun, energi baru dan terbarukan akan mengambil tempat.

"Energi terbarukan sudah berada di jalur yang benar untuk menggantikan batu bara sebagai sumber energi pembangkit listrik pada 2025. Pada saat itu, penggunaan gas alam juga kami perkirakan sudah melampaui batu bara.

"Namun permintaan batu bara tetap akan tinggi, terutama di Asia. Dalam waktu dekat, belum ada tanda-tanda batu bara akan hilang sama sekali," jelas Keisuke Sadamori, Direktur IEA.

Ya, berbeda dengan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa, permintaan terhadap sumber energi primer yang murah ini masih kuat. India dan China masih menjadi pasar terbesar yang menyerap pasokan batu bara dengan jumlah yang signifikan.

Dari dalam negeri, pemerintah masih menebar insentif. Di sektor pertambangan batu bara pemerintah akan memberikan insentif berupa royalti nol persen untuk batu bara yang digunakan dalam proses hilirisasi. 

Proyek hilirisasi batu bara tengah digarap di dalam negeri lebih ke konversi batu bara menjadi DME dan metanol. Ada beberapa perusahaan swasta maupun BUMN yang ikut berpartisipasi dalam proyek tersebut. 

Pertama ada proyek gasifikasi batu bara menjadi DME oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) dan Air Product.

Proyek tersebut mulai akan beroperasi komersial pada 2025 dengan menggunakan pasokan batu bara PTBA sebanyak 6,5 juta ton yang bakal dikonversi menjadi 1,5 juta ton DME.

Kemudian di pihak swasta ada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang juga turut berpatisipasi. Lewat PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin, BUMI akan memanfaatkan 6-6,5 juta ton batu baranya untuk dikonversi menjadi metanol.

Ada pula emiten tambang batu bara milik Garibaldy (Boy) Thohir yakni PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang juga akan memanfaatkan 1,3 juta ton batu baranya untuk dikonversi menjadi 660 ribu ton metanol.

Estimasi operasi komersial (COD) hilirisasi batu bara BUMI dan ADRO akan dimula di tahun 2025. Sama seperti PTBA. Kemudian untuk skala proyek pilot ada PT Kideco Jaya Agung di bawah emiten PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Indominco di bawah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) serta PT Medco Energi Mining Indonesia (MEIM) Phoenix Energi Ltd yang menggarap proyek underground gassification.

Pembarian royalti sebesar nol persen ini ditujukan agar proyek hilirisasi batu bara bisa berjalan dengan skala keekonmian yang menarik. Pembebasan royalti juga akan menjadi katalis positif untuk sektor tambang batu bara mengingat nilainya berkontribusi lebih dari 10% dari biaya tambang (cash cost).

Harga saham-saham emiten tambang batu bara pun terbang kemarin. Namun pada perdagangan hari ini, harga saham batu bara cenderung bergerak variatif (mixed) di awal perdagangan. 

Saham raksasa batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) berhasil menguat masing-masing 0,4% dan 1,3%. Saham emiten tambang batu bara lain yang menguat adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan apresiasi 1,2%. 

Sementara itu saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) justru mengalami koreksi di awal perdagangan. Namun koreksinya tipis saja yakni 0,2%. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading